"Duduklah bersamaku. Akan aku ceritakan segala hal. Akan tetapi tidak, kalau tentang perpisahan."
#interview with the vampire#iwtv#amc tvl#sam reid#jacob anderson







seen from France

seen from United States

seen from Australia
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Italy

seen from France
seen from China
seen from Türkiye

seen from Germany
seen from T1

seen from Australia
seen from China
seen from South Africa
seen from Italy

seen from South Africa
seen from Netherlands
"Duduklah bersamaku. Akan aku ceritakan segala hal. Akan tetapi tidak, kalau tentang perpisahan."
Lama lama jadi terbiasa #1
Akan ada saatnya dimana kita yang awalnya tidak percaya kalau "cinta tidak harus memiliki". Perlahan lahan menjadi percaya bahwa cinta tidak selalu harus memiliki.
Akan ada saatnya dimana kita yang awalnya beranggapan setiap rindu itu harus diungkapkan secara langsung kepada orang bersangkutan. Perlahan lahan jadi menganggap itu tidak terlalu penting karena rindu bisa kita titipkan lewat doa.
Akan ada saatnya dimana kita yang awalnya merasa kalau berpelukan adalah momen terindah. Perlahan lahan merasa kalau memeluk dia dari kejauhan itu lebih terasa indah.
Akan ada saatnya. Semua yang terasa berat ini menjadi ringan. Ya, karena terbiasa. Mungkin bukan sekarang, besok, atau dalam waktu dekat. Tapi iya, akan ada saatnya. Waktu akan memilih waktunya sendiri. Hanya perlu percaya.
Paling tidak kita pernah bersama. Bersama berharap menciptakan “selamanya” menjadi sebuah kenyataan. Bersama berharap menyatukan perbedaan yang kontras menjadi sesuatu yang indah. Bersama berharap mampu saling menguatkan agar dapat memulai semuanya dari bawah.
Meskipun pada akhirnya hanya tinggal aku sendiri disini. Melihatmu pergi semakin jauh. Melihatmu semakin hari semakin tenang tanpa aku. Melihatmu tersenyum bahagia menatap masa depanmu tanpa aku. Melihatmu sudah ikhlas menutup buku cerita tentang kita. Lalu, sekarang aku bisa apa?
Setidaknya kita pernah bersama.
Kalau ga salah aku ada pernah beberapa hari lalu nge-reblog tulisan seseorang tentang pentingnya restu dari orang tua. Nah berhubung anak anak sudah tertidur lelap jadi pengen cerita sedikit ke teman teman semua. Jadi gini..
Sehari sebelum aku nge-reblog tulisan dari seseorang tsb, Ibu sempat nyeletuk gini; (sambil lagi ngepel rumah loh Ibu nyeletuknya wkwk)
"kalau menurut orang Bali, restu dari orang tua dalam pernikahan itu penting loh. mau orang tua laki atau perempuan nya sama aja pentingnya biar ga gini jadinya."
Aku yang lagi nyusu si kecil langsung diem terpaku ga bisa kasih komentar apa pun. Rasanya langsung pas kena tengah tengah jantung. Kalau diinget inget lagi ternyata keterbukaan sama orang tua itu tetap penting ya meski kita sudah cukup umur sekali pun. Mau kita perempuan atau laki laki teteeeeep keterbukaan terhadap orang tua itu penting.
Menurutku ini yang sekarang mulai berkurang. Kita yang makin sibuk ngejar ini itu, cari ini itu, segala macam hal dalam hidup ga sadar kalau orang tua kita makin hari makin tua dan kita ga pernah tau umur mereka sampai kapan. Kita yang suka ga sadar kalau kadang kita suka nyepelein orang tua dengan dalih ngejar cita cita supaya bisa punya cukup uang buat tabungan hari tua. Padahal di satu sisi orang tua kita hanya minta waktu kita sedikit saja. Misal hanya dengan sering telepon atau sms, atau sesekali pulang ke rumah hanya untuk icip icip masakan Ibu rasanya pasti menyenangkan. Banyak hal simpel yang bisa kita lakuin bareng sama orang tua tapi suka dilupain pada waktu kita dewasa. Sedih sih kalau ngeliat makin kesini makin banyak anak yang suka salah kaprah dengan orang tuanya sendiri, misalnya seperti kadang kita kira hanya dengan memberikan sedikit uang untuk orang tua dari gaji kita akan buat mereka ngerasa bahagia padahal kan bukan itu.
Ini jadi ingetin aku tentang waktu milih tempat kuliah dulu. Aku kekeuhhh supaya bisa kuliah di luar Bali sedangkan Ibu sama sekali ga setuju. Setelah menggunakan segala macam cara akhirnya Ibu terkalahkan. Ya, Ibu mempersilahkan aku kuliah keluar Bali. Waktu itu selain buat nambah wawasan dan cari pengalaman, ada sedikit rasa senang karena bisa jauh dari rumah. Tanpa pikir gimana perasaan Ibu sebenarnya, aku berangkat. Disini aku menyalahgunakan kepercayaan Ibu. Sekolah sih baik lancar tapi aku suka sekali ga ngasih kabar ke Ibu bahkan seolah olah lebih suka asik sendiri. Sampai akhirnya aku sakit dan harus di rawat inap. Aku benar benar membuka jalan untuk jatuh sendiri mulai dari ini. Sekolah belum kelar tapi sudah harus menikah muda. Balik lagi deh, restu orang tua itu ternyata penting. Restu dari merekalah yang akan membukakan setiap pintu yang tertutup dalam hidup kita. Tapi nyesel sekarang itu rugi sih toh nasi sudah jadi bubur kan? Buat apa nyesel sekarang~
Jadi mau sekedar kasih tau dan ngingetin teman teman semua kalau,
1. setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak anaknya.
2. menjaga komunikasi dengan cara saling menghargai, menghormati, dan terbuka antar orang tua dan anak adalah kunci keselarasan.
3. kalau masih ada kejanggalan maka coba lagi dibicarakan baik baik. perlu diingat kalau setiap orang tua itu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. tapi itu juga bukan berarti orang tua bisa ga mau tau / ga mau peduli dengan setiap keinginan / tujuan anaknya, dengan dalih orang tua lebih tau banyak hal.
4. ketika sudah selaras maka restu dari orang tua lah yang akan membuka setiap pintu yang tertutup di kehidupan anaknya. si anak hanya perlu percaya dan yakin.
Intinya cuma komunikasi kok. Jangan saling egois, selalu merasa benar, merasa tau segala hal, dan harus pintar ngatur emosi (pluuss) nada bicara, pasti semua bisa berjalan lancar. Anak tanpa orang tua, bakal apa jadinya si anak? Lalu orang tua tanpa anak, mau hambar segimana sih itu hidup orang tua nya? Orang tua dengan anak saling melengkapi lah intinya. Ga ada salahnya juga kalau saling ngingetin hal baik kan?
Cintai, sayangi, dan jagalah orang tua kita selagi ada kesempatan. Dibanding kita nyesel di kemudian hari.
🍀🕊
https://timeline.line.me/post/_dXteIvESICo5gAuUxnG5iFLcx9mGwrtf_rXo_5k/1151983680204073175 Dapat dari LINE lagi. Semoga bisa sama sama jadi renungan buat kita semua ya. Bukan mau bahas salah korban nya atau salah si pelaku nya tapi cuma mau jadiin ini renungan supaya sama sama bisa jadi manusia yang lebih baik dan lebih berguna untuk orang sekitar (ditegaskan lagi✌🏽). Spread the loveee & stay positive! 🌻✨
Karena pada sesungguhnya menurutku, bukanlah waktu yang dapat menyembuhkan luka diri kita. Melainkan sebuah proses dari perjalanan waktu penyembuhan luka itu tadi. Mulai dari bagaimana cara kita bangkit lagi, dengan siapa kita berbagi, mengapa kita memilih ini dan itu, dan sebagainya. Sering kali kita melupakan setiap proses dari setiap pencapaian dalam hidup. Miris tapi itulah kita, para manusia.
Jangan buru buru. Nikmati saja dulu tiap proses dalam hidup. Jadikan tiap proses sebagai pembelajaran berharga. Yang dimana, barang kali suatu hari nanti bisa jadi kenangan manis yang bisa kita ceritakan ke anak cucu kita. Jangan lupa bahagia! Selamat Malam:)
Aku Ibu #2
"We will never know how strong we are. Until, being strong is the only choice."
Pernah lihat atau dengar kalimat di atas? Kalau pernah berarti sama ya, sepermainan lah ya kita hahaha. Cerita sedikit ya, dua hari kebelakang ini aku benar benar ngerasa itu tulisan di atas pas banget buat jadi motto hidup sekarang. Aku ga pernah terpikir sedikitpun tentang harus bertahan di rumah tanpa AC dan pencahayaan yang minim (plussss) kran air yang bocor jadi harus siap lap pel. Keadaan kayak gini berlangsung berhari hari dengan suasana di luar rumah kalau siang puaaaanassnya pol polan dah! Sekarang ini finansial keluarga memang lagi ancur lebur ga nentu kapan bisa ada uang jadi kalau memang pulsa listrik ngepas dan belum ada pemasukkan lagi ya harus irit listrik yang penting bisa hidup TV, kulkas, kipas angin, rice cooker dan untuk ngecas HP. Sedih? Tentu apa lagi ngeliat anak anak yang juga harus jadi korban. Tapi tau ga kalian kalau ternyata mereka bisa jaaaaauhh lebih hepi dan baik baik saja dibanding aku, ibu mereka.
Asal asupan, istirahat, dan bermain mereka cukup ya anteng. Beda banget dengan ibunya yang ngeluh ini ngeluh itu ga betah lah apa lah. Melihat anak anak yang anteng gitu bisa dibilang tamparan buat aku sendiri. Mereka saja bisa masa aku ga betah sih? Ya mungkin benar kata orang, "kalau terus berusaha mencari kesempurnaan dalam hidup maka ga akan kelar kelar idup kita". Nah kurang lebih itu yang selalu aku cari. Alih alih kesempurnaan dibalik nama anak anak (supaya anak anak ga kepanasan. supaya anak anak bisa makan. supaya anak anak supaya anak anak anak dsbnya) yang selalu aku jadikan andalan padahal kalau dilihat lebih teliti ya sebenarnya aku juga sih yang ga mau kepanasan, kelaperan, dsbnya. Anak anak dengan tetap diusahakan untuk diberikan yang terbaik semampu kita pada saat itu maka anak anak akan tetap tumbuh dan berkembang dengan baik dan akan makin semakin maksimal kalau dibarengi dengan kasih sayang perhatian dari orang tua nya. Mereka tidak minta ini itu. Tapi para orang tua yang biasanya mau anaknya dikasih ini itu.
Bukan bilang kalau memberikan ini itu ke anak berarti salah. Tapi aku lebih menekan ke kebiasaan beberapa orang tua (termasuk aku) yang suka sekali menggunakan nama anak anak sebagai tameng di kehidupan kita sendiri padahal setelah dipikir ulang sebenarnya toh yang mau itu kita (para orang tua) bukan mereka (anak anaka). Coba deh kita sebagai orang tua mulai pikir pikir lagi, apa iya semua itu atas keinginan anak anak atau bukan? Apa benar itu semua untuk kebaikan anak anak atau hanya untuk mengisi kegengsian hati orang tua nya? Dan masih banyak lagi. Ya sepertinya aku yang belajar banyak dari anak anakku mulai dari saling akurnya mereka, saling ngejaganya mereka, walau pun panas karena cuaca panas banget mereka tetap ceria bermain tapi pasti ada yang cranky karena panas tapi sebentar doang eh main lagi, ketulusan mereka minta maaf kalau buat salah, semuanya.
"Dari anak anak aku belajar untuk jadi lebih baik. Dari anak anak aku melihat kesungguhan dan ketulusan yang tanpa pamrih. Dari anak anak, untuk anak anak." - R
💋❤️
Aku Ibu #1
Suatu hari pernah ada orang yang bertanya kepada saya tentang apa yang seharusnya dibanggakan oleh seorang perempuan di dunia ini? Waktu itu masih bingung mau jawab apa. Tapi seiring berjalannya waktu, apa lagi sekarang sudah punya dua anak gini setidaknya saya mulai sadar kalau ada satu kenikmatan tersendiri menjadi seorang perempuan yang tak ternilai harganya. Ya, perempuan bisa mengandung dan melahirkan. Hanya perempuan yang bisa. Dua hal yang menurut saya benar benar bisa merubah hidup seorang perempuan dan bisa mendekatkan si perempuan tersebut dengan alam sekitar.
Percaya atau tidak, alam itu punya kekuatan. Kekuatan untuk memberikan kita semacam sinyal atau kode akan apa yang sebenarnya alam rasakan, alam akan lakukan, atau yang lain. Berdasarkan pengalaman, di dua pengalaman tadi (mengandung dan melahirkan) seorang perempuan mulai bisa berkomunikasi dengan alam semenjak ia mengandung. Misalnya seperti insting kita sebagai perempuan yang semakin kuat karena ada si bayi di dalam perut. Bukan masalah jadi sensitif sih (itu relatif ya menurut saya), melainkan tentang ikatan si ibu - bayi - alam. Ketiganya secara tidak kasat mata punya ikatan. Alam memberi kode atau sinyal melalui si bayi dan si bayi melanjutkan memberi kode atau sinyal itu kepada sang ibu. Biasanya si bayi yang kurang suka dengan kondisi suatu tempat atau mungkin karena satu dan lain hal, si bayi jadi gelisah lalu otomatis perut si ibu jadi tegang. Ibu yang mulai ikut gelisah biasanya berusaha menenangkan dengan minur air mineral atau mengelus elus perutnya sambil ajak bicara si bayi yang di dalam perut.
Mengelus elus perut ibu biasanya bisa jadi salah satu cara paling mudah tapi ampuh untuk menenangkan si bayi. Menurutku terjalin komunikasi yang indah disana. Ketika si bayi gelisah, si ibu berusaha memenangkan dengan memberi pertanyaan kenapa si bayi gelisah? apa dia tidak suka di tempat tersebut atau dia tidak suka dengan keadaan atau orang di sekitar si ibu? atau yang lain dan setelah itu si ibu biasanya memberikan semacam penjelasan kepada si bayi seperti kenapa mereka bisa ada di tempat itu atau mengapa si ibu bersama dengan seseorang yang notabene misalnya itu teman si ibu tapi tetap saja itu orang baru bagi si bayi dan sebagainya. Banyak hal menarik, di momen momen yang sangat indah bahkan menakjubkan tersebut. Pengalaman mengandung dan melahirkan adalah pengalaman yang tidak akan pernah tergantikan. Sensasi melahirkan pun tak kalah menakjubkannya.
Seperti yang sudah saya tulis di paragraf sebelumnya tentang ikatan si ibu - si bayi - alam yang terjalin sejak si ibu mengandung si bayi. Nah salah satu bukti lainnya adalah ketika melahirkan. Mau melahirkan secara operasi caesar, normal, atau normal lalu di tengah tengah terpaksa caesar, apa saja namanya tetap saja proses melahirkan itu adalah proses perjuangan hidup dan mati seorang perempuan. Saya pernah melewati dua proses melahirkan, normal dan caesar. Saya rasa keduanya sama sama butuh nyali besar. Percaya atau tidak, biasanya si bayi juga dikutsertakan dalam pemilihan mau lewat apa si bayi dilahirkan. Pernah dengar tentang mengajak si bayi berkomunikasi sejak dalam kandungan? Baik lewat mengelus tadi, ajak berdoa bareng, atau ajak dengerin musik, atau bisa hal lain pokoknya ibu ngajak dia juga ambil andil dalam keseharian ibu seperti dia sudah lahir ke dunia. Nah, saya pernah nih ngelewatin fase seru ini hehehe. Mulai dari hamil anak pertama, saya sudah ajak anak untuk ikut ambil andil di hari hari saya.
Waktu anak pertama, saya masih di Bandung jadi suasana kuliah itu masih kerasa. Baca buku, nulis nulislah, atau cuma sekedar searching ya bisalah masih jadi rutinitas. Kalau anak kedua sebenarnya juga masih di Bandung sih bahkan lebih hectic lagi (tugas lebih numpuk dan ada anak pertama juga ikut ke Bandung karena Ibu sedang ada urusan di rumah) tapi mungkin bedanya adalah anak kedua ini bawaan lebih berat. Baik secara situasi, kondisi, atau pun finansial. Akibatnya "feel" nya itu lebih dapat di anak kedua terlebih lagi memang dari si anak kedua yang ingin lahir normal (ini bukan berarti langsung ga sayang atau cinta atau bersyukur punya anak pertama ya, bukan itu. saya percaya dan yakin tiap anak pasti memberikan kesannya masing masing ke orang tua mereka. nah kebetulan kalau saya, si anak kedua yang merubah saya seutuhnya).
Bisa mengandung dan melahirkan merupakan suatu anugerah di hidup saya. Sang Pencipta masih memberikan saya kepercayaanNya untuk menjadi perempuan lebih baik dengan cara menjadi ibu dari titipanNya. Sungguh anugerah di saat masih banyak perempuan disana yang berjuang bertahun tahun, pontang panting ikut ini - ikut itu, pantang makan ini - makan itu, segala macam cara dilakukan agar mereka bisa punya anak, nah saya langsung diberikan dua titipanNya sekaligus dalam jangka waktu yang singkat. Anugerah. Sungguh anak anak adalah hadiah tak ternilai harganya dalam hidup saya. Merekalah yang akan mengangkat derajat saya dan ibu. Merekalah yang akan menjadi kebanggaan saya dan ibu di hari tua nanti. Hanya mereka. Oleh karena itu, menurut saya jadi perempuan jaman sekarang terbilang enak. Kenapa? Karena, sekarang perempuan dan laki laki punya hak yang sama untuk menikmati dunia. Yang dimana otomatis hal tersebut sangat membantu kaum perempuan untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Tidak hanya untuk diri sendiri melainkan untuk anak anak kita kelak. Kita para ibu adalah tempat pertama mereka belajar mengenal dan melihat berbagai hal. Lalu kalau tidak kita usahakan untuk berikan yang terbaik mau siapa lagi?
Perlu untuk selalu diingat,
Seorang perempuan adalah rumah. Rumah bagi suami dan anak anaknya kelak. Perempuan adalah cerminan dari keluarga kecil tersebut. Dan, perempuan adalah jembatan perantara antara Sang Pencipta dengan segala titipanNya di dunia.
🌻✨