“Why am I even still writing
Stuff like this about you
You fucking left me I should
Forget you but I can’t
Because I love you too damn
Much and it sucks because
You don’t love me back”
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from Japan

seen from Australia
seen from South Korea

seen from Australia

seen from Japan

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Japan

seen from United States
“Why am I even still writing
Stuff like this about you
You fucking left me I should
Forget you but I can’t
Because I love you too damn
Much and it sucks because
You don’t love me back”
Hujan dan Senja
Aku selalu suka hujan dan senja. Dua hal yang selalu bisa mengantarkanku pada dirimu, Pada semua cerita yang kamu bagian denganku, Pada semua hal yang selalu aku bagi kepadamu.
Orang bilang kita selalu terlihat seperti pasangan yang sedang kasmaran. Biarlah orang mau menganggap kita ini apa katamu. Yang kita tahu, selalu ada batas disetiap pertemuan yang kita jumpai, Meski hati ini selalu berkata lain, dan kita selalu mengakhirinya dengan kata sampai jumpa di lain waktu.
aaaahhh aku selalu suka hujan dan senja....
Bandung, 07 Februari 2019 -NM-
Senja dan Hujan Bagiku
Perihal senja, @catatanpluviophile
Aku tidak terlalu memahami mengenai fenomena ini. Filosofi yang dikandung dalam peristiwa ini. Aku hanya paham, kala senja muncul matahari akan tergantikan bulan. Siang akan tergantikan malam. Aku bertanya tanya–pada diriku sendiri dan kepada dirimu– apakah senja itu selalu harus menggantikan?
Karena bagiku, senja adalah titik temu dua kejadian yang berlawanan dan bertolak belakang, sekaligus titik pisah bagi keduanya. Siang dan malam, saling bertemu di kala senja hanya untuk saling melewatkan. Matahari dan bulan, saling bertatapan di kala senja hanya untuk saling menggantikan.
Jingga di kala senja, aku menyukai bagian ini. Jingga senja seakan melukis angkasa dengan ketabahannya yang menjadi penyatu sekaligus pemisah. Seperti menggambarkan kerisauan, risau terhadap keterbatasan waktu yang ia miliki. Acapkali senja menjadikan lautan sebagai pelampiasan,meluapkan risau jingganya kepada laut. Tentu saja itu memikat para penikmat laut dan pecinta senja.
Aku tau penilaianku ini subjektif, aku tidak mengingkarinya. Jadi bagi kamu pecinta senja, jelaskan kepadaku apa makna senja yang sesungguhnya, sehingga aku juga mampu menatap sisi positif dari senja yang kau cintai.
**********
Perihal hujan, @eunheesa
Yang aku tahu, hujan jatuh dengan sangat patuh. Tidak perduli jika ada yang tidak menyukai kehadirannya, tidak perduli ada yang tidak suka basah karenanya. Hujan dan kenangan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, katanya.
Hujan adalah simbol ketulusan, ketabahan dan penerimaan. Hujan menyimpan banyak airmata mereka yang menangis dibawah jatuhnya. Hujan menemani tiap-tiap diri ketika mengantarkan seseorang pergi, itu kenyataan yang aku terima.
Katamu, bunyi hujan bisa membuat tenang. Wangi hujan bisa membuat hati lapang. Benarkah? Mengapa aku tidak merasakan hal yang sama?
Kamu suka menikmati hujan dari tepi tempatmu berdiri, mungkin sambil mengadahkan tangan dan membiarkan tiap rintiknya jatuh luruh ditanganmu. Sedang aku lebih menikmati basah, membiarkan hujan membasahiku mungkin juga membasahi perasaanku.
Tapi ada kalanya aku tidak menyukai hujan. Ketika hujan menyapa dengan langit kelamnya dan petir yang memekakan telinga. Adakah rindu yang tersimpan disana? Tidak ada. Kala itu, hujan membuatku takut.
************
Diluar itu semua, Allah Maha Romantis menciptakan keduanya, hujan dan senja.
#Hujan Kali Ini
Kamu, entah di mana
Menerawang keberadaanmu saja sepertinya aku tak bisa,,
Kamu, kamu di mana..
Kamu gak jelas, kamu gak ada kabar..
Aku rindu kamu....
Kamu tau gak hari ini hujan,
dan aku merindukan kamu seperti saat hujan-hujan hari kemarin ,
kamu tau gak, sejak kenal kamu, sedikit demi sedikit aku mulai suka hujan, gak kayak dulu lagi
ya walaupun hujan masih sering membuat kepalaku sakit, tapi aku tetap suka hujan
kamu tau gak alasannya?
kamu,
ya, kamu alasannya.
Kamu yang jadi alasan kenapa aku bisa suka sama hujan,
Kamu yang jadi alasan kenapa aku mau-mau aja hujan-hujanan demi dapat momen sama kamu walaupun abis itu aku pasti sakit,
Semuanya karena kamu..
Karena hujan aku ketemu sama kamu,
Hujan juga yang buat kita saling kenal,
Ya hujan, dia punya cerita tentang kamu yang selalu ada di pikiran aku,
Dia punya cerita tentang kita,
Tentang aku dan kamu...
Terima Kasih Hujan
Oleh Asna Sri Hartati
Hujan, ya karena dia kita ketemu.
Dia kasi aku kebahagiaan.
Dia kasi aku waktu buat bisa kenalan sama kamu,
Dia juga yang kasih aku kesempatan buat bisa dekat sama kamu.
Dia juga yang buat aku sama kamu sekarang bisa jadi kita.
Hujan baik yaa, aku suka hujan. Aku suka karena kamu.
Aku suka hujan dan semua kenangan yang pernah dia ciptakan.
Aku suka hujan dan cerita yang terangkai bersamanya.
Setiap hujan aku selalu ingat semuanya, semua kisah kita.
Aku selalu ingat wajah kamu,
aku selalu ingat gimana senyuman kamu.
Aku selalu ingat gimana pertama kalinya kita ketemu..
Yang kedua
Dan juga yang ketiga....
Setiap hujan aku selalu berterima kasih, karena dia aku bisa kenal kamu
Walaupun kamu tau sebelumnya aku gak suka hujan,
Tapi hujan berjasa, sangat berjasa buat aku karena di kita ketemu,
Aku suka hujan sekarang,
aku suka cara dia membuat kita bersama di setiap pertemuan kita.
Aku juga suka cara hujan membuatmu mulai menghangatkan suasana waktu kita lagi sama-sama
Terima kasih hujan, terima kasih untuk waktu dan cerita yang kamu buat
Terima kasih untuk dia yang sudah kamu kenalkan padaku
Terima kasih untuk dia yang sekarang sudah bersamaku
Terima kasih untuk semua caramu membuat kami bisa bersama
Terima kasih hujan...
Kita dalam sebuah senja yang sama
Kita, ya kamu dan aku, lagi bertemu dalam sebuah senja yang sama. Senyumanmu manis dan mengarah padaku. Kamu tahu, saat kamu tersenyum jantungku berdetak jauh labih kencang dari biasanya. Aku suka senyumanmu.
Lagi, kamu senja ini berjalan dengan gitar di punggungmu. Kamu mengajakku pergi entah kemana aku sih mau saja asalkan bersama kamu, kamu membuatku merasa aman, entah mengapa akupun tak tau. Padahal kita belum lama saling mengenal. Kita berhenti di sebuah taman, terdapat sebuah kursi cukup panjang, yaa cukup untuk tiga hinga empat orang. Kau mengajakku duduk di sana menghadap sebuah danau yang cukup luas berada sekitar 20 meter dari kursi itu, terlihat orang-orang berjalan dengan wajah gembira mereka. Ya kita duduk tapi kita saling diam. Kamu diam aku diam kita tak saling memulai pembicaraan. Kita tak saling menegur satu dan yang lainnya, kamu asik dengan gitar yang kini berada di tanganmu, kamu mulai memainkan sebuah nada, memetik senar gitar itu hingga mengalun dengan sangat indahnya. Aku terus memandangi kamu. Menatap semua yang ada di wajahmu saat itu. aku suka ekspresi seriusmu saat memainkan gitar yang dibarengi dengan sedikit senyuman itu. kamu terlihat sempurna di mataku, mata sipit itu aku suka. Kamu terus saja terus saja, terus memetik senar gitar itu. Petikan gitar itu mengalun menjadi sebuah nada yang sepertinya kukenal, lagu yang membuatku tersenyum. Kamu menyanyikannya untukku lantunan suara itu membuat hatiku bergetar aku tak hentinya memandang ke arahmu. Lagu dari kahitna – cantik. Kamu memainkannya sembari menatapku dengan senyuman, kita beradu pandang dalam kurun waktu yang cukup lama.
Tatapan mata itu, seakan menghipnotisku, entah mengapa aku tak mampu mengalihkan pandanganku darimu. Kamu memiliki duniaku saat itu, semuanya hanya tertuju pdamu saja. Ya, hanya padamu saja. Hanya kamu pusat perhatianku saat itu. Dan tiba-tiba suara gitarmu berhenti, namun aku masih dalam tatapanku padamu. Kamu mengenggam erat jemariku. Memastikan tatapan manis saat itu hanya untukku.
“ gal, kamu udah denger lirik lagu ini kan?” tanyamu lembut
Aku mengangguk pelan
“ ingat lirik lagu terakhirnya?”
Aku sedikt berpikir sembari mencoba mengingat bait lirik terakhir lagu yang kau nyanyikan. Ya aku mengingatnya.
“itu ungkapan perasaan aku sama kamu” kamu berucap lagi
“mau jadi pacar aku?”
Ya, kata itu kamu mengucapkannya kamu memintaku untuk menjadi pacarmu. Jujur saat itu aku tidak ammpu berkata-kata lagi, seluruh tubuhku terasa kaku. Nafasku sesak, jantungku berdetak sangat kencang.
Kamu masih menatapku tajam. Sebuah mata yang mengambarkan ketulusan, aku melihat itu. Sebuah harapanpun tergambar di sana. Kita diam sejenak, mata kita masih saling beradupandang.
“ aku mau” ucapku sambil menganguk pelan.
Sebuah senyuman terpancar dari wajahmu, tanganmu semakin erat mengenggam jemari tanganku. Kamu meraih kepalaku dan mendaratkan ciuman di keningku saat itu, kamu memeluk tubuhku erat.
“ makasih sayang” ucapmu pelan.
Hey, kamu memanggilku sayang. Aku suka itu. Ya kamu dan aku, sekarang menjadi kita. Kita yang akan bersama-sama menghadapi hari-hari ke depan, kita yang akan berbagi rasa, kita yang akan mencoba saling mengerti satu dan yang lainnya, kita yang akan selalu berusaha menciptakan kebahagiaan. Kita Fajar dan Galuh. Ya, aku dan kamu, kini sudah menjadi kita dalam sebuah senja yang sama.
Aku mencintaimu.
Fajar & Galuh
Kita dan Hujan
Hari ini Hujan lagi, entah kebetulan atau apa. Pertemuan kita selalu karena hujan yang mencoba mengurung kita. Di tempat yang sama, pertemuan pertama kita saat itu. Kita beteduh di sana walaupun saat pertama tak saling memperhatikan satu dan yang lainnya karena kerumunan orang yang mengalami hal yang sama dengan kita, ya dibasahi oleh rintikan air yang berjtauhan saat itu. Perlahan-lahan orang –orang disan mulai mundur mencari tempat yang enak untuk menunggu hujan yang sepertinya tak ingin reda. Kita berada pada satu garis tepat dan sejajar, mataku mulai memeperhatikan ke kiri dan ke kanan. Dan aku menemukanmu, seperti biasanya. Kamu berdiri dengan manisnya dengan sebuah gitar dipunggungmu. Aku memulai pembicaraan saat itu, walaupun jantungku berdetak kencang, aku berusaha untuk tidak terlihat grogoi, ya aku hanya tidak ingin membuang kesempatan lebih banyak lagi, aku hanya iingin jauh lebih mengenalmu. Megenalmu lebih jauh lagi.
“selalu saja hujan ya?” ucapku sedikit bertanya. Saat ini akau berada tepat disampingmu.
Wajahmu berubah kamu sedikit terkejut “ lo lagi? “ ucapmu. Aku hanya tersenyum pertanda mengiyakan.
“kenapa ya gue selalu ketemu lo saat hujan? Udah tiga kali sama ini?” tanyaku padamu
“tanya sama hujannya” ucapmu sedikti menyuruh.
“emang hujan bisa jawab?”
“tanya aja coba”
“gak ah”
“kenapa gak”
“gak mau aja, hujan kan gak bisa jawab”
“Coba tanya. Kan hujan penyebabnya, kalau hujan gak jawab sekarang pasti nanti dia bakalan jawab, tunggu waktunya aja, kenapa kita selalu ketemu setiap hujan dan karena hujan”
“haha, bahasa lo dewasa amat, puitis dan dramatis”
“ kan gue emang lebih dewasa dari lo”
“ iye”
“tumben berani nyamperin?” tanyamu padaku
“hah?” aku sedikit kaget.
“iya tumben, kan biasanya kalo ketemu lo nunggu buat disamperin”
“dih, geer aje lo”
“ngaku aja kalik, selama beberapa kali ketemu gue selalu merhatiin lo.”
“nah lo tu stalking gue”
“stalking? lo kira twitter “ ucapmu sambil tertawa
“gini yaa, gue jabarain. Pertama ketemu ya, kan di sini nih inget gak lo waktu lo tiba-tiba berdiri mundur sejajar sama gue” kamu memperjelas lagi kata-katamu
“itu mah, gara-gara hujannya makin deras. Lagian gue risih kalik lo liatin mulu dari belakang”
“nah, haha lo sadarkan gue perhatiin. Tapi lo diam aja dan gue yang ajak ngomong”
“yaa, masak gu ngomong duluan kita kenal aja enggk” Wajahku mulai memerah
“nah yang kedua, waktu di cafe. Gue liat lo, celingak celinguk nyariin orang. Nyariin gue kan”
“ dih, ini geer lagi lo. Siapa coba yang nyariin lo”
“ngaku aja kaliik, gue itu udah liat lo dari awal waktu lo masuk sama teman-teman putih abu-abu lo itu”
“nah kan lo ang merhatiin gue lagi”
“gue ngaku gue emang merhatiin lo, tapi lo nyari-nyari gue kan waktu gue tiba-tiba ilang dari kursi itu, lo jalan kebelakang dengan maksud mau modusin gue”
“dih”
“haha, keliatan tau dari wajah lo waktu jalan awalnya senang pas lewatin meja gue muka lo berubah. Gue perhatiin lo tau”
Aku hanya tersenyum malu, saat itu aku sudah tak bisa mengelak lagi. Kamu tau dan masih mengingat semua kejadian saat itu.
“muka lo merah tu kayak udang rebus” ucapmu sambil mengusap pelan rambutku.
“udah gak usah malu kayak gitu, kan guenya juga udah tau” ucapmu lagi
Wajahku cemberut, kau membuat aku malu dan sedikit kesal
“gak usah manyun gitu galuh. Maaaf” kamu menyodorkan kelingking kananmu.
“iya” ucapku menyambut kelingkingmu dengan kelingkingku.
“jadi sekarang kita teman ya?” pintamu
Aku tersenyum mengiyakan pertanyaanmu tadi.
Dan hujan sedikit reda. Orang-orang berhamburan pergi menuju motor mereka masing, mereka sepertinya tidak ingin terjebak lebih lama oleh hujan. Aku juga bermaksud sama, aku melangkahkan kakiku keluar dari bawah halte itu, tapi tanganmu memegang jemari tanganku.
“ minta nomer lo boleh?”
“catet ya”
“makasih” dan kamu saat itu masih memegang jemari tanganku
“tangan gue fajar” ucapku memeintamu melapaskannya. Wajahmu memerah, kmau sepertinya malu menyadari itu.
“hehe iya” dan kamupun melepaskannya, kalau boleh jujur aku ingin kamu lebih lama memegang erat tanganku, dan jangan melepaskannya.
Aku menaiki motorku saat itu, dan memilih umtuk beranjak pergi lebih dahulu. Karena sudah terlalu lama menunggu air alam itu jatuh berjatuhan.
“gue duluaan ya jar, see you next time”
Kamu tersenyum sangat manis menghantar kepergianku saat itu. Dan lambaian tanganmu menutup pertemuan saat itu dengan sangat manis.
Hujan, Lagi Dia Mempertemukan Kita di Sebuah Senja
Lagi sore ini hujan. Yaa, aku masih mengingat kenangan itu. pertemuan pertama kita, pertemuan singkat itu. kali pertama aku melihat senyumanmu. Sore ini aku terjebak dalam sebuah cafe dangan beberapa orang yang aku kenal ya mereka temanku, kami baru saja pulang dari rutinitas harian kami. Dengan seragam kebanggaan kami putih abu-abu.
Aku melihat seseorang dari kejauhan seseorang yang sepertinya aku kenal ya sepertinya itu kamu, kamu yang ku temui 2 minggu yang lalu di sebuah senja yang hujan. Aku terus mengamati sosok itu, yaa setiap gerak geriknya yang masih bisa ku jumpai terus berusaha aku ikuti dan aku berharap bahwa itu adalah kamu seseorang yang paling ingin aku temui saat ini setelah pertemuan kita saat itu.
Sosok itu, menaiki sebuah panggung yang terletak di sudut ruang cafe membawa gitar cokelat yang terlihat anggun. Dia duduk disebuah kursi dan menaikkan sebelah kakinya ke bawah penyangga kursi itu. ya dia terlihat keren, dan aku masih berharap itu kamu. Aku segera memasang kaca mataku yang baru saja aku keluarkan dari dalam kotaknya. Dan, aku menjumpai wajahmu disana, aku menjumpai lagi senyuman itu, aku menjumpai lagi sosokmu.
Kamu memainkan gitar coklat itu, mengiringi seorang gadis yang sedang bernyanyi yang usianya mungkin seumuran denganku. Suara gadis itu mengalun dengan lembut bersama iringan dari permainan gitarmu yang sangat indah. Ya kamu mahir kamu mahir melakukan hal itu. kamu mahir memainkan gitarmu dan kamu juga mahir menarik perhatianku.Lagi untuk kedua kalinya kamu membuatku memperhatikanmu.
Pandangaku tak lepas dari dirimu, kamu tersenyum dan aku suka itu, ya aku menyukai senyumanmu sejak pertemuan singkat pertama kita itu. Sejak pertemuan itu. dan kamu membuat aku semakin mengagumimu. Tahukah kamu bahwa kau menyukai gitar dan seseorang yang bisa memainkannya sepertimu.
Dan, kamu selesai memainkan beberapa lagu dengan gitarmu itu. kamu kembali duduk di tempatmu tadi, yaa aku mengamati setiap gerakmu disana. Aku melihat kamu tersenyum senang, sepertinya kamu puas dengan permainanmu tadi, begitupun juga aku puas memperhatikanmu dari tempat dudukku.
Tapi ada yang membuat hatiku sedikit teriris, dan benakku bertanya-tanya, siapa dia gadis yang bernyanyi bersamamu tadi? Kamu mengusap kepalanya tadi dan senyuman kalian saling bebrbalas satu sama lain. Siapa dia? Siapa gadis itu? mungkinkah dia pacarmu? Tapi aku lebih berharap jika dia adalah adikmu. Ya adikmu. Semoga.
Aku memutuskan untuk pergi ke toilet, ya sebenarnya ini hanya sebuah modus saja. Jalan ke toilet itu melewati tempatmu duduk sekarang, dan aku berharap kamu melihatku dan masih mengenali aku. Aku berjalan kesana dan aku tak menemuimu disana, kamu dimana, aku kehilangan jejakmu. Perasaanku mulai kacau. Kamu menghilang dari pandanganku menghilang dari pengamatanku.
Aku tetap meneruskan tujuanku ke toilet tadi dengan perasaan sedikit kecewa, sepertinya hari ini aku belum beruntung, aku masih belum bisa tau namamu. Aku kembali dari toilet tapi aku melihat sepertinya ada pemandangan menarik di lorong depan toilet itu. dan aku memutuskan berjalan kesana. Ada sebuah taman di belakang cafe itu ya itu seperti tempat terbuka cafe itu, tapi saat itu sedang hujan jadi aku tak menemukan seorangpun disana. Aku berdiri memandangi taman itu saat hujan, ya terlihat indah walaupun sebenarnya hujan menyebalkan walupun dia memiliki kenangan.
Tiba-tiba seseorang berdiri tepat dibelakangku. “ masih gak suka sama hujan” suara itu membuyarkan lamunanku, aku sepertinya mengenal suara dan pertanyaan itu. aku menoleh ke sumber suara itu. dan aku menemukan sosok itu, aku menemukan kamu berdiri diposisi yang hampir sama saat pertemuan pertama kita di senja itu.
Kamu berjalan bergerak menuju arahku dan berdiri tepat di sampingku. Ya di sampingku. Kamu tau saat itu jantungku berdetak kencang dan nafasku terasa sesak tapi aku berusaha untuk menahannya agar kamu tidak menyadari bahwa aku grogi saat itu. “ lo” dia tersenyum mendengar jawabanku, senyumnya sangat manis dan aku suka itu. “ iya gue, lo udah liat gue kan tadi” aku tersenyum kepadamu “lo masih gak suka sama hujan?” kamu mengulangi pertanyaan itu lagi, sepertinya kamu sangat menanti jawabanku tentang perasaanku terhadap hujan. “lumayan” “ lumayan, berarti lo suka hujan dong?” “ gak juga” “ lalu kenapa lumayan” “ yaa ada reasonlah yang buat hujan jadi lumayan buat gue” “ pasti gue ya” kamu mengatakan itu dengan pedenya. Perasaanku sempat tak karuan saat itu, kamu menebak dengan benar. “ gara-gara lo?” “ haha, becanda gue” hey kamu mengucapkan itu sambil mengusap kepalaku, dan jantungu kembali berdetak sengat kencang. ya kamu memang sangat mudah jika ingin memegang kepalaku karena saat berdiri aku hanya dapat mencapai pundakmu saja.
“ kita belum kenalan kan?” kamu berkata seperti itu, kamu tau hal itu yang sangat aku inginkan. Aku sangat ingin mengetahui namammu, aku sangat ingin kamu juga tahu namaku. Kamu mengulurkan tanganmu padaku dan aku menyambut tangan itu “ gue fajar” ucapmu lembut, “ gue galuh” aku menyebutkan namamku dan kamu tersenyum. Hey lagi kita berdua berada di atap yang sama, ya hanya kita berdua. Suasana mulai hangat dan udara terasa dingin, hujan semakin deras mengguyur, rintik-rintiknya jatuh dan membasahi tanah-tanah yang tadi memang sudah basah.
“ lo SMA?” pertanyaanmu kembali mebuat keadaaan membaik daripada tadi saat kita hanya diam saja. “ iyalah, ini gue pakenya putih abu-abu emangnya lo kira apa?” “gue pikir lo masih SMP, soalnya badan lo pendek banget” kamu berucap sembari tertawa,keningku mengkerut, kamu sepertinya mengajakku bercanda untuk menghangatkan suasana saat itu, “ gue pendek, lo tu kelebihan hormon makanya badan lo tnggi kayak tiang listrik” “ haha, gue becanda tau, jangan marah dong adik manis” kamu meanggilku adik manis, sepertinya kamu memang jauh lebih tua dariku “ lo kuliah?” “ yap, anda benar?” “di” “seni musik, stis” “ seni? Semester berapa?” “ baru semester 3” kamu anak seni, dan aku suka itu, aku suka. Lama kita bersama, dan hujanpun akhirnya sudah bosan untuk berjatuhan, aku melihat ke arah jam tanganmu dan waktu menunjukan pukul 17.30, yaa sepertinya aku sudah terlalu sore untuk tetap berada di luar rumah.
Dan dengan terpaksa aku mengakhiri perjumpaan kita sore itu karena bunda pasti akan marah karena kau terlambat untuk pulang kerumah. Aku beranjak pergi dari tempat itu, kamu memberi senyuman tanda perpisahan di pertemuan kita saat itu, ya senyuman yang sangat aku suka. Dan aku berlalu pergi meninggalkan cafe itu dengan sebuah senyuman yang berkembang dan lagi sebuah kenangan yang tercipta di sepotong hujan saat senja.