Tentang mencintai
Kami tidak tahu bagaimana tepatnya mereka bertemu, dan akhirnya memutuskan untuk membangun atap rumah senada dlm ikatan pernikahan mereka. Kami juga masih terlalu dini untuk memakanai sayang dan cinta seutuhnya, kami hanya anak-anak yang masih dipupuk sebelum siap merekah dengan buah dan bunga.
Namun beruntungnya kami yang sedari kecil ditebar benih cinta mereka, merasakan ketulusan dan cinta yang menyatukan mereka dulu.
Jatuh cinta pada kehanifan seorang wanita, katanya. Sedang si wanita jatuh cinta pada karakter dan kesungguhan pria yang didampinginya selama dua puluh tahun itu.
Cinta itu bukan hal yng bisa blak-blakan dijual saat berbicara. Cinta itu seumpama menanam pohon. Dirawat dengan ketulusan, dipelihara dalam doa dan harapan, ditumbuhkan dengan kasih dan dibenihi dengan bibit terbaik. Dijaga sampai tumbuh kuat mengakar dan berbuah sempurna. Mungkin cinta seperti itu. Ditanamkan dan tumbuh merekah walau dalam kesederhanaan namun seirama, sama-sama ingin membangun tuju, merapikan keburukan yang ditemukan, lalu membabatnya habis dan mencangkok bibit baru yang disepakati betsama, demi pembuahan yang sempurna, agar menyejukkan satu sama lain.
Dan kami sudah melihatnya, meraskannya dari mereka -dua orang teristimewa- yang kemarin berlelah-lelahan demi menghidupi kami, yang senantiasa menepuk punggung kami ketika kami belum berhasil, yang selalu membagi kebaikan-kebaikan yang mudah diserapi, yang tetap sabar walau seringkali dibuat pusing, yang selalu bersemangat menafkahi, mendidik dan menanti pertumbuhan dan perkembangan kami, yang hidupnya lebih banyak dihabiskan dengan mencintai kami yang sering mengecewakan inginnya.
Dan sekarang, tiba masanya bagi kami untuk meyudahi kelelahan mereka yang tak berkesudahan. Kami akan tumbuh dengan dewasa sebagaimana mereka memaknai hidup. Kami akan mencintai sebagaimana mereka melakukannya sejak puluhan tahun lalu, bahkan mungkin sejak mereka lahir, karena mereka tumbuh dari keluarga yang seperti mereka ☺
Kami akan tumbuh dan bahagia seperti ini, seperti dulu, kemarin, hari ini, besok, lusa, sampai menangispun karena bahagia.
Terima kasih bi, mi...













