Reza Afisina: Tentang Performance Art Part. I
Mulai bulan ini, selain tulisan mengenai seni rupa, blog ini akan juga berisi transkrip wawancara antara saya dengan beberapa perupa tertentu. Tema yang diangkat bisa beragam sesuai kecenderungan karya yang mereka buat. Untuk yang pertama ini, saya mewawancarai Reza Afisina a.k.a. Asung, mengenai PerformanceArt/Seni Performans yang sudah lama ia kerjakan. Wawancara dilakukan melalui WhatsApp, dan telah dilakukan penyuntingan seperlunya. Selamat membaca.
Saya: Kang.. bisa dimulai sekarang obrolannya? kurang lebih seputar performance art & seni rupa berbasis project. hehee
Jadi gini, dalam dunia seni, Performance Art yang kita kenal sekarang kan berada dalam ranah seni rupa, sebenernya apa sih relasi antara keduanya? bagaimana kemudian yang 'performatif' ini mulai masuk ke dunia yang 'visual' (baca: seni rupa)?
Asung: Halo Kang Asep. Wah ok pisan ini pertanyaannya hahaha plus kabeneran ayeuna teh saya, jeung kulawargi, keur teu di Jakarta. Jadi punten telat reply-na.
Kalau berdasar pada pengalaman saya tentang pemahaman Performance Art, adalah bagian dari pengolahan medium untuk berekspresi juga. Sama halnya kayak beberapa pendekatan medium karya seni lain, seperti teater, tari, musik, kriya, murni, terapan sampai ke media baru.
Dan Performance Art juga mengalami beberapa peleburan dalam kapasitas presentasinya atau kolaborasi eksplorasi dengan medium-medium lain di wilayah seni pada umumnya.
Yang menarik dari medium Performance Art adalah adanya bahasan tentang karya yang berbasis waktu, time based art. Jadi kontrol wilayah waktu, ruang, bentuk dan hal-hal yang personal, misalnya, dapat hadir pada saat yang bersamaan dan LIVE! Makanya dalam hal preserfasinya melalui media perekaman, seperti foto dan/atau vidio juga audio atau bentuk yang tertulis seperti sketsa dan/atau skrip.
Jadi secara umum, berdasar pada pengalaman saya mengikuti beberapa event workshop, festival, presentasi, forum, manifestasi, seminar, kelas dan juga pameran tentang Performance Art. Performance Art berdiri sendiri sebagai medium ekspresi seni yang dapat juga melebur dan dileburkan bersama dengan beberapa medium keilmuan lain dan tidak cuma seni dan/atau seni rupa saja.
Saya: Sadaapp.. salam kanggo sadaya kulawargi kang. hehee
Menarik nih, mengenai karya berbasis waktu. Jadi keingetan apa yang disebut dengan Happening Art, nah itu apakah bagian dari Performance Art juga atau seperti apa? Terus, apasih beda antara keduanya, secara esensial?
Mengenai dokumentasi, ini sangat penting di karya Performance Art, karena berbasis waktu tadi. Nah, saya sempat ngobrol sm salah satu performance artist, asal Jakarta, kalau ternyata dia TIDAK MAU melakukan aksi Performance Art kalau TIDAK ADA yang mendokumentasikan. Itu gmn kalo menurut Kang Asung?
Asung: Dan menurut pandangan saya tentang Happening Art, sepertinya secara esensi masih dalam lingkup Performance Art yang terkadang hadir dalam sebuah peristiwa yang terjadi saat itu, kayak sebutan "it's Happening..." jadi perihal waktu peristiwa yang saat itu terjadi.
Jadi secara perbedaan mungkin di wilayah bagaimana Performance Art itu dihadirkan. Makanya dia dibilang time-based art.
Dokumentasi bagi saya pribadi sih tergantung keperluannya untuk apa dan penyikapannya bagaimana... Dan sekiranya memang penting dan dipentingkan maka bisa berupa apa saja bentuk dokumentasi dan pendokumentasian itu, tidak hanya berbasis audio-visual aja, tapi bisa ekplorasi ke bentuk lain pendokumentasian.
Dan dalam menyikapi pendokumentasian juga balik lagi sama esensi 'dokumen' karena dalam Peformance Art, terkadang ada seniman yang menggunakan bentuk dokumentasi sebagai bagian karya dan bahkan karyanya.
Bicara tentang beberapa hal yang berkaitan dengan Performance Art, juga perihal lain yang menghubungkan Performance Art dengan beberapa pendekatan pengolahan dan/atau eksplorasi medium kekaryaan lain, kalau menurut pengalaman saya nyari literatur tentang Performnace Art di Indonesia khususnya, masih ada ditemukan 'ketegangan' dalam mengartikan, membahasakan dan juga sampai ke wilayah presentasinya, dan menurut saya sih malah jadi tidak informatif juga malah jadi mendidik. Karena hal sepele biasanya masalah bahasa serapan dan aplikasinya di Indonesia.
Bagi saya dokumentasi bisa jadi diperlukan untuk pengarsipan, itu penting.
Saya: Dalam perkembangannya ke medium lain, misal Video Performance, apakah ini masih bisa disebut sebagai time-based art juga?
Justru saya melihatnya di sini peran dari tubuh dan (mungkin) gerak, menjadi sangat dominan. Selain di medium video, aksi performatif ini jg kerap kita lihat di medium lain seperti fotografi. Dalam keduanya, 'tubuh' kerap menjadi elemen penting dari persentasinya.
Dan untuk para penulis atau kritikus, bagaimana pembacaan karya-karya Performance Art ini dilakukan? apa yang membedakannya dgn pembacaan karya-karya seni lainnya?
Sementara itu, pengetahuan mengenai Performance Art ini masih jarang kita temui bahkan di institusi seni. Jika dari senimannya sendiri, apakah ada idiom-idiom tertentu atau bahasa ungkap yang 'khas' dari Performance Art itu sendiri? sehingga bisa dijadikan salah satu acuan untuk membaca karya-karyanya.
Asung: Halo Asep, punten baru bisa reply. Urang rada kagok ngetik qwerty touchscreen. Jadina engke kuurang email, biar mixed media gitu hahaha Kusabab pertanyaannya ok pisan jd kudu elaborasi jawabanna ok oge.
Saya: Oke kang sipp hehee
**Bersambung ke Part II… Kaming Sunn
Reza Afisina a.k.a Asung, tidak lulus dalam menempuh pendidikan di sinematografi FFTV IKJ. Mendalami seni instalasi dan performans melalui medium video. Aktif bergiat di ruangrupa, divisi laboratorium seni atau ArtLab sejak 2003. Pendengar musik Dub southern-soul northern-blues rock-steady ragga-muffin to jungle drum n bass.
Foto: Dalam sebuah bis, bersama Kemilau Kilam, buahatinya yang berusia 20 bulan. Diambil dari akun resmi instagram Asung: @rezaafisina.