Let’s continue my story about Lombok Island
Setibanya di Lombok dengan kecengangan yang saya dapat karena keindahan dan kelengangan kotanya, saya menuju penginapan yang telah disediakan oleh teman-teman Universitas Mataram. Pada saat itu saya mengikuti rangkaian kegiatan bina desa di kota Mataram, Lombok khususnya di bidang pertanian. Salahsatu produk pertanian yang terkenal di Lombok yaitu nira yang diolah oleh petani-petaninya menjadi produk gula merah. Pada kegiatan bina desa tersebut, kami memberikan edukasi dan praktek dalam pengemasan produk gula merah. Produk gula merah asal Lombok ini kualitasnya cukup baik, namun pengemasan dan branding produknya masih kurang. Maka dari itu pada program bina desa ini, diharapkan petani nira dapat meningkatkan harga jual dan branding gula merah yang mereka buat.
Pada kegiatan di Lombok ini, saya banyak bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Pertanian di beberapa universitas di Indonesia. Kegiatan bina desa ini berlangsung selama 4 hari 3 malam, dan pada hari terakhir kegiatan bina desa ini kami mengunjungi pantai Gili Trawangan. Menuju Gili Trawangan kami menggunakan bis yang melewati jalan berliku, dimana sepanjang jalan berliku tersebut terdapat banyak monyet berkeliaran bebas di jalan raya. Kami masih harus menyemberangi pulau menuju Gili Trawangan menggunakan perahu boat. Jika ingin menuju Gili Trawangan tidak disarankan untuk menyeberangi pulau pada waktu sore hari, lebih dari jam 4 sore. Karena air laut sedang pasang pada jam itu, dan berbahaya untuk berlayar.
Pertama kali saya menginjakkan kaki di pasir pantai Gili Trawangan, sungguh menakjubkan ciptaan Allah. Pasir pantai berwarna putih, air laut berwarna biru terang, sorot matahari yang cerah mendukung suasana keindahan alam tersebut. Kami berfoto-foto di sekitaran pantai Gili Trawangan, berenang-renang di laut yang jernih, tetapi harus hati-hati pada kotoran kuda. Karena ada beberapa kuda yang dimandikan di tengah laut Gili Trawangan. Kami semua kembali menyeberangi pulau pada pukul 3 sore sebelum air laut pasang. Dengan membawa kegembiraan dan keceriaan, kami kembali ke penginapan untuk bersih-bersih badan dari pasir pantai. Setelah selesai bersih-bersih, tiba waktu makan malam, ini merupakan malam terakhir kami bersama-sama pada kegiatan bina desa di Lombok ini. Kami makan malam bersama dengan menu khas Lombok yaitu plecing kangkung yang super duper pedas. Berhubung saya tidak suka makanan pedas, maka saya hanya makan nasi dengan kentang mustofa yang di bawa dari Bandung hehe.
Keesokan harinya masing-masing perwakilan universitas pulang menuju daerah masing-masing. Tetapi saya dan teman saya dari Universitas Padjadjaran memperpanjang waktu tinggal kami di Lombok untuk 2 hari kedepan. Kami masih mau mengeksplor pantai-pantai dan tempat wisata di Lombok.