Pagi itu, Seorin High School diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Udara terasa lembap dan menusuk, namun bagi Yohan, rasa dingin yang paling tajam justru berasal dari ulu hatinya. Ia berdiri di koridor lantai tiga, dekat jendela besar yang menghadap ke arah gerbang, tempat ia kehilangan setengah detiknya kemarin.
Pintu kelas 3-1 terbuka. Yura melangkah masuk, dan seketika itu juga, napas Yohan tertahan.
Gadis itu tampak rapuh, seolah terbuat dari kaca yang hampir retak. Kulitnya yang biasanya putih pucat kini terlihat hampir transparan, dengan rona kemerahan yang tidak sehat di sekitar hidung dan telinganya. Rambut cokelatnya tidak terikat rapi seperti biasanya; beberapa helai tampak masih sedikit lembap, menempel di dahi dan lehernya yang dingin.
Yohan memperhatikan bagaimana bahu Yura menegang pelan setiap kali ia menarik napas. Jaket wol yang ia kenakan tampak berat, seolah masih menyimpan sisa-sisa air hujan yang tidak sempat menguap sepenuhnya. Saat ia duduk, Yura menyandarkan kepalanya ke meja, memejamkan mata dengan bibir yang sedikit bergetar—menahan menggigil yang mencoba menyerang tubuhnya.
“Seharusnya aku bergerak lebih cepat,” batin Yohan. Tangannya yang berada di dalam saku celana meremas gagang payung hitamnya yang kering—payung yang terasa seperti sebuah ejekan sekarang. “Hanya satu langkah lagi, dan dia tidak perlu menanggung dingin ini sendirian. Bodoh... kau benar-benar diam saja saat dia berjalan menembus badai.”
Yohan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Rasa bersalah itu bukan lagi sekadar pikiran, tapi sudah menjadi beban fisik yang membuat dadanya sesak. Ia melihat Yura mencoba membuka botol air mineralnya dengan tangan yang gemetar, namun gagal. Gadis itu akhirnya menyerah dan kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan.
Yohan tidak bisa lagi hanya berdiri dan menonton.
Perpustakaan, Waktu Istirahat.
Yura mencari kehangatan di antara rak-rak buku tua yang tinggi, berharap debu dan kayu bisa memberikan sedikit rasa nyaman. Ia duduk di kursi paling pojok, mencoba fokus pada buku catatannya, namun setiap huruf yang ia tulis tampak kabur. Kepalanya terasa berat, berdenyut seiring dengan detak jantungnya.
Tap. Tap.
Sebuah benda hangat tiba-tiba diletakkan di samping buku catatannya. Yura mendongak dengan gerakan lambat.
Yohan berdiri di sana. Ia tidak memakai jaket sekolahnya—jaket itu kini tersampir di sandaran kursi Yura tanpa sepatah kata pun. Di depan Yura, terdapat sebuah botol thermos kecil milik Yohan yang mengeluarkan uap tipis aroma jahe dan madu.
"Minumlah," ucap Yohan pendek. Suaranya datar, namun matanya yang bulat menatap lurus ke arah mata cokelat Yura yang kini terlihat sayu.
Yura menatap jaket di bahunya, lalu menatap thermos itu. "Yohan-ssi... ini milikmu?"
"Ibuku membuatnya pagi ini. Aku tidak suka minuman manis," bohong Yohan. Padahal, ia tadi harus memohon pada bibi di kantin untuk meminjamkan air panas agar ia bisa mencairkan madu sasetan yang ia beli di toko bawah.
Yohan duduk di kursi seberang Yura, namun ia tidak membuka buku. Ia hanya duduk diam, memperhatikan Yura yang perlahan menyesap minuman hangat itu. Yohan bisa melihat bagaimana warna perlahan kembali ke pipi pucat Yura.
"Kenapa kau diam saja di lobi kemarin?" tanya Yura tiba-tiba, suaranya serak. "Aku sempat melihatmu berdiri di sana dengan payungmu."
Yohan membeku. Alis tebalnya bertaut rapat. Jadi, Yura melihatnya? Dia melihat keraguannya?
"Aku... aku hanya sedang menunggu seseorang," bohong Yohan lagi, suaranya sedikit pecah di akhir kalimat. "Lalu taksimu datang, jadi aku pikir kau tidak butuh bantuanku."
Yura tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa menyakitkan bagi Yohan. "Aku sempat berharap kau akan datang. Tapi tak apa, mungkin setengah detik memang jarak yang terlalu jauh untuk kita, ya?"
Kalimat itu menghantam Yohan tepat di titik yang paling rapuh. Ia menatap Yura yang kini kembali menyandarkan kepalanya, kali ini di atas jaket milik Yohan yang masih menyimpan hangat tubuh laki-laki itu.
Yohan ingin bicara. Ingin meminta maaf. Ingin bilang bahwa ia menyesal setengah mati karena telah membiarkan ego dan keraguannya menang. Namun, lidahnya terasa kaku. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, berjanji dalam diam bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan setengah detik itu menghancurkan apa pun di antara mereka.
Di tengah kesunyian perpustakaan, Yohan menyadari satu hal yang menakutkan: melihat Yura sakit jauh lebih menyiksanya daripada rasa lapar atau lelah mana pun yang pernah ia rasakan.