Sejatinya rezim itu ialah pikiran kita sendiri. Puncak rezim yang penuh kekerasan. Segala pikiran, nafsu, dan ambisi yang menyala-nyala. Keinginan dan nafsu yang memeras hidup. . Ajo Kawir, tokoh dalam cerita, hidup dalam ruang dan waktu konyol, gila, lagi biadab. Tidak hanya sekadar urusan fisik, kebiadaban tersebut terkadang juga berwujud kekerasan mental yang justru memberinya luka seumur hidup. . Segala cerita adalah mungkin dalam buku ini. Berbagai dialog dalam cerita ini agaknya cukup gila dan sulit dibayangkan dalam sebuah adegan. Hal-hal aneh yang dimaknai secara filosofis memicu kesadaran dan memberikan pesan yang cukup kompleks. . Buku ini menyampaikan ajaran-ajaran bermanusia secara terhormat, mengajari hidup tanpa ambisi dan nafsu yang bergejolak. Bahwa nafsu dan kebirahian sepatutnya menuju pada hakikat kedamaian dan ketenangan jiwa manusia. . Sebagai penulis, Eka Kurniawan berani melawan hal yang dianggap tabu, melakukan dekontruksi terhadap hal-hal vulgar, dan dengan piawainya mengubah kekerasan menjadi komedi satir. Dari latar hingga tokoh dalam buku ini mendukung semua kekonyolan dan kegilaan dari cerita. . “Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Kamu tidak pernah menyembunyikan sesuatu, tapi menyembunyikan sesuatu.” . #bacaapahariini #ekakurniawan #sepertidendamrinduharusdibayartuntas #bookstagram












