Hidup dan Badainya: Stay Alive!
Belakangan ini media seringkali dipenuhi oleh berita orang-orang yang bunuh diri.
Saya nggak bohong kalau saya prihatin dengan fenomena ini.
Tanpa bermaksud menghakimi mereka yang sudah pergi atau bermaksud menjadi ahli jiwa dadakan, saya ingin sedikit berbagi.
Umur saya di tahun 2017 ini sudah 23. Sudah banyak kejadian yang saya lewati selama perjalanan hidup saya sampai hari ini. Salah satunya adalah badai luar biasa yang menerpa saya dan keluarga di tahun 2015 lalu, saat saya berumur 21 tahun dan masih polos soal dunia, jati diri juga masih entah dimana.
Well, sekarang juga masih belum sepenuhnya menemukan jati diri sih, tapi paling tidak saya tidak se-clueless dua tahun yang lalu.
Di 2015, keluarga kecil saya mengalami badai finansial luar biasa yang menyebabkan masalah seolah datang dari segala arah. Depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah. Bisnis ayah saya bangkrut dan seperti lazimnya bisnis bangkrut, kami terlibat masalah dengan banyak orang. Salah satu mobil saya diambil untuk melunasi hutang. Dan itu berlanjut sampai 2016, dimana mobil satu-satunya yang tersisa terpaksa digadai selama 6 bulan, lagi-lagi untuk melunasi hutang.
Saya yang masih kaget dengan cobaan itu, harus siap menjadi tampungan curhat ibu saya yang juga sama stresnya. Beliau menopang seluruh masalah finansial keluarga kami sendirian, karena ayah saya berkali-kali gagal merintis usahanya kembali setelah kebangkrutannya di 2015. Belum lagi harus menghadapi tagihan banyak orang.
Saya kesal. Saya marah pada keadaan. Marah pada ayah saya yang saya anggap menyusahkan keluarga. Bahkan, saya yang mengajukan agar orangtua saya berpisah saja saat itu.
Iya memang kurang ajar, tapi saat itu saya sudah putus asa. Kenapa tiba-tiba badai besar menghajar keluarga kami tanpa ampun? Sementara di tahun 2014 hidup saya begiu nikmatnya. Kemana-mana gampang, uang rasanya amat sangat mudah didapatkan saat itu, termasuk dari ayah saya ketika beliau belum bangkrut.
Seolah semua belum cukup, di tahun yang sama, saya patah hati. Kalau itu belum cukup lagi, saya harus terima kenyataan bahwa saya banyak dibicarakan di belakang, apalagi setelah saya diangkat menjadi Treasurer di BEM. Meskipun saya berusaha sebisa mungkin untuk membuktikan bahwa omongan di belakang itu salah, tapi setahun kepengurusan saya di BEM 2015 adalah the worst time ever dalam segi perasaan nyaman dan senang saya selama tiga tahun nge-BEM. Tanpa anak-anak saya di Biro Project, tampaknya saya tak akan sanggup bertahan di BEM yang saat itu sebetulnya amat sangat membuat saya sakit.
Soal patah hati, tidak ada yang mau mengerti. Dengan entengnya orang-orang berkata, “Elah lebay lo, lupain aja sih! Pacaran juga nggak, sok-sok patah hati. Emang itu orang pernah bilang suka sama lo?”
Ya enggak sih. Tapi kalau kamu tiba-tiba dijauhi oleh sebab-sebab yang membuat kamu sakit hati luar biasa oleh orang yang sebelumnya kamu cintai, mau kamu pacaran atau enggak, saya bertaruh pasti rasanya sakit sekali.
Iya. Perasaan saya digampangkan karena memang saya nggak pacaran.
Soal omongan orang di belakang, saat saya curhat dengan sahabat saya, dia malah membeberkan list kesalahan saya selama setahun terakhir. Itu kejadiannya di hari ulang tahun saya, inget banget, haha. Saat itu, walaupun sakit, saya mencoba berbesar hati. Oke, saya pikir, mungkin emang dosa gue segudang sama banyak orang. Walau mostly yang ngomongin saya memang orang yang tidak kenal personal dengan saya. Hanya melihat saya di permukaan saja. Tapi ya, saya akui bahwa apa yang ditampilkan di permukaan juga tak kalah pentingnya dalam pergaulan.
Soal stres di BEM, semua Pengurus Inti juga capek, juga punya bebannya masing-masing. Dan saya harus mendapatkan kritik pedas apabila saya mengeluh. “Yang capek bukan cuma lo doang!”
Iya, tapi batin aku sakit karena kamu :)
Ahahaha. Oke fokus lagi. Saya tak pernah menunjukkan ini pada anak-anak saya karena tak pantas seorang supervisor terlihat lemah di mata anak-anaknya. Tapi alhamdulillah, mereka selalu bisa membuat saya semangat, tersenyum, dan tertawa lepas saat saya harus menghadapi badai di rumah, di kuliah, dan di sesama Pengurus Inti.
Dulu saya sempat terpikir, rasanya mau mati aja.
Tapi matinya gimana ya? Ngiris nadi, sakit coy! Minum racun, gak berani. Gantung diri, mau nali dimana juga?
Ternyata saya meskipun stres, rupanya masih takut mati.
Saya memang belum bisa dibilang depresi (atau malah sudah depresi ringan tapi saya tidak sadar?), tapi kondisi saya juga bukan kondisi yang baik saat itu. Saya yang tak punya riwayat rambut rontok, jadi rontok habis-habisan sampai menyumbat saluran kamar mandi. Saya susah tidur malam, sering sakit kepala. Saya hilang semangat kuliah. Nilai saya kebakaran (siapa yang kepikiran belajar Analisis Sekuritas dkk saat keadaan keluarga sedang kacau-kacaunya?). Tubuh saya berbulan-bulan gatal dan memerah tanpa sebab setiap pagi (bahkan dokter nggak tahu kenapa!). Saya bahkan batuk tak sembuh-sembuh. Saya sering nangis sendirian tengah malam meratapi nasib yang sepanjang tahun itu tak kunjung membaik.
Sungguh, sebuah keadaan yang nggak banget.
Saya tak bisa cerita pada orang-orang karena semua juga sedang hectic dengan urusan masing-masing. Apalagi soal masalah keluarga, baru sekarang saja saya ekspos (dengan harapan bisa berbagi dengan kalian yang membaca). Dulu, saya tutupi mati-matian karena saya malu dengan kondisi finansial orangtua saya yang jomplang sekali dengan hedonisme saya tahun 2014.
Tapi seperti seorang Tante baik pernah bilang pada saya, “Semua cobaan itu menimpa kamu agar kamu terasah menghadapi hidup ini, lalu bersinar terang bagai berlian.”
Stres, capek, tubuh berontak, tanpa teman yang bisa diajak berbagi (apalagi soal patah hati. Saya sebal sekali kalau perasaan saya digampangin), saya belajar untuk menjadi manusia dewasa.
Hidup saya tak serta merta bagai kisah indah tentang pelangi yang datang setelah badai. Bahkan di tahun 2016 semua badai masih berlanjut dan saya juga pakai acara telat lulus. Sampai sekarang pun saya juga masih berjuang mengejar banyak ketertinggalan dan mimpi-mimpi yang masih saya untai.
Alhamdulillah keadaan membaik dua tahun setelahnya. Ayah saya hijrah ke Surabaya untuk bisnis baru dan (Allah Maha Pengasih dan Penyayang) alhamdulillah performanya paling baik dibandingkan rekan-rekannya yang lain. Ya, keluarga saya memang jadi LDR, tapi saya percaya hijrahnya ayah saya adalah yang terbaik untuk keluarga kami. Saya semakin respek dan cinta luar biasa pada ayah saya dan amat sangat menyesal dulu meminta ibu saya bercerai saja. Saya juga mendapatkan pelajaran luar biasa dari ibu saya yang cintanya pada ayah saya sudah menyelamatkan keluarga kami. Ibu saya yang kepercayaannya pada ayah saya tak tergadai oleh apapun juga, yang sudah mempertahankan perkawinan mereka dari badai maha besar yang sebetulnya saya rasa bisa saja dulu ibu saya menyerah saja. Tapi bahkan beliau lebih kuat dari Wonder Woman :)
Soal hati? Baca postingan sebelumnya deh. Saya sudah tak peduli. Dulu saya tak rela jika dia bukan the one buat saya. Sekarang? Ya udah sih, I have so many things to think about. Saya sampai detik ini tak lagi bertegur sapa dengan orang itu, lebih karena saya menghormati perasaannya yang pasti akan risih kalau berbicara lagi dengan saya.
Saya bisa menyalurkan rasa cinta saya untuk banyak hal lain :)
Dan karena saya didewasakan si badai kehidupan, saya sadar bahwa sahabat terdekat kita adalah diri sendiri. Bukan berarti kita tak butuh orang lain, tapi kita harus paham bahwa orang lain punya bebannya masing-masing. Jangan sampai beban kita jadi membebani mereka juga. Dan jangan 100% menggantungkan hidup kita pada orang lain karena kamu masih punya suara hati paling murni yang mampu mengarahkan kamu untuk bagaimana ke depannya menjalani hidup.
Lantas apa hikmahnya kamu membeberkan semua ini di platform publik Vin?
Saya hanya ingin berkata, setiap manusia dikaruniai kemampuan self healing. Dalam kasus saya, saya memang menghadapi semuanya sendirian, tanpa bantuan profesional. Pernah sih saya mencoba ke psikolog UI yang tarifnya mencekik kantong. Tapi rupanya saya tidak cocok dengan beliau karena beliau malah menghakimi ayah saya, saat saya sebetulnya butuh seseorang yang membantu saya mengembalikan respek kepada ayah saya sendiri. Saya nggak paham ilmu yang dia gunakan, tapi saya hanya cukup sekali bertemu dengannya. Sudah. Tidak dilanjut. Mahal juga lagian.
Saya menulis, saya ketemu anak-anak saya di BEM, saya cari hiburan di sana-sini (yang tidak mengeluarkan banyak uang tentunya) supaya saya melupakan rasa sakit yang menghantam dimana-mana. Ya, memang orang lain berperan penting dalam penyembuhan rasa sakit batin kita. Tapi tak harus selalu dengan cara kita curhat. Kita bercanda aja sejujurnya sudah sangat menghibur batin yang lagi perih-perihnya.
Kalau memang kamu sudah di titik dimana kamu tidak bisa lagi self healing, temukanlah minimal satuuu saja orang yang kamu percaya. Ceritakan bahwa kamu mengalami rasa sakit batin tak tertahankan yang kamu rasa akan berbahaya sehingga pikiran untuk mengakhiri hidup sudah sering melintas di benakmu.
Bisa sahabat, keluarga, psikolog, atau bahkan hotline anti bunuh diri yang kini marak disebar.
Paling tidak itu bisa membantumu, apa solusi paling feasible untuk kamu lakukan. To get rid of those suicidal thoughts.
Karena oh karena kawan, kita semua punya masalah dengan kadarnya masing-masing. Masalah saya di atas mungkin terlihat sepele jika dibandingkan dengan masalah beberapa orang yang jauh lebih berat. Tapi saya yakin, kita punya jalan masing-masing untuk bisa going through the storm. Dan mengakhiri hidupmu sendiri bukanlah solusi. Sama sekali bukan.
Iya, saya bukan ahli kejiwaan, saya hanya bisa berpegang pada keyakinan luar biasa bahwa semua cobaan di hidup ini ada jalan keluarnya. Saya hanya ingin agar semua yang berbaik hati membaca tulisan ini sadar bahwa sejujurnya kamu mampu untuk menghadapi semua badai yang diberikan pada kamu. Apapun caranya. Asalkan kamu tetap memilih untuk hidup.
Ya, seni hidup adalah bersabar. Saya termasuk orang yang tak sabaran saat menghadapi cobaan sehingga saya lemah saat ada badai menerpa. Tapi toh hidup kita tidak selamanya badai. Ada banyak orang yang memang ditakdirkan untuk jadi bad cops dalam hidup, tapi kalau nuranimu mau mencari, good cops pun banyak di sekitarmu. Kamu hanya perlu membuka hati saja. Dan untuk bisa membuka hati, kamu harus bertahan hidup, kan? :)
Stay alive guys! Much love, Evin.
PS: Saya senang berteman. Tulisan saya Agustus lalu di line yang di share ribuan orang membuat saya mendapatkan beberapa teman baru. Asyik juga. Hehe. So, kalau ada yang ingin di share karena kalian sedang mengalami masalah yang kurang lebih sama dengan saya sepanjang 2015 kemarin, sila kirim ke [email protected]. Saya memang bukan orang yang memiliki latar belakang psikologi or stuffs like that, tapi saya senang kalau bisa sedikit meredakan beban siapapun yang sedang butuh tempat cerita :-)
(Depok lagi dingin banget btw)