Kamu tau gak, nggak semua masalah harus di selesain. Kadang, ada yang cuma cukup di terima aja. di nikmati rasanya, dinikmati nyeseknya. ya nikmati aja...
Masa Lalu misalnya.
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from T1

seen from Singapore
seen from T1
seen from Australia
seen from China
seen from Mexico

seen from United States
seen from Taiwan
seen from Mexico

seen from United States

seen from Mexico
seen from Saudi Arabia
seen from Mexico

seen from Switzerland
seen from United States
seen from China

seen from India
Kamu tau gak, nggak semua masalah harus di selesain. Kadang, ada yang cuma cukup di terima aja. di nikmati rasanya, dinikmati nyeseknya. ya nikmati aja...
Masa Lalu misalnya.
KITA, hanyalah perihal mencintai takdir...
Hari ini aku menyadari sesuatu, bahwa hidup bukan sekedar perihal menemukan perkara mencintai dan dicintai. Mungkin, aku tidak bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya (lagi), tapi aku percaya aku bisa membangun kembali cinta terbaikku. Entah berlabuh pada siapa nanti, siapapun dia, “Hei, lihatlah ada perempuan disini yang siap di hebatkan dan menghebatkan,”
Kupikir setelah dihempaskan dengan cara yang menurutnya teramat baik, aku akan marah, kecewa, atau bahkan tidak percaya (lagi). Memang, ku akui, aku sempat terpuruk, menangis, menyesali, tapi ku pikir itu tak ada guna. Bagaimana mungkin aku menyiksa diriku sendiri dengan keterpurukanku sedangkan dia? Dia telah berbahagia dengan pilihannya. Maka, kuputuskan aku pun harus menemukan kembali bahagiaku.
Seseorang pernah mengatakan padaku, bahwa jika kamu kecewa pada manusia maka obatnya manusia juga. Hmmm, ku pikir sedikit keliru. Kepada siapapun kecewa mu maka labuhkan kepada Pemilik perasaan itu, Penciptamu. Jika obat kecewa mu manusia, bukankah manusia juga yang akan membuatmu kecewa? Sedangkan bila obatnya Penciptamu, bukankah Pencipta tak pernah mengecewakan kita? Hanya saja, kadang kita tak sabar menanti waktu terbaiknya.
Aku bersyukur, di hari ini aku melihat diriku yang beberapa waktu belakangan hilang telah kembali. Tidak perlu uluran tangan orang lain untuk menyembuhkan, karena aku percaya “Kebahagiaan berawal dari dalam diri sendiri, bukan orang lain.”
Cinta yang aku serahkan dulu, kini telah dikembalikannya. Kugenggam kembali cinta itu, utuh tanpa tertinggal, untuk nanti kuserahkan utuh pula pada pemilik sejatinya, dan kuharap semesta tidak lagi sebercanda ini terhadap kisah cintaku ya, heheheh
Nanti, jangan lupa untuk bertanya ya, bagaimana perjuanganku, perjuangan mempertahankan yang tak semudah mendapatkan. Akan aku ceritakan pula kesalahan dimasa lalu ku ya, supaya apa? Supaya kau yakin, bahwa aku tak pernah main-main soal perasaan. Akan aku deskripsikan juga bagaimana kerumitan jalan pikiranku, tentang kedalaman perasaanku atau mungkin kebodohanku? Aah tidak, tidak ada hal bodoh yang telah kulakukan, semua berkontribusi membentuk siapa aku hari ini.
Jadi, selamat bertemu di pertemuan yang direstuin semesta ya, Nanti.....
Dulu, kamu hanya bahan bergosip diantara teman-temanku. Lalu kemudian, sosokmu menjadi rangkaian cerita dalam obrolan antara aku dan orangtua ku. Dan kini, semua tentangmu telah menjadi topik pembicaraanku pada Tuhan.
22-Feb-2018
Tak perlu khawatir untuk hari esok. Jalani saja. Toh, pada kenyataannya hidupmu di hari ini tak lebih buruk dari hari kemarin
Sudah takdirmu untuk membaik di setiap hari…
Semua terganti...
Perihal apapun di hidup ini, sejatinya tak ada yang benar-benar hilang. Hanya terganti, terganti dengan yang lebih baik.
Coretan Awal Tahun...
Bila ini formulanya, baiklah akan aku pelajari
Bila ini jalannya, baiklah akan aku tapaki
Mungkin tidak sekilat mereka, tidak pula secepat harapan mereka. Tetapi, jangan berpikiran aku akan terlalu lamban atau mungkin terhenti seketika.
Tidak...
Semua proses akan aku lalui, Meski harus terseok-seok pun tak masalah. Sebelum ini, bahkan aku sudah berkali-kali tergopoh-gopoh menyetarakan apa yang seharusnya aku setarakan, menerima apa yang seharusnya aku terima, menghapus apa yang seyogyanya terhapus, dan menyelesaikan apa yang semestinya aku selesaikan.
Jadi, biasa saja..
Setahuku, Aku sedang tak berusaha mengubah apapun. Tidak tentang jalan hidup atau mungkin takdir ku. Lucu sekali, bahkan aku saja tak mengerti perihal jalan dan takdir hidup. Lalu, bagaimana mungkin aku mengubahnya?
Tidak...
Aku tidak mengubah apapun.
Aku hanya mengupayakan jalan terbaik di takdir yang mungkin sedang tak baik.
Jakarta, 1 Muharram 1439 H
DTA
....Dalam menjalin hubungan, sulit membedakan antara sebenarnya lo percaya seratus persen sama pasangan lo atau sebenarnya nggak ada kepercayaan sedikitpun di diri lo sampai akhirnya lo nyerah, lo nggak peduli. Seolah-olah lo percaya apapun yang dilakukan pasangan lo tetapi sebenarnya lo ‘Masa Bodoh’….
Jadi begini, akhir-akhir ini gue sering banget mendengar curhatan teman-teman gue, entah itu teman satu tempat tinggal, teman kantor, teman kampus, ataupun teman di group komunitas, japri, atau mungkin dari sekedar membaca curhatan galau seseorang di social media, tentang sulitnya membangun kepercayaan dalam suatu hubungan, baik itu hubungan di lingkungan keluarga, pekerjaan, pertemananan, persahabatan, percintaan, atau pun hubungan perselingkuhan (Damn! *yang terakhir abaikan).
-DTA, Don’t Trust Anyone---
Secara pribadi, gue sendiri pernah sih merasakan masa dimana gue nggak bisa percaya sama siapapun, sama orang-orang di sekitar gue, sama lingkungan gue, bahkan sama orang-orang yang selama ini care tulus sama gue. Di masa itu seolah-olah gue sedang membangun benteng besar di sekeliling gue hingga akhirnya terbentuklah doktrin sampah di diri gue bahwa gue nggak boleh dan nggak akan percaya siapapun di dunia ini, kecuali dua orang saja- Ayah dan ibu. Selebihnya? DTA.
Lambat laun apa yang terjadi di diri gue, banyak perubahan yang gue rasain, gue lebih menyepelekan niat-niat baik orang lain, nggak percaya dengan mereka yang katanya ‘seriously, gue bersungguh-sungguh, gue nggak main-main,’, gue nganggap semua orang itu fake, pamrih, dan muka dua. Sampai pada titik gue menyadari gue yang dulu nya suka bergaul, dibesarkan dalam lingkungan orang-orang yang suka bersosialiasi tiba-tiba menjadi care-less bahkan Ansos (Antisosial.red).
Dan, jadilah gue sebagai pecandu ‘dunia sendiri’.
---Prinsip gue adalah, “Gue nggak akan merepotkan orang, nggak pernah direpotkan pula oleh orang lain. Intinya kalau kata anak Jakarta sih, lo lo gue gue! Jangan percaya gue, jangan berharap apapun untuk gue lakuin”-
Lingkup pergaulan gue pun semakin lama semakin berkurang, teman-teman gue semakin hari semakin ‘hilang tanpa jejak’, yang dulunya bisa dibilang rumah gue itu bestcamp buat gue ngerjain tugas sekolah atau sekedar nongkrong akhirnya jadi senyap. Dan perubahan pelan-pelan itu membuat orang tua gue menyadari kalau ada yang ‘salah’ dari diri gue. Entah mengapa, terutama ibu gue jadi se-care ini dengan dunia pertemanan gue, yang tadinya cukup menjadi penonton berubah menjadi pemeran yang ‘ikut nyemplung’, bertanya tentang teman gue si A B C sampe Z..dan semua nya gue jawab, “Nggak tau, nggak peduli, dan gk ngefek juga buat hidupku!”
Point terbesar yang menjadi perhatian ibu gue adalah bukan tentang sikap care-less gue, tetapi penyebab gue bisa jadi manusia ansos itu yang beliau fokuskan. Hingga akhirnya berceritalah gue bahwa temen gue melakukan perbuatan yang paling nggak terpuji, mengkhianati, memojokkan, mengadu domba, dan gue nggak mau berteman sama dia lagi bahkan nggak mau berteman sama siapapun juga.
Ibu gue bilang, gue harus berteman, memiliki sahabat, seperti kata eyang Aristoteles bahwa manusia adalah mahluk social jadi butuh bersosialisasi, tanpa terkecuali gue cucunya pun harus bersosialisasi. Entah selanjutnya dalam lingkaran pergaulan itu akan ditemukan lagi atau nggak manusia yang hobi ‘teman makan teman’, Intinya satu : Percaya sama teman boleh, bego jangan, apalagi dimanfaatin! Lalu, ketika gue merasa dimanfaatin atau diperlakukan tidak adil, hal pertama yang harus dilakukan adalah ‘Ungkapkan,”. Bila tidak berhasil, ada dua opsi berikutnya, (1) Terima saja diri gue sebagai orang yang dimanfaatin, (2) Hindari lingkungan pertemanan yang tidak kondusif seperti itu, gue nggak perlu menarik diri, cukup buat batasan bagaimana harus bersikap didalamnya.
Selanjutnya, fokus ocehan gue adalah tentang kepercayaan dalam suatu hubungan (you know what I mean, hubungan antara mahluk berlainan jenis-Pasangan).
Suatu ketika, rekan kerja gue pernah mengeluhkan tentang pasangannya yang dia anggap tidak bisa dipercaya, entah itu masalah perasaan atau pun ketegasan prinsip. Awalnya gue berpikir dia bisa menilai pasangannya sebagai pribadi yang tidak bisa dipercaya dengan cara dia berdiskusi dengan pasangannya, q-time bersama ataupun dengan kegiatan lainnya. Tetapi ternyata, dia mengetahui itu semua setelah dia menduplicate room chat pasangannya. Dia shock mendapati segala keburukan pasangannya. Dan jelas gue dua kali lebih shock mendapati seorang dia yang gue sematkan ‘Judgement’ baik didirinya mau melakukan hal bodoh bin sampah seperti itu.
Point terbesar yang bikin gue nggak habis pikir adalah ternyata ada tipikal manusia yang meng-kepoin pasangan sampai sebegitunya. Masih batas wajar kalau mengkepoin pasangan melalui postingan social medianya, melalu update-tan terbarunya, scrolling akun media social si do’i, karena gue percaya siapapun pernah melakukan ini, setidaknya diawal hubungan (menurut gue ini reflex aja, sebab insting ketetarikan sama si do’i yang bikin pengen tahu all about si do’i). Tetapi, kalau sampai maksa saling tau kode lockscreen handphone, sharing password, menurut gue sudah diluar batas sih. Apalagi, sampai menduplicate roomchat pasangan. Ohh........
....”Pliss, semua orang butuh privacy”....
Dengan menduplicate roomchat pasangan untuk mengetahui gerak-gerik pasangan, apakah bisa membuat kita semakin yakin dengan hubungan yang sedang dijalani? No! yang ada malah nyusahin pikiran kita sendiri. Keyakinan untuk suatu hubungan nggak didapat dengan cara sedemikian buruk, tetapi dengan penilaian diri sendiri, masih kasat mata, bagaimana kita diperlakukan dan memperlakukan pasangan. Simplenya, kalau seandainya tidak ada kepercayaan dalam suatu hubungan, buat apa hubungan tersebut masih ada? Seribu cara yang kita punya untuk menjauhkan pasangan dari hal buruk, tetapi pada dasarnya telah ada sepuluh ribu cara yang pasangan kita siapkan jika memang dia berniat berprilaku buruk. Jelas pada akhirnya kita kehabisan cara, setelahnya? Setahun mendatang? Sepuluh tahun mendatang? Akan lelah sendiri. Jadi, baiknya berikan pasanganmu kepercayaan seutuhnya, sebab pasangan yang baik tahu bagaimana cara bermain diatas kepercayaanmu.
Dan kalau ternyata dia mengkhianati kepercayaanmu? Simple, lepaskan dia! Yakin saja, bahwa semesta sedang berkerja mempersiapkan semua perihal baik untukmu.
#P.S pasangan yang gue maksud disini bukan pasangan suami istri ya, kalau pasangan itu gue nggak tau..hahahhaaaha
Semoga kita tidak berlaku sia-sia, tidak saling menyia-nyiakan, dan tidak saling disia-siakan.