Menjelang Pernikahan #2: Menemukan Alasan Menikah
Memutuskan untuk menikah dengan seseorang adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup bagi siapapun. Menikah menurutku adalah hal yang paling rumit untuk dijalani. Hidup dengan orang asing, menyatukan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda, dengan niatan ibadah dalam waktu yang lama. Hal ini yang membuatku selalu menghindari ajakan ta’aruf dari mentor sejak tahun 2016. Prinsipku, aku akan ta’aruf jika memang benar-benar siap untuk menikah. Nah ini malah jadi pertanyaan baru buatku, tentang kesiapan menikah. Tiga tahun terakhir aku berkutat dengan pertanyaan apa definisi siap menikah dan kriteria pasangan yang sekufu.
Bertanya kepada senior, teman, sepupu yang sudah menikah tentang dua pertanyaan besar tersebut. Mencoba mencari jawaban dari kajian dan bacaan buku pra-nikah ternyata hasilnya belum membuat hatiku yakin untuk berproses dengan seseorang. Hingga suatu hari di Agutus 2020, ada serangkaian kejadian yang menjadi titik balik buatku untuk memikirkan lebih dalam mengenai rencana menikah. Aku tanyakan keresahan yang aku rasakan ini kepada kakak mentorku, termasuk dua pertanyaan besar yang sampai saat itu belum aku dapatkan jawabannya.
“Mba, apa sih yang membuat mba yakin pada saat itu untuk menikah? Apa definisi siap menikah bagi mba?,” tanyaku pada aplikasi chat.
“Hmm apa ya Fi. Siap menikah itu ya siap menjadi ibu. Siap taat sama suami. Siap dipimpin. Siap hidup bersama. Menikah untuk menjalankan sunnah Rasul. Menikah untuk menghindari fitnah.”
Deg. Mengindari fitnah. Satu kalimat ini rasanya paling menohok yang bisa membuatku yakin untuk berproses menuju pernikahan. Menghindari fitnah, ya selama ini aku merasa aman dengan godaan rekan kerja yang sering menjodoh-jodohkan aku dengan beberapa laki-laki. Merasa itu hanya candaan biasa. Teringat lagi tentang hadits bahwa wanita ini salah satu fitnah (ujian).
“Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita.”
Dengan banyak rangkaian kejadian yang aku alami setahun terakhir, Allah menggerakkan hatiku untuk berproses menuju pernikahan. Alasan menghindari fitnah menurutku sudah cukup menguatkanku untuk berikhtiar. Saat itu aku khawatir akan menghadapi fitnah yang jauh lebih besar, yang belum tentu aku sanggup menghadapinya.