Hujan, Lagi Dia Mempertemukan Kita di Sebuah Senja
Lagi sore ini hujan. Yaa, aku masih mengingat kenangan itu. pertemuan pertama kita, pertemuan singkat itu. kali pertama aku melihat senyumanmu. Sore ini aku terjebak dalam sebuah cafe dangan beberapa orang yang aku kenal ya mereka temanku, kami baru saja pulang dari rutinitas harian kami. Dengan seragam kebanggaan kami putih abu-abu.
Aku melihat seseorang dari kejauhan seseorang yang sepertinya aku kenal ya sepertinya itu kamu, kamu yang ku temui 2 minggu yang lalu di sebuah senja yang hujan. Aku terus mengamati sosok itu, yaa setiap gerak geriknya yang masih bisa ku jumpai terus berusaha aku ikuti dan aku berharap bahwa itu adalah kamu seseorang yang paling ingin aku temui saat ini setelah pertemuan kita saat itu.
Sosok itu, menaiki sebuah panggung yang terletak di sudut ruang cafe membawa gitar cokelat yang terlihat anggun. Dia duduk disebuah kursi dan menaikkan sebelah kakinya ke bawah penyangga kursi itu. ya dia terlihat keren, dan aku masih berharap itu kamu. Aku segera memasang kaca mataku yang baru saja aku keluarkan dari dalam kotaknya. Dan, aku menjumpai wajahmu disana, aku menjumpai lagi senyuman itu, aku menjumpai lagi sosokmu.
Kamu memainkan gitar coklat itu, mengiringi seorang gadis yang sedang bernyanyi yang usianya mungkin seumuran denganku. Suara gadis itu mengalun dengan lembut bersama iringan dari permainan gitarmu yang sangat indah. Ya kamu mahir kamu mahir melakukan hal itu. kamu mahir memainkan gitarmu dan kamu juga mahir menarik perhatianku.Lagi untuk kedua kalinya kamu membuatku memperhatikanmu.
Pandangaku tak lepas dari dirimu, kamu tersenyum dan aku suka itu, ya aku menyukai senyumanmu sejak pertemuan singkat pertama kita itu. Sejak pertemuan itu. dan kamu membuat aku semakin mengagumimu. Tahukah kamu bahwa kau menyukai gitar dan seseorang yang bisa memainkannya sepertimu.
Dan, kamu selesai memainkan beberapa lagu dengan gitarmu itu. kamu kembali duduk di tempatmu tadi, yaa aku mengamati setiap gerakmu disana. Aku melihat kamu tersenyum senang, sepertinya kamu puas dengan permainanmu tadi, begitupun juga aku puas memperhatikanmu dari tempat dudukku.
Tapi ada yang membuat hatiku sedikit teriris, dan benakku bertanya-tanya, siapa dia gadis yang bernyanyi bersamamu tadi? Kamu mengusap kepalanya tadi dan senyuman kalian saling bebrbalas satu sama lain. Siapa dia? Siapa gadis itu? mungkinkah dia pacarmu? Tapi aku lebih berharap jika dia adalah adikmu. Ya adikmu. Semoga.
Aku memutuskan untuk pergi ke toilet, ya sebenarnya ini hanya sebuah modus saja. Jalan ke toilet itu melewati tempatmu duduk sekarang, dan aku berharap kamu melihatku dan masih mengenali aku. Aku berjalan kesana dan aku tak menemuimu disana, kamu dimana, aku kehilangan jejakmu. Perasaanku mulai kacau. Kamu menghilang dari pandanganku menghilang dari pengamatanku.
Aku tetap meneruskan tujuanku ke toilet tadi dengan perasaan sedikit kecewa, sepertinya hari ini aku belum beruntung, aku masih belum bisa tau namamu. Aku kembali dari toilet tapi aku melihat sepertinya ada pemandangan menarik di lorong depan toilet itu. dan aku memutuskan berjalan kesana. Ada sebuah taman di belakang cafe itu ya itu seperti tempat terbuka cafe itu, tapi saat itu sedang hujan jadi aku tak menemukan seorangpun disana. Aku berdiri memandangi taman itu saat hujan, ya terlihat indah walaupun sebenarnya hujan menyebalkan walupun dia memiliki kenangan.
Tiba-tiba seseorang berdiri tepat dibelakangku. “ masih gak suka sama hujan” suara itu membuyarkan lamunanku, aku sepertinya mengenal suara dan pertanyaan itu. aku menoleh ke sumber suara itu. dan aku menemukan sosok itu, aku menemukan kamu berdiri diposisi yang hampir sama saat pertemuan pertama kita di senja itu.
Kamu berjalan bergerak menuju arahku dan berdiri tepat di sampingku. Ya di sampingku. Kamu tau saat itu jantungku berdetak kencang dan nafasku terasa sesak tapi aku berusaha untuk menahannya agar kamu tidak menyadari bahwa aku grogi saat itu. “ lo” dia tersenyum mendengar jawabanku, senyumnya sangat manis dan aku suka itu. “ iya gue, lo udah liat gue kan tadi” aku tersenyum kepadamu “lo masih gak suka sama hujan?” kamu mengulangi pertanyaan itu lagi, sepertinya kamu sangat menanti jawabanku tentang perasaanku terhadap hujan. “lumayan” “ lumayan, berarti lo suka hujan dong?” “ gak juga” “ lalu kenapa lumayan” “ yaa ada reasonlah yang buat hujan jadi lumayan buat gue” “ pasti gue ya” kamu mengatakan itu dengan pedenya. Perasaanku sempat tak karuan saat itu, kamu menebak dengan benar. “ gara-gara lo?” “ haha, becanda gue” hey kamu mengucapkan itu sambil mengusap kepalaku, dan jantungu kembali berdetak sengat kencang. ya kamu memang sangat mudah jika ingin memegang kepalaku karena saat berdiri aku hanya dapat mencapai pundakmu saja.
“ kita belum kenalan kan?” kamu berkata seperti itu, kamu tau hal itu yang sangat aku inginkan. Aku sangat ingin mengetahui namammu, aku sangat ingin kamu juga tahu namaku. Kamu mengulurkan tanganmu padaku dan aku menyambut tangan itu “ gue fajar” ucapmu lembut, “ gue galuh” aku menyebutkan namamku dan kamu tersenyum. Hey lagi kita berdua berada di atap yang sama, ya hanya kita berdua. Suasana mulai hangat dan udara terasa dingin, hujan semakin deras mengguyur, rintik-rintiknya jatuh dan membasahi tanah-tanah yang tadi memang sudah basah.
“ lo SMA?” pertanyaanmu kembali mebuat keadaaan membaik daripada tadi saat kita hanya diam saja. “ iyalah, ini gue pakenya putih abu-abu emangnya lo kira apa?” “gue pikir lo masih SMP, soalnya badan lo pendek banget” kamu berucap sembari tertawa,keningku mengkerut, kamu sepertinya mengajakku bercanda untuk menghangatkan suasana saat itu, “ gue pendek, lo tu kelebihan hormon makanya badan lo tnggi kayak tiang listrik” “ haha, gue becanda tau, jangan marah dong adik manis” kamu meanggilku adik manis, sepertinya kamu memang jauh lebih tua dariku “ lo kuliah?” “ yap, anda benar?” “di” “seni musik, stis” “ seni? Semester berapa?” “ baru semester 3” kamu anak seni, dan aku suka itu, aku suka. Lama kita bersama, dan hujanpun akhirnya sudah bosan untuk berjatuhan, aku melihat ke arah jam tanganmu dan waktu menunjukan pukul 17.30, yaa sepertinya aku sudah terlalu sore untuk tetap berada di luar rumah.
Dan dengan terpaksa aku mengakhiri perjumpaan kita sore itu karena bunda pasti akan marah karena kau terlambat untuk pulang kerumah. Aku beranjak pergi dari tempat itu, kamu memberi senyuman tanda perpisahan di pertemuan kita saat itu, ya senyuman yang sangat aku suka. Dan aku berlalu pergi meninggalkan cafe itu dengan sebuah senyuman yang berkembang dan lagi sebuah kenangan yang tercipta di sepotong hujan saat senja.










