Aku jatuh cinta
Aku jatuh cinta pada seorang lelaki
Ia tidak seperti kebanyakan lelaki yang diri mereka lebih diliputi logika
Ia berbeda, Ia makhluk langka
Tidak hanya logis, tapi juga romantis
Maka jangan tanya apakah dia makhluk mencinta, karena ia sumber cinta
Ia perasa, manusia paling peka
Aku mencintainya, dan kuyakin cintaku tak disia-siakannya
Kemari, kuperkenalkan dengannya
Namanya Muhammad.
Sungguh beruntung putri Abdul Wahab ibn Abdu Manaf, Sayyidah Aminah. Ke dalam rahimnya ditiupkan ruh mulia. Seorang putra yang kelak dijuluki ‘Al-Amin’, tetapi tanpa sepengetahuannya. Karena ternyata Allah menginginkan putra Aminah tumbuh menjadi piatu sedari usia 6 tahun, setelah sebelumnya menjadi yatim saat masih dalam kandungan. Meski tidak lama Aminah membersamai Al-Amin, tetapi kasih sayangnya begitu berbekas dalam jiwa sang putra. Putra kebanggaan klan Bani Hasyim, keluarga penjaga Ka’bah dan penjamu tamu Allah. Putra yang kelahirannya begitu dinantikan oleh makhluk langit dan bumi, yang berwujud ataupun yang ghaib. Putra yang tidak mungkin disia-siakan sekalipun oleh masyarakat Arab jahiliyah kala itu, karena seorang putra tidaklah menjadi aib. Sehingga pantas saja seorang Abu Lahab, hamba berhala ‘Uzza (Abdul ‘Uzza), meluap rasa suka citanya ketika tahu telah lahir bayi laki-laki dari adik iparnya. Sampai-sampai ia memerdekakan seorang hamba sahaya bernama Tsuwaibah pada hari Senin, hari kelahiran keponakannya itu. Maka hari Senin adalah yang paling dinanti Abu Lahab di peristirahatannya, diringankannya azab baginya karena rasa senang akan kelahiran manusia agung dan kebaikannya memberikan kemerdekaan kepada seorang insan*.
Sungguh beruntung Sayyidah Khadijah. Aku tidak iri kepada kekayaannya yang melimpah ruah, karena ia menghadap Tuhan-Nya toh juga dalam kesederhanaan. Adalah kemampuan membuat Muhammad begitu cinta terhadapnya yang membuat aku ingin sepertinya. Berjarak 15 tahun tidak membuat ia malu mengagumi dan membaktikan diri pada seorang jujur dan berbakat. Khadijah begitu cerdas, ia tahu bahwa harga dirinya lebih tinggi daripada harta yang ia punya**. Terlihat dari sikapnya setelah menikah, ia menyerahkan kehormatan dirinya kepada sang suami dan tentu beserta semua hartanya. Membuat aku merasa malu pernah berpikir : kelak ketika aku menikmati harta penggenapku, kuanggap itu adalah nafkah darinya. Sedang apa-apa yang ada dalam genggamanku adalah milikku, bukan miliknya. Kehormatan diri aku serahkan, tapi tidak dengan hartaku. Seakan menyiratkan kalau harta lebih mahal daripada diri ini. Duhai Rabb, apa aku bisa seperti Khadijah yang adil bahkan sejak dalam pikiran?.
*Pantas saja, Muhammad tidak bisa melupakanmu, wahai Sayyidah Khadijah. Muhammad tidak menginginkan hartamu, tapi ia menyukai pribadimu. Kau bisa dengan sangat mudah meyakini apa yang Muhammad sampaikan padamu, padahal sudah tertanam pandangan hidup jauh sebelum kau mengenalnya. Kau bisa ikhlas menanti kepulangannya dari pertapaan suci berbulan-bulan. Bahkan saat kau kira suamimu sudah kehabisan persediaan, kau sanggup menapaki bebatuan hingga sampai puncak Jabal Nur, padahal kiranya usiamu berkisar 55 tahun saat itu. Sampai di puncak kau dapati kekasihmu begitu syahdu tenggelam dalam dzikirnya dalam Gua Hira. Tapi kau tidak memanggilnya, kau tidak ingin mengganggu keintimannya dengan Sang Pencipta. Padahal kuyakin Kau begitu rindu dengannya, betul bukan?. Sekembalinya dari pertapaan itu, kau dapati ia dalam keadaan menggigil lalu segera kau selimuti dia, tidak ada sapaan mesra seperti biasanya, padahal rindu sudah menggebu, betul bukan? Ah Khadijah apa aku bisa meniru gerikmu?. *
Semenjak kepergian Khadijah, Muhammad penuh duka lara. Meskipun sebenarnya ia diberi kelebihan untuk melihat yang ghaib, maka sangat mungkin ia menatap kembali wajah istrinya, tapi mereka sudah beda dimensi. Pelukan penuh kehangatan dan kasih sayang seorang Khadijah tidak bisa lagi ia rasakan. Bahkan nikmatnya mengimami seorang Khadijah tidak bisa tergantikan dengan mengimami sepuluh*** istrinya yang lain kemudian. Bagaimanapun Khadijah adalah juaranya. Cinta Muhammad untuk Khadijah tak lekang oleh waktu. Apa lagi sebutannya jika bukan romantis?
Sayyidah 'Aisyah yang jelas lebih muda tanpa maksud merendahkan cinta pertama suaminya itu heran tiada kepalang. Mengapa sang suami tidak bisa berpaling dari yang sudah tiada raganya di dunia?. Hingga akhirnya ia sadar, bahwa ia tak akan sanggup menggeser posisi Khadijah di hati suaminya. Sementara daripada yang masih hidup, ia berusaha sekuat tenaga untuk mengungguli, menjadi yang paling dicinta dari makhluk tercinta. Sayangnya, istri-istri yang lain juga siap untuk 'bersaing'. Tapi memang pada dasarnya Muhammad adalah orang yang adil, semua kebagian cintanya. Cintanya pada masing-masing membuat semua merasa paling dicinta. Muhammad memang pandai menyenangkan hati umatnya, apalagi istri-istrinya.
Muhammad tidak marah ketika 'Aisyah dengan sengaja memecahkan nampan yang berisi suguhan lezat pemberian istrinya yang lain dalam rangka menyambut tamunya. Tentu saja bunyinya mengundang perhatian dan makanannya berhamburan. Muhammad menghampiri sumber suara dan segera mengambil bagian yang masih layak dimakan untuk disuguhkan. Di saat tamunya terheran dengan sikap 'Aisyah, Muhammad hanya tersenyum dan mengatakan “Gharrat ummukum..Maaf, Ibu kalian sedang cemburu” (HR. Ahmad). Betapa senangnya 'Aisyah mendengar perkataan suaminya. Bukan omelan yang ia dapatkan, tetapi perhatian yang begitu dalam. Muhammad tahu kalau 'Aisyah mencemburui istrinya yang lain karena perkara suguhan tak diundang, dan memahami bahwa cemburunya 'Aisyah adalah karena cinta. Tapi sekali lagi memang pada dasarnya Muhammad adalah orang yang adil, urusan makanan yang tumpah bukan urusan sepele. Ia begitu adil menempatkan rasa dan logika. Dalam detik yang berhimpit ia harus berpikir bagaimana agar tidak melukai hati kedua istrinya. Ia biarkan 'Aisyah menunjukkan kecemburuannya, tapi ia segera ambil nampan serupa untuk kemudian diserahkan kepada utusan dari istri yang lain tersebut seraya menitipkan salam terima kasih darinya. “Makanan diganti makanan, bejana diganti bejana” (HR. Tarmidzi).
Satu lagi tentang 'Aisyah**, tentang kesukaannya. Muhammad mengerti betul apa yang disukai istrinya. Diceritakan bahwa 'Aisyah gemar mengoleksi boneka (Wallahu 'alam bentuk-bentuk boneka saat itu seperti apa). Kemudian ditanyakan pada 'Aisyah sekiranya begini, “Wahai istriku, 'Aisyah, boneka apa itu?”. 'Aisyah senang bukan main ketika suaminya menanyakan tentang kesukaannya, “Boneka kuda”. “Lantas apa yang ada di atasnya?”. “Dua sayap” , jawab ‘Aisyah mantap. “Kuda memiliki dua sayap?”. Dengan penuh percaya diri ia menjawab, “Tidakkah kau ingat pada zaman Nabi Sulaiman ada kuda bersayap banyak?”. Muhammad tertawa dan membiarkan ‘Aisyah tersenyum senang karena merasa pandai. Bukankah Muhammad adalah seorang Rasul yang sebenarnya ia jauh lebih tahu banyak perkara? ia sedang mempersilakan istrinya untuk menyampaikan apa yang ia tahu. Bersikap layaknya tidak tahu untuk menyenangkan hati sang istri. Beri tahu aku, apalagi sebutannya ini kalau bukan romantis?.
Duhai kanjeng Rasul… ini baru sekelumit kisah perjalanan hidupmu. Bilamana sampai ilmu lain padaku tentangmu, jelas tak akan sanggup aku membendung rasa cinta kepadamu. Beruntung sekali mereka dan orang-orang shalih yang berkesempatan menimba ilmu langsung darimu, bertegur sapa dan berbagi doa, berlomba-lomba untuk menjadi istimewa dalam sisimu. Tapi memang pada dasarnya engkau manusia pilihan, dalam ketidakjumpaan kau juga mengistimewakan kami. Kau bilang kau merindukan saudara-saudaramu,Bukan?. Bukan keluarga atau sahabat-sahabatmu. Kau panggil kami “ummatii..umatii”. Maka maafkan aku yang kerap lupa pada dirimu, sementara kau merindukan kami, rindukan aku juga di dalamnya,Rasul. Pintaku, syafa'atkan kami, dan berdoalah kepada Allah untuk kebaikan kami. Sungguh, tiada penghalang antara engkau dan kekasihmu, Rabb semesta Alam.
Allahummaa Shalli 'alaaa sayyidina Muhammad wa 'alaa alii sayyidina Muhammad.
..
Referensi :
Ngaji kuping Ustadz Abdul Shomad (*) dan Habib Naufal Al-Aydrus (**), juga termotivasi dari tulisan Ustadz Salim A Fillah dalam ‘Sunnah Sedirham Surga'. (***) Sebagian mengatakan jumlah istri Nabi sebanyak 13 orang.
Yogyakarta, 2 Desember 2017
















