Pernah dengar gelar Kapitan? Aku dong pernah, Kapitan Pattimura yang merupakan salah satu pahlawan nasional dari Maluku.
Muehehehee.
Tapi bukan itu. Aku ngga bakal ngebahas tentang Kapitan Pattimura sih. Kali ini aku bakal ngebahas tentang rumah kapitan di kota Bagansiapiapi Kabupaten Rokan Hilir – Riau. Rumah ini tepatnya berada di Jl. Kelenteng tepat berada di belakang hotel Lion.
Oey I Tam adalah keturunan Tionghoa yang diberi hak oleh Belanda untuk melakukan kontrol perdagangan di Kota Bagan. Untuk kepentingan itu pula Belanda memberinya gelar Kapitan. Dalam berbagai sumber juga menyebutkan bahwa Kapitan adalah pejabat yang diangkat oleh pemerintah kolonial Belanda yang biasanya dipilih berdasarkan ketokohan serta pengaruh dalam komunitas masyarakat pedagang Tionghua.
Rumah Kapitan
Rumah yang memiliki perpaduan arsitektur Melayu dan Tionghua ini kabarnya sudah berdiri sejak abad ke-18. Lokasi rumah ini berada tak jauh dari kelenteng In Hok Kiong. Tapi sayang nya pesona rumah ini tertutupi oleh ruko-ruko yang berdiri disekitarnya.
Awalnya ketika baru sampai di lokasi, ku kira rumah ini dimiliki oleh etnis melayu, karena bentukan rumah kapitan ini yang merupakan rumah panggung membuatku mengira demikian. Soalnya semenjak masuk kota Bagan, sangat jarang aku bisa melihat rumah-rumah panggung ciri khas masyarakat melayu seperti yang biasanya pernah kulihat. Tapi ternyata setelah didekati barulah kesan orientalnya terlihat jelas.
Rumah kapitan
Dan seandainya boleh menebak-nebak dari tampak luar rumah ini. Aku teringat perkataan seorang teman arsitek yang menyebutkan apabila sebuah rumah panggung memiliki tangga masuk yang terbuat dari Batu menandakan bahwa pemilik rumah tersebut adalah orang kaya. Hal ini disebabkan biaya pembuatan tangga batu tersebut dahulunya lumayan mahal. Jadi aku menebak bahwa Kapitan Oey I Tam ini adalah orang kaya jika
dilihat dari tangga batu dan bagian bawah bangunan rumah tersebut. Ditambah lagi hanya rumah ini satu-satunya bangunan tua yang memiliki tangga masuk yang terbuat dari batu. Oke ini hanya asal tebak yaa, soalnya aku juga tidak tahu apakah bagian tangga ke arah jalan itu berusia sama tua nya dengan bangunan utama rumah tersebut.
Tapi ternyata Kapitan Oey I Tam ini benar-benar orang kaya. Karena dalam catatan Belanda, mantan Kapitan Bengkalis Oey I Tam memiliki hak monopoli garam di kota Bagan bersama Tjong A Fie, kapitan Tionghoa di Medan. Mereka memonopoli masuknya garam dari Singapura bahkan Mesir ke kota Bagan. Belanda mencatat, pendapatan bersih Oey memonopoli garam pada tahun 1908 sebesar 112.000 gulden.
Oke sip kita lanjut aja masuk ke rumah ini ya.
Rumah ternyata cukup besar, dan ketika memasuki bagian dalam rumah ini agak sedikit sedih karena kurang terawat dan ternyata ada banyak bekas kotoran burung wallet yang menempel di dinding bagian dalam bangunan. Rumah ini sebenarnya masih dihuni oleh ahli warisnya. Karena burung wallet yang masuk ke bagian depan rumah ini pada malam hari tak dapat diusir, akhirnya keluarga yang menghuni rumah ini terpaksa mengalah dan menempati bagian belakang rumah ini.
Ukiran di bagian depan bangunan
Jpeg
Jpeg
Jpeg
Ukiran dan ornamen yang menghiasi bangunan rumah ini konon kabarnya dikerjakan oleh pengrajin yang dibawa langsung dari China. Memang sih, tukang-tukang jaman dulu memang luar biasa.
Sepenglihatanku, hampir seluruh bangunan ini terbuat dari kayu. Langit-langit, dinding rumah, lantai, sekat-sekat udara. Dan ketika kita masuk ke bagian dalam kita akan langsung disambut oleh sebuah piano tua yang juga terbuat dari kayu dengan tulisan entah itu Belanda atau Jerman dibagian depannya.
Piano Tua di Rumah Kapitan
Sayang, piano ini tidak terawat, bagian tuts nya yang terbuat dari gading pun sudah ada beberapa yang patah dan retak. Bahkan bagian mesin didalam piano ini juga sudah hancur.
Jpeg
Jpeg
Tak jauh dari piano ini ada sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu yang juga dibawa langsung dari China, memang banyak benda-benda perabot dari rumah ini yang langsung dibawa dari China langsung.
Sayang rumah yang sudah berusia lebih dari dua abad ini belum menyandang gelar Cagar Budaya secara resmi. Kurang tau juga apa yang membuat pemerintah Rohil tidak bergegas melestarikan rumah bersejarah ini.
Memang sudah menjadi kewajiban pemilik rumah untuk menjaga rumah ini. Tetapi jika melihat kondisi ekonomi keluarga tersebut, rasanya terlalu berlebihan untuk memberikan tanggung jawab pelestarian benda pusaka tersebut hanya ke satu pihak. Karena kebanyakan kasus hilangnya benda-benda pusaka selama ini salah satunya adalah karena masalah ekonomi. Menjual benda-benda pusaka dengan harga yang lumayan tinggi terdengar seperti solusi tercepat dalam mengatasi permasalahan ekonomi para pewaris benda pusaka.
Padahal pelestarian benda pusaka sebenarnya juga bisa memberikan nilai ekonomi yang lumayan tinggi jika ada kerja sama antara pemilik rumah, pihak pelestarian, serta pemerintah dalam mengelolanya.
#gallery-0-15 { margin: auto; } #gallery-0-15 .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 33%; } #gallery-0-15 img { border: 2px solid #cfcfcf; } #gallery-0-15 .gallery-caption { margin-left: 0; } /* see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php */
Ukiran di bagian atas dinding bangunan
Rumah Kapitan
Langit-langit
Bagian belakang
Tempat sembahyang
Terdapat dilangit-langit di beranda
Yuk, main ke Rumah Kapitan di Bagan Pernah dengar gelar Kapitan? Aku dong pernah, Kapitan Pattimura yang merupakan salah satu pahlawan nasional dari Maluku.













