Menonton Konser
masing-masing orang memiliki cara mereka menikmati hidup dan membelanjakan hasil keringat. ada yang lari ke makan, lari ke tempat sunyi, lari ke wahana pencakar langit, lari ke pusat perbelanjaan, ada juga yang lari dan melebur di keramaian konser musik. kalo tidak salah ingat, konser musik di panggung besar pertama saya adalah konser grup musik RAN di GOR UNY. saat itu saya masih menyandang status mahasiswa di kota istimewa. racun RAN saya dapatkan dari lifta yang entah sejak kapan suka dengan musik grup yang digawangi Rayi, Nino, dan Asta itu. jiwa muda kami waktu itu sangat antusias menunggu gelaran konser tiba. kami bahkan sudah menukar tiket dan mengantre dari bada dhuhur. (kami sudah memastikan bahwa hari itu tidak ada kegiatan kampus sehingga kami bisa leluasa mempersiapkan nge-RAN kami). sesuai dugaan, RAN mampu membius kami. rasa kecanduan nonton RAN pun meningkat. kebetulan, di tahun 2015 itu, RAN lagi sering banget ke jogja. alhasil, dalam satu tahun, kami nge-RAN total 3 kali. bersyukur bisa menghabiskan waktu muda di kota jogja. seakan tak hentinya banyak konser musik yang menjamur. saya semakin keranjingan berburu konser sana sini. pergi ke konser sendirian juga pernah. satu waktu saya sudah beli tiket early bird di event Farmasi Cup UGM bersama lifta. (ya, my one and only konseran-mate cuma lifta saat itu). namun, beberapa hari sebelumnya, lifta bilang kalau ada acara kampusnya yang nggak bisa ditinggalkan. alih-alih cari temen konser lain, saya memilih gass ke GOR UNY sendirian. menikmati suguhan thefinesttree, GAC, dan maliq & d'essential sendiri tanpa konser-mate. event Farmasi Cup bagi saya asik banget. bahkan setiap tahunnya aku dan lifta selalu menunggu datengnya konser tersebut. entah siapa guest starnya, kami cuss dateng. urusan tidak familiar dengan lagunya, itu masalah kecil karena bisa kami prepare jauh-jauh hari dengan menghafal lagunya biar bisa sing along di hari H. karena itu, salah seorang seniorku SMA yang merupakan mahasiswa farmasi UGM saat itu sampai hafal dengan kami dan selalu mencari batang hidung kami tiap farmasi cup hadir. :)) memasuki januari tahun 2019, lifta mengenalkan saya pada musiknya kunto aji. saat itu, kunto aji ada konser di pkkh UGM bersama pamungkas dan reality club. tanpa pikir panjang, saya mengiyakan ajakan lifta. tentu saja saya dan lifta sudah menyiapkan amunisi perang. kunto aji sangat super menawan! sangat nagih dan asik banget di telinga. terlebih setelah itu, album mantra-mantranya yang sangat fenomenal itu lahir. selama tahun 2019, nonton kunto aji ngonser di jogja aku dan lifta bisa sampai 3 kali. sangat healing dan menyegarkan pikiran. sejalan dengan kunto aji, di tahun 2019, saya mulai menyukai untuk datang konser tulus. karena akses yang mudah, ngonser tulus jadi makin menyenangkan. mendengarkan tulus sudah sejak lama, tapi berkesempatan untuk datang ke konsernya baru di awal 2019. dari talkshownya bersama wardah di UMY, menyanyi di event mocosik, hingga konser yang ciamik bersama kunto aji di GOR UNY. sampai kini, tulus tetap menyenangkan ditunggu untuk setiap konsernya. album baru yang ia keluarkan juga jadi magnet tersendiri untuk membawa ribuan orang hadir datang merayakan lagu-lagu ajaibnya. pandemi datang. seluruh konser dibatalkan dan tidak diijinkan beroperasi. saya dan lifta libur sejenak dari konser duniawi. pertengahan 2022, entah siapa yang mengawali, konser musik sudah kembali menjamur. tentu saja dengan harga tiket yang naik dua kali lipat dari biasanya. jika di tahun 2015 hingga awal 2020 dengan biaya 40ribu sudah bisa nonton konser, maka di tahun 2022 40ribu hanya cukup untuk biaya transport dan makan usai konser. wkeke. menambah genre musik, lagi-lagi lifta mengajak saya untuk mencoba berkoplo ria di september 2022 dengan nonton barisan grup musik dangdut asal jogja di GOR UNY. di tengah gempuran koplo yang menjamur, siapa yang bisa menolak barisan guyonwaton, ndx aka, aftershine, dan ngatmombilung hanya dengan cepek? di saat konser lain menaruh harga tiket above 150rb. lol. di luar dugaan, saat hari H, satu GOR UNY penuh laitan manusia baik di festival maupun di tribun. semua tumplek blek nyanyi dan joget bareng. seakan jadi pelarian dari hiruk pikuk kehidupan, semua tumpah dengan teriakan nyanyian para barisan sakit hati. dari situ, saya suka nonton guyonwaton dan koplo lainnya. ternyata, nonton koplo tidak seseram itu. oiya, mulai 2022 teman konser kami bertambah dengan adanya hakim dan vian. setelah pandemi konser musik benar-benar menjamur. tak jarang saya harus merelakan tak menonton ini itu karena keterbatasan waktu dan jarak tempuh. yang tidak kalah menyenangkan adalah berkat ajakan seorang sobat bernama khun, saya bisa menonton kesukaan jaman SMP yakni boyband SMASH. lol. di event gajah mada, khun bilang mau nonton olski kesukaannya, setelah saya liat line upnya ternyata ada guyonwaton dan SMASH, tanpa pikir panjang saya ajak lifta dan kami akhirnya deal. satu lagi pengalaman terbaik menonton konser ada di malam itu. berjoget bernyayi dan histeris karena salah satu bucket list jaman SMP terealisasi setelah lebih dari 10 tahun. memang semua butuh waktu yang tepat dan momen yang pas untuk keinginanmu satu per satu hadir. akhirnya, bagi saya menonton konser adalah cara dan metode healing yang tepat. merekam dan mengunggah keseruannya itu adalah salah satu bentuk apresiasi diri dan mereka yang menghibur. menonton konser lebih dari bernyanyi bersama, tapi ada emosi yang kamu salurkan lewat nada dan kata-kata.
NB: saya selalu excited untuk mengunggah hasil ngonser saya. ritual saya dan lifta setiap pulang setelah ngonser adalah memilah mana saja video dan foto yang akan diunggah. sebab banyak cara mengabadikan memori.
wonogiri, 2 april 2023
menulis di sini karena karakter terlalu panjang untuk instagram.










