Tulisan: Ramadan, Bulan Bertemu dengan Diri Sendiri
Tahukah kita bahwa setan-iblis beserta semuanya ketika tiba bulan Ramadan mereka akan dibelenggu?
Menurut saya, hampir semuanya tau.
Itu berarti, Ramadan hanya menyisakan kita bersama diri kita sendiri. Diri kita bersama hawa nafsu kita.
Lantas ada yang bertanya, ko Ramadan masih ada aja yang ga puasa? Ngerokok? Makan seenaknya siang bolong, masih ada yang maksiat juga, ada yang pamer kekayaan juga, ada yang nyontek pas UAS!1!!.
Nah.... terkait hal itu, kita kembali kepada dua hal:
1. Hakikat diciptakannya manusia: manusia adalah makhluk pertengahan. Dia bukan malaikat yang diciptakan tanpa nafsu, makanya kerjanya hanya taat terus tiap waktu kepada Allah aja. Dia juga bukan setan yang diciptakan dari api dan sekarang ini bertugas jadi pengganggu manusia.
Manusia diciptakan dengan nafsu, hanya saja punya hati dan punya akal. Semuanya untuk dikendalikan.
Jika manusia bisa mengendalikan nafsu, ia akan lebih hebat dari malaikat. Pun sebaliknya, jika tidak bisa akan lebih jahat dari setan/iblis.
(Pada tau kan tugasnya setan/iblis ngapain?
Goda manusia untuk menjauhi jalan yang menuju kepada Allah)
2. Esensi puasa: bukan hanya mengendalikan diri agar tidak makan minum dari sejak terbit fajar sampai dengan tenggelamnya fajar.
Puasa adalah tentang mengendalikan hawa nafsu. Control our self. Nafs: diri, nafsi-nafsi: masing-masing, sendiri-sendiri.
Nafsu makan iya, nafsu minum iya. Nafsu nggosip iya, nafsu komen pedes di postingan yang tubir, nafsu buat julid, dan semacamnya....yaa intinya mengendalikan diri dari melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.
So, Ramadan--> berpuasa, artinya waktu-waktu pertemuan dengan diri kita sendiri, waktu pengendalian diri kita sendiri. Literally me time.
Ketika kita males pas puasa, eh berarti emang bukan karena setan....kitanya aja males. Ketika puasa eh ko masih suka gosip....kitanya aja mulutnya gabisa dijaga.
Kita bisa aja udah gausah lagi digoda setan. Bahkan kita mungkin bantuin ngerjain tugasnya setan.
Makanya ada pesen: jangan jadi setan kedua!
Wallahu alam....
Saya pengen nutup dengan dua kutipan favorit saya:
Nasihat yang disampaikan oleh seseorang adalah nasihat untuk dirinya di masa lalu. - Austin Kleon
Sebanyak apapun perkataan tadi, itu lebih kepada nasihat untuk diri sendiri.
Terakhir banget, kata Mark B. Kastleman,
Pikiran bukan wadah untuk diisi, tetapi api untuk dinyalakan.
Sama kaya pesen di Al Quran, segala hal dalam hidup ini adalah untuk direnungkan oleh orang-orang yang berpikir (Ulil albab).
**Apalagi orang Indonesia, otaknya masih fresh banget soalnya banyak dibilang si jarang dipake *EH
_____
Renungan di Jumat pagi, 17 Mei 2019.













