⚠️ MIGHT CONTAIN SOMETHING TRIGGERED. PLEASE READ IF YOU ARE IN THE PERFECT CONDITION AND STABILIZE ENOUGH. ⚠️
Yang ditakutkan sudah terjadi.
Dari ratusan juta insan Indonesia,
Dari ratusan ribu ahli di bidangnya,
Dari puluhan kali mockup yang terlaksana,
Kenapa saat wawancara hari H,
Saya harus dipertemukan dengan sosok inti dari kontribusi yang saya punya?
Izinkanlah saya bercerita, mengenai pengalaman yang tidak disangka-sangka.
Terdapat tiga nama alias disana, pak Asep, Pak Iyung, dan Mas Tjisaka.
Pertama, Pak Asep bertanya soal diri dan kontribusi, namun beliau tidak "mengerti", apalagi "membeli". Jadi saya harus menghabiskan waktu untuk menjelaskan konsep, masalah, dan solusi.
Tidak ada masalah sejauh ini. Keyakinan masih terpatri tegap di dalam hati.
Kedua, pak Iyung bertanya lebih mendalam mengenai kontribusi yang ingin saya jalani. Meskipun nada pertanyaannya terasa seperti menghakimi, namun saya tetap tegak berdiri.
Karena saya keras kepala, akhirnya dia mengungkapkan dirinya juga.
"Iya, saya sebenarnya core inti dari program kontribusi yang anda punya."
Deg. Pikiran langsung kabur. Hati langsung hancur.
Dengan wajah yang terus tersenyum, saya terus mendengar rangkaian pertanyaan yang seperti menelanjangi, demi memastikan kapabilitas dan visi untuk ibu pertiwi.
Hingga pada satu titik, saat aku sudah "melunak" dan "berefleksi", beliau menghabiskan dua puluh menit untuk menceramahi, entah agar membulatkan hati dan pikiranku lagi, atau berkata secara tidak langsung agar mencoba tahun depan lagi.
Saat pertanyaan terakhir oleh mas Tjisaka sebagai psikolog, pikiranku sudah tidak bulat lagi.
Tidak ada topeng, tidak ada kebohongan, tidak ada "jawaban aman".
I got nothing to lose. Aku jawab semuanya apa adanya, mulai dari organisasi kampus, momen paling jatuh, alasan kenapa bangkit, hingga pertanyaan personal mengenai orang tua dan pasangan.
Dan ternyata, beliau menghargai kejujuranku, dan mengapresiasi seluruh cerita hidup dan mimpi-mimpiku.
Bagai oase di tengah gurun, aku melihat seberkah cahaya, dari gelapnya proses tidak terduga yang sedang ada.
Siapapun yang membaca pesan ini.
Please, prepare for the best, but expect for the worst.
We won't know what type of obstacle that would come in the future.
It might be as small as sand, however, it might escalate into as big as the great wall of China.
Keep your composure.
Keep your rule.
No matter what happens, GET UP, DRESS UP, SHOW UP, and never ever FRICKIN GIVE UP.
"We'll walk this road together, through the storm.
Whatever weather, cold or warm.
Just lettin' you know that you're not alone.
Holla if you feel like you've been down the same road."
-Eminem, Slim Shady, and Marshall Bruce Mathers III.
Last year, I struggled to breathe freely while managing a heavy workload at the office, as it marked my fifth year with the current company.
I remember mornings filled with anxiety, knowing I had to wake up soon and head to the office.
Work became less enjoyable; I lost interest and grew to dislike my peers, seniors, and how poorly my office treated its employees. They neglected our mental health, workloads, and rights. The thought of leaving immediately and pursuing a different path, particularly returning to education, frequently crossed my mind.
And then it began.
While shedding tears at night and reflecting on my life, I began preparing to pursue further education, with a scholarship as my means to study abroad, as I couldn't afford it on my own.
However, you know, when your mind is completely burnt out, you can't help but feel stuck.
Progress was slow; it turned out my IELTS test results were not as expected. Although sufficient for me to register for LPDP, they were inadequate for enrollment in the PTUD programs at Oxford and UCL that I had targeted.
Nevertheless, I remained determined to proceed with the scholarship process while also planning to retake the IELTS test, which was a mandatory requirement for these campuses. Fortunately, these institutions allowed conditional offers without an IELTS result, presenting an opportunity for me to register early and await the results before deciding on another test attempt.
However, as the second phase of the test approached, I received news from Oxford that I had failed the test.
As I know that Oxford is like a big dream for many but realizing that the reason of my failure might be due to the insufficient preparation, I keep questioning myself whether the outcome could have been better. If I had put in twice the effort, I might have achieved better results, or at least felt better.
But the result was still there. I then prepared myself to answer potential questions from the interviewer about the progress of my application. It became even more challenging as I tried to find a way to explain the situation without revealing that I had not adequately prepared for the admission.
But yeah, at that time, I was being honest to them, stated that I have failed. Fortunately, they didnt ask further the potential reason.
However, the rest of the interview process went well, at least as far as I could tell. I knew I should have answered some questions more diplomatically, considering they want someone who could contribute to the country upon returning to Indonesia. Instead, I remained straightforward and stuck to my own ideas. Although I know it was not a really bad notion at all, my study will contribute to the country, but I should have stated that in a better manners without undermining their ideas.
But yeah, then I failed.
It tore me apart. I called my mom and screamed, realizing that I would continue working in my current office and knowing that I would have to retake the test and possibly start the postgraduate program next year when I would be 30. It was scary and full of uncertainty, and seeing my best friend successfully manage the test made me jealous.
But,
I've learned something…
Allah guide me.
He help me.
It overwhelmed me with enlightenment.
And I might share it with you all, maybe in the next story.
Thanks god for everything, Allah melancarkan segala urusanku dalam mendaftar beasiswa ini. It's kinda long journey, mulai dari persiapan toefl, nyari LoA, pendaftaran LPDP sampe pengumuman substansi kurang lebih 6 bulan semuanya lancar, ga ada kesalahan, penolakan, kegagalan. Allah baik banget Gue wawancara 2 April which is day 1 dari panjangnya rangkaian jadwal wawancara, agak shik shak shok karena gue harus OVT yang sangat lama untuk menunggu pengumuman di 10 Juni. Beberapa purnama kulewatkan, kusempatkan untuk melanturkan doa-doa permohonan dan ampunan di 10 malam terakhir ramadhan, alhamdulillah sempat i'tikaf satu malem, sebelum akhirnya tumbang sampe lebaran :") Pokoknya selama menunggu pengumuman lumayan agak kena mental ges karena gue selalu bener-bener terngiang2 pertanyaan-pertanyaan panelis pada saat itu, udah sampe nangis berkali-kali, mules, pening, gak nafsu makan, semua gejala udah gue laluin Tiba di hari H, 10 Juni, Jam 21.00 gue pantengin, gue refresh terus webnya karena sedang gangguan. SAMPE JEM 12 akhirnya muncul permohonan maaf LPDP kalau jadinya di undur ke tanggal 11 Juni. Dalam hatiku, sial cape-cape saya nunggu, eh muncul di twitter "gapapa ditunda, berarti masih ada kesempatan untuk lebih banyak berdoa" makjleb, habis baca twit itu gua langsung cus ambil wudhu, sholat hajat, habis sholat hati gue tenang, akhirnya gue ketiduran.
BANGUN JEM 4, gue buka twitter buat liat latest update pengumuman. UDAH KELUAR, ada yang SCREENSHOT passinggrade LPDP 1000 gilaaaaaa, disitu gue nangis nagis padahal belum buka akun gue. Gue langsung ambil wudhu, gue sholat lagi, gue berdoa yang kenceng sambil deg-degan buka web LPDP. AKHIRNYA dengan penuh keberanian dan penasaran, hal yang gue liat duluan adalah score gue bukan tulisan selamat.
Kira kira begini penampakannya.
Ya allah, langsung nangis bombay gue diatas sejadah. Rasanya lega banget?? seakan akan dunia ku balik kembali:") Bukan mau sombong, tapi gue merasa amalan-amalan baik gue selama ini litereli membawa keberkahan, kelancaran dan kemudahan dalam proses seleksi LPDP kali ini, gue dipertemukan oleh mentor mentor yang keren banget, sampe essay gue di rombakin sama beliau?! pas substansi gue juga alhamdulillah banget dapet panelis yang SUPER DUPER CHILL. Gue juga berkali-kali appreciate diri gue kalo gue keren banget bisa ONESHOT gils. Sekian perjalanan melanjutkan studi guee, habis ini tinggal urus berkas karena intake agustus. Sampai jumpa di babblingtaci edisi lain
Berkuliah ke Luar Negeri dengan Beasiswa LPDP: Pilihan Utama Calon Mahasiswa S2
Bagi banyak mahasiswa di Indonesia, impian untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seringkali terhambat oleh keterbatasan biaya. Namun, dengan hadirnya beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), peluang untuk meraih gelar magister di universitas ternama dunia menjadi lebih terbuka. Tidak hanya menawarkan dukungan finansial, beasiswa LPDP juga memberikan berbagai…
Kepikiran nulis ini udah dari kapan tau buat di arsip, tapi baru bisa kejadian sekarang. Mumpung LPDP lagi buka dan lagi pengen nulis, jadi ya sekarang aja. Dan setelah dapet chat dari beberapa teman dan orang ntah dari mana, nanyain ini juga, kayanya lebih enak kalo ditulis, biar ga lupa dan bisa jawabannya ntar lebih rapih dan informatif (gaada yang kelupaan) kalo ada yang butuh informasi tambahan terkait ini. Dan makanya sengaja rubrik ini ditulis dalam bahasa indo. Btw, dah lama ga nulis panjang pake bahasa indo, jadi rada kagok, apalagi masalah kata ganti. Mau pake 'aku' tapi kok rada aneh karena jarang make ini ama temen, mau pake 'gw', ya enak sih, tapi rada ga formal. Yaudahlahya pake yg kedua aja, toh emang gausah formal lah cerita ini wkwkwk. Semoga ntar masih ada mood-nya buat bikin bab selanjutnya ya.
<1>
Bismillah
Kalo inget lagi hadis arba'in yang pertama-dan karena memang ingatnya cuma yg pertama sih wkwk-, itu kan amalan mulainya dari niatnya ya. Sama kayak cerita ini. Niat buat belajar ke luar negeri, atau Jerman lebih tepatnya, itu muncul di semester lima madrasah tsanawiyah. Waktu itu, ada sosialisasi MAN IC dari guru. Terus guru ini bawa-bawa cerita kak Taqwa, alumni MTs kita. Si kakak ini, waktu itu, jadi orang pertama dan satu''nya yang tembus IC. Yang bikin mupeng waktu itu adalah, kak Taqwa lanjut kuliah di Jepang. Nah, mulailah dari situ ada kepengen kuliah ke luar. Terus, setelah cari-cari info tentang nih IC, dapetlah ceritanya pak Habibi. Diceritakanlah ama ortu tentang beliau ini, ya kalo pak Habibi ini kuliah di Jerman, dan kerjanya pesawat-pesawatan. Ya karena umur segitu emang senang ngeliat pesawat --waktu tinggal dua tahun di sintang, itu bener-bener belakang rumah, buka pintu dapar, langsung ngeliat landasan udara, tiap sore ada aja pesawat lewat--, jadilah kepikiran soal pak Habibi dan Jerman.
Ini juga yang ngebuat gw mau banget buat ngerantau ke IC ini. Setelah diskusi ama ibu,papa, alm. om Enda, teh Rima, mbah kakung dan almaruhumah mbah uti, akhirnya bulatlah niat buat ke IC, sebagai langkah pertama untuk ke luar negeri. Qadarullah, ga lama setelah itu, mbah kakung dan almarhumah mbah uti berangkat haji kan, jadi bisalah nitipin doa, buat ke IC dan biar bisa sampai kuliah ke Jerman. The sad part is, the moment we took my grandparents to the airport, that was also the very last moment I saw almarhumah mbah uti. Yet, her prayer on the Haram has brought me so far, tho without her ever witnessing it :(. Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un.
<2>
Singkat cerita, sampailah gw di IC, dengan salah satu harapan utamanya: lulus IC bisa lanjut kuliah di Jerman. Tapi ya baru satu semester, langsung kebanjiran fakta wkwk. Liat nilai kok kayanya kaga bakal bisa ya ngebawa gw ke eropa. Kalo gasalah inget, itu semester satu, gw rangking paralel di Axiora MIPA itu sepuluh, tapi dari bawah wkwk. Tapi karena gw orangnya batu, itu remed berkali-kali ga ngilangin mimpi buat ke Jerman. Malah sebaliknya.
Ini karena guru BK terbaik, Bu Rini, yang sering banget datengin alumni IC yang udah kuliah di luar. Pernah ada satu cowok yg di Jerman tapi gw lupa siapa. Terus sampai ada juga satu cewek, gw juga lupa namanya wkwk. Ceritanya, si kakak ini juga secara rangking itu bobrok parah di IC, bahkan katanya pernah juga masuk sepuluh besar terakhir. Tapi dia lanjut tuh kuliah di Jepang. 'Berarti gw juga bisa', pikir gw waktu itu kan.
Masuk kelas 11, dateng lagi kabar duka. Om enda, salah satu yang ngasih dukungan paling besar juga buat gw ngerantau dan kuliah ke luar, wafat. Yet, another person who really wanted me for this, but qadarullah is never able to see it. Nah di kelas 11 ini juga pak Away ngasi tugas buat peta hidup. Disitulah gw ngegambar negara Jerman, di tahun 2022, setelah gw lulus FTMD di tahun 2021. Awalnya pengen gw tulis kan dari S1 gitu di luar, tapi ya, udah kemakan fakta matem nya bu Rita dan biologi bu Eti, jadi ya gitu wkwk.
Satsetsatset, tiba" kelas duabelas. Sebenernya masih pengen kuliah s1 ke luar. Jadilah waktu itu coba nyiapin daftar MEXT di Tohoku, bareng Ipul, Jiul, dan Tamam. IELTS dan SAT udah diambil, tapi ujung"nya ya kaga daftar juga gw wkwk. Ini karena nilai SAT nya bikin ga percaya diri dan lagi persiapan SBMPTN juga kan. Setelah diskusi sama ortu, akhirnya ibu bilang: 'mending s1 di ITB dulu aja, tar insyaallah s2 bisa, ga ke Jepang, tapi langsung ke Jerman'. Terus yaudah, karena ibu sudah berkata, ya kita cuma bisa bilang 'iya'.
<3>
Terus udah lulus ic, tibalah hari SBMPTN. Waktu itu kita, ada gw, poy, apep, hapis(kalo gasalah), sama Jopir, nginep di tempat arip sehari sebelum sbm. Itu karena lokasi tesnya rada deket dari tempat si arip. Selesai sbmptn, perasaannya sebenernya antara optimis dan pesimis. Kalo diitung-itung poin dari jawaban gw, sebenernya cukup buat passing grade FTMD yang diadain sama berbagai bimbel, nah tapi rada mepet banget, yang kalo gw ada ga teliti atau ga hoki, bisa jadi ga lulus. Mana habis sbmptn langsung disamperi abang NF nawarin program ronin buat setahun ke depan pula, yang bener aja wkwk.
Selain SBMPTN, gw juga pastinya ada cadangan dong, yaitu UTUL UGM. Tapi, di UTUL ini gw memang udah nekat dan bulat buat ga ngambil teknik, karena dulu mikirnya ya kalo ga di teknik, mungkin memang di yang lain. Jadilah pas UTUL gw ngambil FKG wkwkwkwk. Sebenernya bukan asal-asal iseng aja, tapi karena memang om Ijal ada klinik gigi di Pontianak, dan nantinya, gw bisa ngelanjutin klinik keluarga ini. Jadilah gw ke UGM, bareng hapis dan si poy. Pas ngerjain UTUL, kok ngerasa gampang banget ya soalnya wkwk. Kaga ribet dan mirip soal tahun sebelumnya. Akhirnya kejawab deh itu semua soal dengan sangat yakin. Pas selesai, perasaan campur aduk. Seneng karena gw bisa jawab semua soal dengan yakin, optimis gw bakal lolos nih FKG, tapi rada takut juga kalo ternyata gw harus belajar FKG, mengingat betapa gw gabisa dan ga terlalu demen biologi wkwkwk.
Cerita singkat, keluarlah pengumuman sbmptn. Hamdalah lulus. Terus beberapa hari (atau minggu, gw lupa), keluar juga pengumuman UTUL. Dan sesuai ekspektasi, lulus FKG-nya wkwkwk. Tapi karena dari awal pengennya teknik, ya jadilah masuk FTMD. Sebenernya om Ijal waktu itu masih berharap gw berubah pikiran buat masuk FKG, tapi ya gimana, maap yak om wkwk.
Setelah pengumuman, langsung tuh coba daftar beasiswa unggulan. Selain karena bisa ngeringanin beban ortu, salah satu alasan utama lain adalah buat latihan. Cari pengalaman daftar beasiswa, nulis esai, minta surat rekom, interview, dan sebagainya, buat nanti daftar daftar beasiswa untuk S2. Yes, as soon as I got admitted to FTMD, I directly set my goal to go to Germany for graduate study and I also told my parents that same day, and they said that since that moment, they would start putting my wish to Germany in their prayer.
<4>
Agustus 2017, sampailah di Bandung, dengan satu tujuan yang udah bulat banget: Lulus tepat waktu di 2021, terus lanjutin S2 di Jerman--walaupun waktu itu belum tau univnya--.
Baru masuk semester 5, mulailah niat ini diimplementasikan. Cari info univ, cari info beasiswa, dan bikin timeline. Setelah liburan semester 5, dapetlah nama univ dan beasiswa plus jadilah timeline ini. Disitu juga di set kalo emang gw gamau ikut apa" lagi, sampe nolak pas diajak jadi kepala divisi media di Gamais dan BPH di IMAM FTMD. Nama-nama univ dan berdasarkan levelnya, Tier 1:TUM di Jerman, RWTH di Jerman, ETH di Zurich, KTH di Swedia, TU delft di Belanda; Tier 2: Politecnico MIlano di Itali, Tohoku di Jepang, Tokodai di Jepang, QMUL di UK; Tier 3: METU di Turki, sama ada satu univ di budapest gw lupa namanya wkwk. Buat beasiswa ada juga, Tier 1: LPDP; Tier 2: SISGP, MEXT, Turkiye burslari. Terus timelinenya kalo gasalah gini: Semester 6 mulai cari info detil buat beasiswa dan cara daftar kampusnya, semester 6 juga mulai belajar IELTS dan GRE mandiri, terus liburan yang setelah semester 6 ngambil IELTS, terus akhir semester 7 nanti ambil GRE, terus kerja praktik di awal semester 8, terus selesai tesis dan Wisjul di tahun 2021, terus ambil lpdp yang batch 2 tahun 2021. Walaupun intinya ini timeline, alhamdulillah, sesuai rencana, tapi ya sebenernya kaga juga wkwk.
Masuk bulan maret semester 6, tiba" muncul ini yang namanya covid dari depok cina, dan gw harus balik ke pontianak dari bandung. Dan qadarullah ternyata covid nya lama wkwk. Jadi, karena di Pontianak gaada buat tes GRE, akhirnya gajadi lah gw ambil gre. Dan IELTS pun jadinya ngambil di Pontianak. Karena gw gaada GRE, list univ pun berkurang, karena sebagian ada yang minta. Setelah semester 6 dan habis liat detil admisi tiap univ, jadilah list univ tinggal: TUM, KTH, dan buat cadangan ada Politecnico Milano, dan METU. Univ Jepang di drop karena daftarnya ribet parah, harus kontak dulu ke professor dan punya bayangan mau riset kayak gimana. List beasiswa pun tinggal LPDP dan Turkiya Burslari, karena SISGP ternyata harus ada pengalaman kerja. Si TUM, KTH, dan politeknik milan ini ada di daftarnya LPDP, sedangkan METU ini cuma jurusan perminyakannya aja yang masuk LPDP.
Udah deh, habis semester 7, KP, lulus tepat waktu, dengan semua niat dan rencana yang udah dibikin, barulah gw masuk ke fase berikutnya: DAFTAR!
That's it for now, hopefully I'll be able to tell the next sequence, sooner, or later hahah. Time to continue study now :)
Munich, 16.01.2024
---
Pesan dan kesan dari BAB 1:
Niat ke Jerman itu mulai dari 'kepengen' pas dari tsanawiyah, jadi ga ujug" gw berangkat habis lulus S1
Doa yang dibawain keluarga, terutama mbah kung dan almarhumah mbah uti di tanah haram itu jadi salah satu faktor utama. Ceritanya mungkin bakal beda kalo tanpa doa mereka.
Dukungan dan restu keluarga, apalagi Ibu, itu paling penting sih kalo kata gw. Karena dari awal banget udah direstui, gw alhamdulillah ngerasa gaada drama atau masalah yang gimana-gimana sampai sekarang terkait studi ini. Lancar" aja gitu semuanya.
Tugas peta hidup pak away yang dulu selalu gw tempel di kamar kos di bandung juga membantu ngejaga motivasi. Jadi, kayanya visualisasi dari keinginan itu bisa jadi faktor yang ga kalah penting juga.
Niat itu kan baru yang pertama ya, ya tentu harus ada implementasinya. Bikin planning, belajar, googling cari info kampus dan beasiswa ga kalah penting juga.
Ga kebayang deh kalo gw ngambil FKG, bisa survive apa kaga ya itu wkwk
Minggu lalu saya memberanikan diri membuka sesi open consultation buat teman-teman follower saya di Instagram yang sedang mempertimbangkan atau dalam proses persiapan untuk lanjut kuliah, baik untuk S-2 maupun S-3.
Dari sana, saya terpikir untuk menuliskan gambaran umum terkait apa saja yang saya sampaikan selama sesi konsultasi. Untuk tulisan ini, saya akan membahas tentang mengapa dan bagaimana seseorang dipilih menjadi awardee atau penerima beasiswa.
Pertama, cari tahu objektif dan gol dari pemberian beasiswa oleh pemilik dana.
Contoh mudahnya adalah beasiswa LPDP. Investasi pemerintah lewat dana abadi yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memiliki tujuan menyiapkan pemimpin masa depan lewat pembiayaan kuliah yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM lintas bidang/sektor yang nantinya mendukung akselerasi pembangunan negara.
Mari kita lihat beberapa kata kunci yang mengindikasikan tipikal atau profil yang dicari oleh LPDP.
1. Pemimpin masa depan
Orang sudah punya pengalaman atau kelihatan bibit kepemimpinannya akan mendapatkan nilai plus.
2. Mendukung akselerasi pembangunan negara
Orang yang punya visi dan niat baik untuk membantu pembangunan, khususnya di sektor keahlian atau yang diminatinya. Yang dicari adalah orang yang punya visi untuk berkontribusi untuk bangsa dan negara, bukan individu yang hanya berfokus untuk kesuksesan dan pencapaian pribadi. Orang-orang yang punya pengalaman berkegiatan sosial dan memberi dampak ke masyarakat akan mendapatkan nilai plus.
3. Lintar sektor
LPDP memprioritaskan bidang-bidang keahlian yang mencakup pada teknik dan rekayasa, sains, pertanian, hukum, ekonomi, kesehatan, keagamaan dan sosiokultural. Sebenarnya fokusnya tidak fokus-fokus amat. Ayo, bidang keahlian apa yang sama sekali tidak termasuk dalam kategori-kategori tersebut di atas xD
Dari kata lintas sektor (across the fields) setidaknya saya pikir ada dua hal yang bisa jadi pegangan, yaitu orang yang dicari adalah orang yang sudah tahu bidang apa yang ia ingin tekuni; dan bidang keahlian punya kuota masing-masing--sehingga kompetisimu hanya dengan orang-orang sebidangmu.
Setelah mempertimbangkan tiga kata kunci di atas, setidaknya pendaftar bisa menyesuaikan nada (tone) esainya, terutama dalam memilih jurusan/kampus yang sesuai minat, menyortir pengalaman dan pengamatan yang relevan, dan menyusun alur cerita. Lebih banyak pengalaman kerja dan berorganisasi tentunya "material" cerita akan lebih banyak dan kamu akan lebih leluasa dalam membuat alur yang sesuai.
Kedua, tulislah esai motivasi yang straight-forward and well-packaged.
Esai yang ngalor-ngidul akan membingungkan tim penilai. Esai yang melompat-lompat atau terlalu banyak cabangnya juga berpotensi mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan. Jika kamu punya 5-7 why's untuk dituliskan, coba pilih 3 saja yang bisa dibungkus dan terjalin ke dalam satu visi besar.
Biasanya saya akan menyarankan gambaran alur esai motivasi sebagai berikut:
A) Mulai dari memunculkan masalah riil ke permukaan berdasarkan pengamatan dan pengalaman
"Masalah" ini bisa berupa ketidakidealan kondisi (struktural, operasional, manajerial, dll.) saat ini, kesiapan/persiapan dalam melihat tren global, atau pengalaman pribadi yang bisa ditarik menjadi satu hal urgen untuk diselesaikan. Semakin "riil" dan relateable dalam menggambarkan masalah ini, maka semakin terlihat urgensinya. Semakin personal, biasanya, pembaca juga akan semakin mudah untuk tersentuh.
B) Lanjutkan dengan memberi solusi yang memungkinkan (feasible solutions)
Solusi ini bisa berupa satu solusi yang langsung mengena atau satu dari beberapa faktor yang berkaitan untuk mewujudkan suatu perubahan sistemik.
C) Beri tahu bagaimana visi pribadi sejalan dengan "solusi" di atas
Di sini, pendaftar diharapkan memiliki visi yang besar dan impactful, seperti dengan menjadi menteri, menjadi ahli, dan membuat perusahaan atau inisiatif sosial terkait.
D) Tuliskan alur dan langkah-langkah mewujudkan visi itu
Penjabaran hendaknya meyakinkan dengan didukung step by step yang dapat dinalar. Misalnya,
"Melanjutkan kuliah S-2 di School of Photovoltaic and Renewable Energy Engineering, UNSW akan menyiapkan saya secara teoritis untuk nantinya mengembangkan keahlian di bidang sel surya non-silikon yang terjangkau dan relatif minimum initial capital expenditure dalam pendirian industrinya di dalam negeri. Selanjutnya, saya ingin mendalami halide perovskite (salah satu material fotovoltaik generasi baru yang menjanjikan) dengan mengambil studi doktoral di Oxford University yang juga merupakan satu dari beberapa grup riset pionir untuk material ini."
Untuk menuliskan storyline yang baik diperlukan riset informasi terkait dan visualisasi mimpi yang relatif konkret dan (sedikit) ambisius. Riset di sini akan memberikan konteks dalam mimpi-mimpi dan milestone yang ingin dicapai.
Ketiga, there is no harm in self-editing.
Setelah menyelesaikan draf esai, ambillah jeda 2-3 hari. Setelah itu baca lagi draf esai dengan pikiran jernih dan istirahat yang cukup. Biasanya, nanti akan terlihat bagian yang masih bolong, melompat, atau belum koheren. Jika diperlukan argumen atau detail tambahan, tidak ada salahnya untuk melakukan riset lebih lanjut.
Details will make your essay more convincing, coherence will make it readable.
Setelah melalui 1-2 ronde self-editing dan jika masih ada waktu, barulah meminta pendapat dari kolega, teman, atau senior yang dipercaya akan memberikan dampak yang lebih signifikan. Kalau yang mau diminta input masih bingung saat baca esainya karena ngalor ngidul atau melompat, feedback-nya bakalan untuk restructure. Sedangkan jika sudah rapi, feedback-nya akan lebih kepada fine-tuning alias poles dalam pilihan kata supaya lebih nendang dan meyakinkan.