Selangkah Lagi Menuju Mimpi yang Baru
Sudah lama sekali tumblr ini tidak saya sentuh karena berbagai kesibukan kerja dan hal lainnya, senang sekali akhirnya bisa berbagi sekali lagi melalui tumblr ini.
Yang namanya mimpi memang tidak akan pernah habis, saya sudah merasakan hal ini dalam pengalaman terbaru saya. Kali ini saya ingin share mengenai pengalaman baru yang saya dapatkan selama 7 hari yang lalu di PK22 LPDP selama 16-22 November 2014 yang lalu. PK selama ini diidentikkan dengan Program Kepemimpinan, namun kali ini pihak panitia LPDP menyebutkan PK sebagai Persiapan Keberangkatan. Terlepas dari apapun namanya, saya merasakan begitu banyak manfaat yang saya dapatkan dari program ini, begitu juga kepemimpinan.
PK merupakan salah satu tahapan yang dilalui oleh Calon Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Karena saya kebetukan beruntung lolos dari seleksi wawancara, maka saya pun diundang untuk mengikuti PK. PK ini dimulai dengan berbagai tugas Pra-PK. Mulai dari tugas untuk membuat biografi teman supaya saling mengenal dalam satu angkatan, tugas persembahan angkatan yang kebetulan saya terlibat di dalamnya sebagai penari, bahkan hingga tugas untuk membuat mars dan ikrar. Berbagai tugas yang mungkin sederhana sekaligus rumit ini telah membuat saya selama beberapa minggu sebelum PK untuk berada di kantor hingga malam hari (maklum, namanya anak kos, cuman bisa numpang wi-fi di kantor)
Kemudian saat-saat menegangkan pun datang ketika hari pertama PK dimulai. Acara berlangsung di Wisma Hijau, Depok, Jawa Barat. Di hari pertama saya tiba, saya pun dapat menemukan berbagai peserta yang berasal dari seluruh Indonesia. Mereka tidak lagi tampak asing karena interaksi kami saat berada di media sosial ataupun saat pengerjaan tugas Pra-PK. Semuanya pun punya mimpi yang sama, yaitu untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi di jenjang magister ataupun doctor. (Saat ini LPDP hanya memberikan beasiswa kepada dua program tersebut)
Saya masuk ke dalam kelompok Wahidin Soediro Husodo, pada awal pertemuan, kami memang tampak masih canggung. Namun, seiring dengan banyaknya games ice breaking, tugas diskusi, dan obrolan kami bersama, kelompok ini tampak semakin kompak dan menyenangkan. Kami beranggotakan Adi Teopilus, Yudhistira Tesla, Adelia, Dwi Novitasari, Merry Rindi, Nugroho ‘Nukuzh’, Risdya Levina, Frima Dhani, Aditya Rakhman, Makdis Sari, Wulansih Dwiastuti, Vania esandy, Gena Bijaksana, M. Fahmi, M. Ardie, dan saya sendiri tentunya.
Hari pertama adalah hari perkenalan dan hari dimana kami belajar bahwa sebagai pemimpin, kami juga harus siap untuk dipimpin. Hari pertama dimulai dengan pemilihan Ketua PK. Sebelumnya Agus merupakan ketua Pra-PK, namun untuk PK ini, ketua yang terpilih adalah Risdya Levina dari kelompok kami. Semua peserta PK tahu benar, bahwa tanpa adanya pimpinan dari ketua PK, maka koordinasi kami sesame peserta PK dan dengan panitia dari LPDP akan sulit terfasilitasi, maka dari itu, Vina terpilih sebagai pemimpin di antara kami semua dan kami pun akan menghargai segala arahan dan keputusannya karena kamilah juga yang telah memilihnya. Bukan hanya itu, hari pertama kami juga dibekali pengetahuan softskill oleh Tantia Dian. Yang menjadi hal lucu adalah beliau merupakan pembicara pertama saat saya berada dalam masa orientasi di Universitas Indonesia dulunya, dan sekarang saya bertemu lagi dengan beliau saat orientasi menuju penerimaan beasiswa dari LPDP. Saya belajar banyak darinya karena beliau menekankan untuk tidak lari apabila tidak puas dengan suatu keadaan, melainkan dengan sekuat tenaga mengubah itu menjadi sesuatu yang sesuai dengan harapan kita. Juga ada Yudhi Latief sebagai pembicara lainnya, yang mengingatkan saya akan keberagaman Indonesia.
Hari berikutnya pun diwarnai dengan berbagai aktifitas indoor maupun outdoor. Untuk sesi indoor kami mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan berbagai pembicara yang kompeten yang juga dapat menggerakkan hati kami, seperti Eko Prasetyo, Misri Gozan, Zainal Abidin, Arief Munandar, Husein Ibrahim, Ratna Prabandarie, Rangga Almahendra dan Hanum Rais, Waskito P. Sutarno, dan Farizal. (apabila punya kesempatan lagi, saya akan membahasnya di thread lain supaya lebih detail J, ditunggu saja ya)
Sedangkan untuk sesi outdoor kami diberi kesempatan untuk berkontribusi kepada masyarakat sekitar melalui Sharing and Inspirational Class. Melalui kegiatan ini, kami berusaha untuk memberikan motivasi kepada siswa-siswa SMA yang kurang begitu banyak minatnya untuk meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Kemarin, kami berkunjung ke SMA Pramuka Depok yang jumlah siswa satu sekolahnya hanya 18 orang. Memang bukan sekolah yang besar dan anak-anaknya pun tampak tidak istimewa. Namun, mengetahui mereka menjadi begitu semangat untuk melanjutkan kuliah setelah kami datang begitu membuat tidur saya menjadi nyenyak hari itu.
Pada sesi outdoor juga kami berkesempatan untuk mencicipi outbound dan paintball di Cikole, Bandung. Sesi ini adalah sesi yang paling saya senangi karena kami sebagai tim benar-benar bisa saling mengenal karakter satu dengan yang lain dengan interaksi yang ada selama permainan. Banyak pula permainan baru yang belum perna saya coba yang ternyata merangsang adrenalin, keberanian, termasuk kemampuan kami dalam mengatur strategi.
Pada hari penutupan pun, kami menyuguhkan drama musikal angkatan yang semua peserta PK 22 berpartisipasi di dalamnya. Drama ini bukan hanya membuat kami tertawa, tetapi juga haru karena kami harus terpisahkan setelah drama penutupan ini.
Selama tujuh hari ini, saya telah belajar untuk menjadi pribadi yang memiliki integritas, profesionalitas, melayani, bersinergi dengan orang lain, dan untuk menjadi pribadi yang sempurna. Saya juga banyak belajar dari seluruh peserta PK yang beragam usianya dan beragam pengalamannya. Bapak Anthony, yang merupakan salah satu peserta difabel di angkatan kami juga menginspirasi saya untuk tidak pernah menyerah pada keadaan dan mimpi yang saya miliki. Terima kasih banyak untuk seluruh teman-teman PK 22! Saya sungguh terinspirasi dari kalian dan pada kesempatan ini saya juga meminta maaf atas seluruh kekurangan yang terjadi selama PK.
Dengan berakhirnya PK 22 ini, saya kembali memiliki keluarga yang baru dengan putra-putri terbaik Bangsa Indonesia sekaligus memiliki mimpi yang baru untuk menempuh pendidikan di negeri seberang untuk kembali lagi memajukan Indonesia. Saya sungguh bangga bisa menjadi bagian dalam keluarga besar ini yang juga memiliki misi dan semangat yang sama dengan saya. Semoga saja PK-22 bisa meraih mimpi kami bersama untuk memakmurkan tanah air ini!








