Diam adalah mula
Ketika diam, saya bergumam: Menoleh ke belakang, citramu tidak lebih dari tumpukan keluhan. Menoleh ke samping, hatimu akan ngilu dibuat rasa cemburu. Menoleh ke bawah, ah tidak ada yang pantas kau banggakan. Apalagi menoleh ke atas, berharap kejatuhan apa kau?. Mungkin saat ini menatap ke depan adalah jalan yang tepat.
Kemudian saya putuskan: Saya perlu menatap ke depan untuk melihat kalian berjalan. Saya perlu berjalan, mengejar larinya kalian. Ke depan, saya kira saya harus berlari menghampiri kalian. Kalian yang saat itu sedang terdiam, entah mengikat tali sepatu atau tengah menyeka air mata.
Setelah itu barulah datang kesadaran: Tidak masalah siapa yang jalan lebih dulu, siapa yang lari lebih cepat. Kita akan sampai jika sempatkan diri untuk diam, menatap ke depan dan terus berjalan. Setelah sampai, kita bisa biarkan mereka membersamai kita.
Mudah, bukan?









