Mempertanyakan keimanan seseorang
Perihal keimanan, siapa beriman, siapa tidak. Bukanlah masalah kita sebagai manusia. Kita gak punya hak untuk ngecap seberapa beriman manusia lain. Tapi kita punya hak untuk mengingatkan apa yang kita tau. Bila ada yang terlihat salah, yaa jelas harus dibenarkan. Jika berbeda dan tak bisa sama. Yakin tak bisa sama(?) Bagaimana kalau sama sama menghormati(?) hormat?
Bukan sok lancang mempertanyakan keimanan atau kefahaman orang lain. Tapi tak tega lah diri penuh dosa ini tau tapi berpura pura tak tau. Bukan sok sempurna karena mengingatkan yang lebih pintar. Tapi hanya sekedar melaksanakan kewajiban sesama manusia masa tidak boleh.
Aku cuma mau cerita aja tentang..
Aku yang belajar betapa mahalnya nikmat iman dari Allah. Aku yang teramat banyak dosa ini, bukan siapa siapa didunia ini tapi Allah qodar aku bisa menetapi agama yang benar dengan cara yang benar. Menikmati keimanan yang luar biasa, aku yang banyak dosa kayak gini beruntung banget diberi nikmat iman yang luar biasa. Bukti bahwa Allah tuh maha belas kasih pada setiap hambanya. Siapapun hambanya.
YaaAllah jika engkau memberi aku ilmu lebih, qodar lah hati ini ini bisa menjaga keilmuanmu dengan baik bisa memiliki hati yang rendah tidak sombong kepada siapapun apalagi kepada Mu. Bisa menghargai dan tidak meremehkan ilmu apapun agar bisa menjadi hikmah dan memperkuat hati ini untuk tetap bisa bersyukur.
Karena hal kecil saja bisa merubaha segalanya. entah apa karena sifat manusia yang meremehkan.
Contohnya nabi Adam, karena beliau merehkan hal kecil, tidak mau thoat saat disuruh jangan makan kuldi. Malah dimakan, sehingga satu nikmat allah ambil dari dia. Allah qodar dia kebumi.
Coba deh yaa istilanya tuu, cuma dari kesalaham kecil aja(sikap meremehkan kita) menunjukan begitu sangat kecil juga buat Allah mengambilnya (mudah banget). Kurang apa lagi sihh surga, cuman disuruh thoat jangan makan buahnya, ehh malah dimakan. Mudah banget buat allah mengambil semua yang kita miliki yaa kan... Mungkin sekarang kita ngerasanya masih, “apaan biasa aja kalii” tapi nanti pass hal itu benar benar hilang. Akan kosong banget hati. Pasti.
Ada juga cerita Jin, dia yang yang luar biasa gitu kan Allah diciptakan lebih dulu truss Allah ciptakan dia dari api, tapi karena kesombonganya tidak mau thoat untuk hormat ke nabi adam Allah cabut nikmat keimanannya.
Padahal kurang apa? Allah udah jamin kalo dia mau hormat ke nabi adam Allah kasih surga. Surga loo surgaa surgaa weiii. Tapi apa? jin malah sombong. “Untuk apa hormat dengan adam dia terbut dari tanah, aku dari apii” Sombong. Dan sedihnya sifat itu juga yang kadang manusia tidak bisa merasakannya secara sadar. Begitu mudah terhasut hawa nafsunya.
Bayangkan hal hal yang kita remehkan bisa menghilangkan banyak banget nikmat dihidup kita. Itu nabi adam dan jin. Kita hanya manusia biasa gitu, yang bahkan tidak punya mukzizat apapun. hidup didunia hanya sekali, Itulah pentingnya kita dianjurkan merawat hati kita.
Memang gak mudah mengaji dengan baik, memiliki banyak amalan, membela quran dan hadist, menyambung ilmu, lalu menthoati yang berhak dithoati. Kadang kita meremehkan sesuatu. Yang kita anggap kecil, padahal dari hal yang kita remehkan itu bisa menhilangkan nikmat dari Allah. Bahkan hal sekecil thoat, kadang masih mempertanyakan kenapa harus ini harus itu. Sok tau dengan kesombongan dan merehkannya manusia...
YaaAllah diingetin banget...
Jangan sombong, walaupun kamu pintar, jenius, punya banyak hataman, hafalan, jangan sampe ngerasa pol, Bisa aja itu hawa nafsu yang malah menghilangkan nikmat Allah.
Yaa tulisan ini bukan maksut ngerasa paling pintar atau gimana cuman jadi pesan untuk diri saya sendiri yang penuh dosa.
Bersyukur bahwa nikmat Allah itu untuk siapapun. Pun saat kamu ngelakuin kesalahan, siapapun kamu. Mau kamu insinyur/orang pintar/ulama/orang bodoh/pelacur/apapun. Yang penting kamu mau mengakui kesalahan, truss tobat. Allah pasti memaafkan. Insyaallah masih ada waktu kok