KAMU, YA IT'S YOU
Dulu.. he drained me everyday
of being disrespect on me, and I couldn't free myself. Dia terlalu rapi wraping dirinya, bersembunyi dibalik simbol kereligiusan yang sudah begitu melekat.
Dan bagianku, menjaga "marwahnya", banyak yang mengira betapa beruntungnya aku. Mereka tak tahu "part" dirinya yang menghancurkanku.
Begitupun dia, selalu memuji-muji aku didepan banyak orang, dia pikir "akulah si paling baik dan kamu, wanita yang harus banyak bersyukur". Aku risih dengan segala pujiannya itu, "aku gak butuhkan itu... aku tak butuh respon orang lain. aku hanya ingin dia tanggung jawab, ada saat kami butuh, tindakannya, cara berpikirnya, gaya hidupnya bisa kumengerti dan bisa kurasakan; kahartos, karaos... setiap harinya, beresonansi ke diri, bertransformasi, wujud dalam laku dan tutur yang menentramkan hati.
Aku butuh empati, dia haus validasi. Kita memang tak sefrekuensi di banyak hal. Aku selalu pas dan cocok buatnya, tapi apa dia pernah bertanya pada diri "am I worth for her?"
Aku bicara apa sih? -- Selalu cenderung senang pada "harapan-harapan kecil". Hingga segampang itu mereda hanya dengan janji-janji tak teruji bukti.
☔
Kini, ijinkan aku bertumbuh setiap hari
denganmu... aku nyaman, and there are no second guess, you are the one who let me be the person who I want to be. Denganmu aku merasa free and careless... laugh, sing, or just talking "sh*t"
Aku tak khawatir tentang how should I look, karena kamu si paling perhatian. Suddenly, you can be the fashion stylish, beauty consultant, health couch yang galak or whatever you want to be... karena kamu ingin aku tampil lebih cantik dan elegan. Aku tidak pernah sakit hati di bodyshamming olehmu, honestly aku malah tersenyum senang, aku butuh lelaki jujur ini... saklek dan accountable!
Can I call you, MINE?
















