Menjadi Pendidik
Mengulas tulisan yang pernah aku tulis dulu (lupa kapannya), tdk pernah terpikir untuk menjadi pendidik. Dimasa pandemi covid19 ini, semakin membuat aku merasa kyk, “oh ya saya bertanggung jawab dengan mereka”
Pembelajaran online ini banyak memberikan pelajaran. Lebih komunikatif dengan anak, lebih peka terhadap masalah anak, memahami kondisi anak, mencari tahu lebih banyak ketika anak tdk mengikuti pembelajaran hari itu. Wah, pokoknya banyak banget yang aku rasain. Dengan kondisi aku yang belum berumah tangga dan otomatis belum ngerasain dong gimana punya anak. Hehe. Aku sibuk menghubungi anak-anak yang tidak hadir tanpa kabar. Semua ku coba, mulai dr mencari tahu lewat teman, menelfon orang tua (sudah pasti), jika orang tua tidak bisa dihubungi aku putar otak untuk mencari taunnya dengan cara lain, seperti lewat tetangganya (karena 1 sekolah) wkwk. Ya, sampai sperti itu. Aku rasa semua orang tua juga melakukan hal yang sama, jika mereka kehilangan komunikasi dengan anaknya.
DUH! Pembahasan ku berat ya. Tapi itulah, aku merasa BERTANGGUNG JAWAB terhadap mereka. Padahal kalau dipikir-pikir, “kenapa juga sih harus repot-repot cari tau, anaknya aja gak peduli”. But, I cant! Ada aja pergerakan hati untuk mencari mereka.
satu lagi yang membuat aku bahagia menjadi pendidik. Ibaratnya tidak ada bekas orang tua atau bekas anak, begitu juga guru. Tidak ada bekas guru. Atau bekas siswa. Mereka yang sudah lulus masih sering menghubungi aku, tanya kabar atau sekedar curhat masalah percintaan. Yang paling mengharukan, setiap lebaran pasti selalu ada saja yang datang ke rmh, untuk silaturahmi dan pastinya minta THR hahaha. Menjadi pendidik mengajarkanku banyak hal tentang anak dan oranng tua, sebelum aku menjadi orang tua yang sesungguhnya:)















