manusia itu tidak mungkin sempurna, semua juga tahu.
tapi, bagi saya yang baru ‘hidup’ alias mulai mengenal wajah dunia yang sebenarnya di kisaran umur 20 tahun, ada pemahaman yang timbul dalam diri ini. yang sebetulnya tidak bisa dibenarkan juga 100%, tapi tetap saja saya yakini, sesuai dengan kapasitas saya dalam mencerna setiap peristiwa yang terjadi di depan mata.
topeng. manusia pasti memasang topeng saat berhadapan dengan orang lain. tidak ada yang benar-benar murni menunjukkan siapa dirinya ke hadapan sesama manusia, karena yang mengetahui diri seseorang seutuhnya cuma Tuhan, karena orang itu sendiri juga belum tentu mengenal dirinya.
dan bicara soal topeng-topeng manusia ini...
saya akan jauh lebih respek pada orang yang tidak memakai topeng yang baik, bopeng-bopeng, bukan dari porselen mengilat yang terpoles dengan cantik dan indah, tapi di balik topeng itu, wajah aslinya, tidak sebopeng topeng yang ia tampilkan dalam kesehariannya,
dibandingkan dengan orang yang memakai topeng indah, mulus, tanpa cacat, menyejukkan mata siapapun yang memandangnya, hanya untuk menutupi wajah penuh borok busuk yang mengeluarkan nanah-membuat jijik siapapun yang memandangnya bila topeng indahnya dibuka.
jujur, saya lebih baik melihat orang yang urakan, tukang nyebat, dan makiannya sebelas dua belas dengan supir angkutan umum, tapi maksud dari kata-kata yang terucap darinya lebih jujur daripada orang (yang terlihat) baik-baik yang santun, halus tutur katanya, tapi ia lakukan itu semua demi maksud terselubung bernama ambisi untuk mencapai tujuan tertentu. intinya, tidak ikhlas.
hari gini ngomongin ikhlas sih emang susah.
tapi bukan berarti kamu jadi munafik.
namun... apalah arti ikhlas saat ambisi membutakan mata.
karena manusia, makin ke atas makin sibuk mempercantik topengnya. demi mengantongi simpati untuk memudahkan jalan memenuhi ambisi.
ah. apa yang lebih mengerikan dari orang bertopeng cantik yang penuh ambisi... mengejar kursi?
aku juga bukan orang suci. aku juga pemakai topeng.
tapi aku tahu mana topeng yang kupilih. dan aku sadar saat memakainya.
tulisan random yang dibuat saking muaknya dengan huru-hara politik di tingkat kampus (bukan fakultas loh, beda). muak. pakai. banget.
silakan saja kalian seribu kali memasang topeng-topeng indah berbentuk ‘klarifikasi’, tapi maaf, orang sepertiku yang sejak dulu tahu bagaimana tindak-tanduk grup topeng lawakmu itu, tidak akan terkesan sama sekali.
harusnya nggak peduli sih, karena toh grup topeng lawak itu sudah berakar terlalu dalam.
tapi... nggak tahan buat nggak nyinyir.