Sebongkah Bungah Tolan
Minggu sore adalah hari yang kunanti. Waktu yang sempurna, dimana inilah hari kumerencanakan membeli perlengkapan yang sudah lama kuinginkan, sebuah handphone baru. Uang tabungan ini sudah menggendut hasil menabung empat bulan lamanya. Tak lama lagi kuimpikan sebuah handphone ditangan selayaknya remaja diluar sana yang sedang tren.
Segera saja kusiapkan kuda besi tunggangan kesayangan. Kuisi perut ini dengan beberapa gandum andalan hingga kenyang. Sementara dilangit tampak mendung sejuk. Kupercepat diri ini bersiap sebelum rintik pertama jatuh, walau sebenarnya tidak menghalangiku untuk tetap pergi.
Alangkah terkejutnya. Niat yang kukuh ini akhirnya takluk oleh hal sekitar. Roda kuda besiku terlihat kempes. Bingung dan gelisah. Terlebih saat kulihat air hujan telah menjatuhkan rintik ringannya. Semakin gelisah.
Bukan prajurit namanya jika takluk hanya dengan rintik hujan. Akhirnya kuberanikan diri menembus batas. Kuhadapi rintik ringan tersebut, berlapis mantel tentunya, sambil mencari montir langganan.
Tengok kiri dan kanan. Memandang sejauh kenangan. Tak satupun kutemukan sejumlah montir andalan. Mungkin sedang rehat atau takluk oleh hujan. Sepanjang jalan tak bertuan sepi meronta, hanya suara rintik yang akrab menemani. Hati ini berdegup tak menentu. Oh tuhan, bantulah diri ini.
Masih berdiam beratapkan genting. Diri masih kukuh tak kenal kata menyerah. Aku memang generasi yang pemberani tanpa dihiasi mata kaca. Seketika terkejut saat sebuah tangan menyentuh bahuku. Bukan sulap bukan selip. Berdirilah kakek tua dengan senyum ramahnya menyapa sore ini. Menyapaku dengan tenang. Dia menawarkan bantuan. Ya, dia dapat membuat kuda besiku berjalan seperti sedia kala. Rasa senangku semakin meningkat. Tak lupa ku mengucapkan beribu terimakasih dan beberapa angpau berlebih untuknya.
Bersiap. Menerjang. Kutancap gas secepat mungkin. Waktu adalah kesempatan, maka aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku.
Tiba ku di gerai tujuan. Bersamaan rintik itu berhenti pula. Sebentar lagi sebuah gadget impian akan ada ditanganku. Betapa gayanya diri jika memilikinya. Namun masih saja, sesuatu mengejutkanku. Membuat diam seribu bahasa, membuat sendi diam tak bergerak. Ku lupa membawa tabunganku.
Lelah ini menjadi sia sia. Cerita perjuangan menjadi kenangan. Mau tak mau ku harus kembali ke rumah tanpa apa apa. Pulang hanya memberi senyum atas semua yang terjadi.Tak apa, mungkin masih ada hari lain esok. Aku adalah generasi pejuang yang selalu tersenyum.
Salam kembali kepada rumah. Menyapa tanpa penyesalan. Tanpa kusadar ada sebuah tas diatas meja kamarku.Mirip bingkisan namun tak tahu asalnya. Kubuka perlahan dan membuatku menjatuhkan rintik hujan, air mataku. Ya, ini adalah handphone yang aku inginkan, namun mengapa bisa tiba tiba hadir disini. Sepucuk surat kubaca membuat air mata kian deras, bertanda nama ayahku.













