Seratus tiga puluh hari, mungkin lebih. Aku sengaja tidak menghitungnya, bukan karena aku bosan oleh sesak saat aku sadar sudah banyak hari kita lalui dan tak bersama. Waktu bukan apa-apa, jarak juga bukan apa-apa, hanya saja aku yang kenapa-kenapa, terus bertambah letih, oleh rasa yang kadang tercecap luar biasa menyesakkan. Bukan main meletihkan. Kusebut itu gejolak, rasa yang memainkan ritmenya asal-asalan tanpa mau mengerti akulah yang kini ringkih, dijejali sering-sering. Kemudian aku rasai itu sebagai satu nafasmu yang terpasung lekat di ubun-ubun. Hingga akhirnya aku bisa berdamai dengan keadaan ini. Sekali lagi. Berulang kemudian. Begitu selanjutnya. Frekuensinya sesering tetesan-tetesan air yang terjun bertubi-tubi melalui kanopi di depan selasar berubin merah, tempat kita kemarin menikmati materi kuliah, tempat sekarang aku berada. Sendiri.
Aku berjalan menjauhi selasar, menuju satu bangku panjang di bawah pohon matoa besar, tidak jauh dari pos satpam. Satu tempat paling melegakan di kampus kita. Kita sering saling menodai udara dengan bualan-bualan kita di sini, di sepanjang sore seusai kuliah. Aku selalu senang mendengarkanmu mendefinisikan sesuatu atas apa yang kamu yakini benar. Seperti halnya beberapa waktu lalu, sehari sebelum kepergianmu ke ibukota, kamu panjang lebar mendefinisikan laut dan rasamu atas aku secara bersamaan. Kamu mengatakan bahwa Jika rasamu mampu terbuncah melalui laut pasti segulung ombak itu akan mencumbu pantai sering-sering. Menitipkan sedikit rasa yang disampaikan dalam frekuensi yang lebih sering dari biasanya. Membawakan pesan yang akan sampai dan larut dalam pasir basah yang kemudian mengering pelan kemudian kembali basah. Seingatku, aku hanya mampu tertegun dalam banyak bahasa yang tak mampu terucap saat itu juga. Yang bisa aku definisikan tentang laut adalah kamu, laki-laki beraroma laut yang membuat rasaku tumpah dimana-mana.
Pagi masih memunggungi Sabtu dan aku yang sedang memindai memoar. Selanjutnya aku berjalan pelan-pelan ke arah depan, membawa rasaku menabraki udara, menuju bangunan berdinding biru, sedikit kelabu. Kita sama-sama tahu kamu paling senang mempertemukan aku dengan pagi dan coklat panas di sini, di kantin biru, di sebelah rumah kaca kampus kita. Kemudian menikmati keduanya dengan cara kita sendiri yang hanya kita berdua yang tahu bagaimana merasai keadaan itu dengan sangat bahagia. Tapi tidak sebahagia di hari pertama kepergianmu, aku musti merasai pagi dan coklat panas dan itu tidak bersamamu. Di tempat yang sama, di kantin biru yang kuhabiskan seharian untuk menulis apapun demi rasa atas satu pesanmu yang kamu kirim dari jarak beratus kilometer yang tersangkut di hati, di ubun-ubunku, di semua kuncup Phalaenopsis amabilis yang menumbuh paling menawan di antara anggrek lain yang juga tumbuh di samping kantin biru kita. Kamu bertutur untuk tidak lagi sedih mengenai perkara waktu yang selanjutnya akan terlewat dan tidak bersama. Aku tak mau tahu, aku hanyaingin kamu segera pulang, bersama-sama memeluk perjumpaan. Bagaimanapun keadaanku saat ini.
Aku menelusuri jalan yang terbentuk sebagai jeda dan sela di antara ribuan pot dimana bermacam-macam anggrek menumbuh di sana. Di rumah kaca kampus kita, bukan tempat pertama kita berjumpa tapi tempat perjalanan rasa kita berawal, terbiasa, mendamba, dan pada klimaksnya mencinta. Kamu mendeskripsikan lebih detail mengenai Coelogyne pandurata, Phalaenopsis violacea, Vanilla planifolia, Cattleya percivaliana, serta banyak jenis anggrek lainnya selama praktikum di rumah kaca. Wibawamu melarutkan apa saja, materi orchidology yang seharusnya kamu sampaikan kepada aku sebagai praktikan dan kamu sebagai asisten praktikum telah larut kemana-mana. Harusnya berhenti di cerebrum untuk menjadi pembelajaran kuliah, tapi bercabang kemana-mana, di hati, di debar, di detak jantungku, di tiap rasa yang mengalir meluap-luap di pembuluh darah.
Aku bersamamu sama sekali tidak mempersiapkan untuk jatuh hati sampai pada akhirnya kita jatuh dalam keadaan tersebut, melarut dalam keadaan tersebut. Dan sekali lagi, aku bersamamu juga tidak mempersiapkan perihal kepergian yang merentangkan jarak ribuan mil hanya karena kamu akhirnya telah mendapat gelar sarjana dan harus menjalani kehidupanmu di dunia berbeda. Dan itu harus di ibukota. Aku memelihara kesakitan atas satu kepergian laki-lakiku yang beraroma laut. Sampai akhirnya aku benar-benar menjumpai kehilangan yang mengutuh penuh.
Aku menuju perpustakaan fakultas, satu gedung di sebelah barat rumah kaca, persis bersebelahan dengan ruang kuliah besar yang bisa diisi sekitar seratusan mahasiswa. Aku melihat dari balik jendela kaca besar sederetan meja kayu yang sering kita sambangi untuk sekedar menulis apa saja, membahasakan apapun, sepanjang jeda jam kuliah. Bahasa kita sama sekali bukan bahasa dengan kata-kata lugas yang sebagian besar orang ungkapkan gamblang. Kita hanya perlu mengangguk untuk membahasakan mampu, dan tersenyum untuk membahasakan kita berani untuk menjadi bahagia karenanya. Tidak hanya sekali aku mampu membahasakanmu dengan berbagai imajinasi paling imajinatis, dan hanya kita yang mampu sepenuhnya paham. Kamu tak harus bicara untuk membuatku mengerti. Itu kelebihanmu. Aku mendamaikan rasa, yang sekali lagi meluap-luap di kedalamannya, menenggelamkannya ke dalam keteduhan rangkaian bunga di sudut ruangan, ada bunga anggrek kalajengking di sana. Bunga yang katamu serupa dengan namaku.
Aku berhenti memindai memoar yang tersisa di antara rak buku perpustakaan, melanjutkan ritualku berkeliling kampus setiap pagi hanya untuk sekedar mendamaikan rasaku atas kamu yang kini berjarak lebih dari sejuta kenangan dariku. Aku mendapati segerombolan mahasiswi yang menyeduh pagi yang larut di sebotol minuman isotonik sembari memainkan riang satu lagu yang pernah sama-sama kita favoritkan. “Dan kubisa dengan radarku, menemukanmu” Aku menirukannya dalam hati. Kau pernah menyinggung mengenai radar dan hal-hal yang berkenaan tentang alasan kenapa musti aku. Aku tersenyum saat itu, imajinasimu terlalu sederhana untuk menutupi alasan yang mungkin tak ada. Karena memang tak harus ada alasan untuk menghadirkan satu rasa yang membuat kita saling mencinta satu sama lain. Aku melanjutkan langkahku yang semakin kupercepat, meninggalkan satu fakultas yang telah membuatkan banyak warna untuk kita, kemudian menghidupkannya dalam dimensi kita yang mengulang jatuh hati, setiap hari.
Aku masih menunggu satu temu atas laki-laki beraroma laut. Karena mungkin benar bahwa aku adalah satu hawa pemuja samudera. Aku selalu melihatmu sebagai pantai tempai langitku bercumbu dalam batas yang sangat dekat. Dan akulah, wanita paling bahagia menjemput ombak sambil tertawa tanpa suara, menghirup angin yang berbau laut, sambil mengirim pesan singkatku kepada Tuhan. Untuk menjagamu, menjaga rasamu, menjaga hatimu, karena Dia sudah sekian lama menyerah untuk menjagai aku.
Aku menuju saung-saung kecil di sebelah arboretum. Orang-orang menamainya Balairung, dan aku menamainya khayangan. Tempat paling kaya kenangan atas satu temu pertama kita dulu yang berlanjut pada banyak kegiatan yang sengaja kita ritualkan di tempat ini. Tentang setiap pagi di tiap hari minggu yang kita berdua habiskan untuk sekedar berjalan bersama atau kadang berlomba lebih dahulu sampai di ujung jalan dekat jalan raya. Atau tentang sore menjelang petang di waktu yang tidak kita tentukan, kita merapat bersama teman-teman lain di sini, membicarakan hal-hal mengenai penelitian yang tengah kita jalankan. Atau banyak malam yang kita peluk bersama di tempat ini, dengan berkendara sepeda kampus. Sesekali kamu mencuri kesempatan dan menculik jemariku untuk kamu dekap hanya karena kamu kedinginan. Atau tentang awal tahun kemarin, kita menyalakan kembang api di tengah-tengah balairung hingga akhirnya kita sama-sama kena tegur petugas keamanan kampus. Aku merasai semuanya yang terekam di setiap sudut tempat ini. Aku kemudian berdansa bersama pagi di sini, mengudarakan rasa yang sesekali tumpah karena kamu yang mungkin kini tidak sedang mengingatku. Karena bisa jadi aku bukan bagian memoarmu yang sengaja kamu simpan untuk kamu kenang kapan saja. Tidak! Aku menepis semua prasangka atas apapun yang mungkin tidak benar.
Aku menghampiri satu saung kecil dengan meja kursi kayu tempat aku dulu melamunkan hal-hal sepele, bersama anggrek kalajengking yang sengaja aku petik dari samping kantin biru. Aku memindai memoar, untuk kesekian kalinya. Aku saat itu larut dalam keunikan warna kuning bertotol-totol orange kecoklatan bunga itu, sampai akhirnya terperanjat oleh panggilan keras laki-laki yang berjalan sambil menuntun sepeda gunungnya, di samping tempat aku duduk. “Aeris...” Dia menyebut namaku pelan dengan pandangan yang sama sekali tidak menjemput mataku, tapi tertuju pada anggrek kalajengking yang sedang kumainkan di antara telunjuk dan kelingking kananku. “Saya....?” Jawabku dengan nada bertanya. Kamu setengah heran, memandangku sambil mengerutkan dahi, memikirkan satu tanya dariku, dan menjawabinya dengan pertanyaan juga.
“Namamu Aeris?”
Satu tanya pertamamu yang kuiyakan dengan anggukan pelan, masih dengan heran. Aku menghentikan permainan kecilku, karena anggrek itu tiba-tiba kamu rengkuh bersama jemariku, sambil bernarasi cukup panjang dengan sesekali tersenyum. Kamu menjelaskan bahwa anggrek kalajengking itu mempunyai nama latin serupa namaku. Kamu berlalu dengan mengakhiri narasimu dengan perkenalan satu kalimatmu yang sampai saat ini masih terekam kuat di cerebrumku.
“Aku Samudera”
Katamu. Kemudian berlalu. Melewati pagar besi yang membatasi Balairung dengan jalan raya, menoleh ke belakang yang kukira untuk memastikan apa benar aku masih merasai punggungmu yang menjauh. Satu temu paling manis di saung Balairung. Dulu.
Itu semua dulu, saat kita masih diizinkan untuk benar-benar saling bertemu, dan saling mencinta. Sebelum Tuhan menyerah menjagai aku. Aku mengakhiri ritualku memindai memoar karena mendadak ada aroma laut beterbangan memasuki inderaku, membuatku buru-buru melihat sekitar, mengharap bau itu memang benar-benar dari kamu. Tuhan mengamini doaku, ternyata memang benar kamu.
Kamu berlari-lari kecil melewatiku, berhenti sejenak untuk sekedar meregangkan otot leher dan punggungmu. Kemudian berlari-lari kecil sekali lagi, kali ini sembari menarik jemari lentik wanita Cina yang tengah kelelahan di arah berlawanan dari tempat aku berada saat ini. Membiarkan aku menikmati semuanya dari kedalaman rasaku, dalam diam. Aku mendengar wanita itu melafalkan namamu panjang, menolak untuk berlari dengan tetap berjalan berdampingan denganmu. Dia tersenyum, kamu membalas dengan satu tawa yang masih kuhafal jelas ritme dan iramanya.
Kalian mendekatiku dengan masih tertawa bersama, berdampingan, dan saling membasuh peluh yang mengucur di sela pori-pori. Kamu berhenti tepat di depanku, membelakangiku sambil terus bergurau hal-hal sepele yang mungkin tadi kalian temui di sepanjang Balairung. Mengacuhkan kehadiranku, yang tidak juga kalian sadari keberadaannya. Karena memang tidak ada. Aku tiada dan ada dalam dunia gubahanku sendiri. Dunia dimana aku bisa merasaimu sebanyak yang aku mau, Samudera.
Aku tersenyum dalam hati, memelukmu erat, merekam apapun yang bisa kusimpan dalam hati atas satu temu yang hanya aku sendiri yang tahu. Aku sendiri yang menikmati pagi dan kamu, laki-lakiku beraroma laut.
Aku menambatkan semuanya, sekian banyak rasa yang kuuraikan di sepanjang sudut-sudut kenangan kita, di setiap jalan yang dulu kita pernah berjalan menyusurinya bersama, berdampingan. Aku menambatkan seluruhnya dalam satu peluk atas aku dan sepenuhnya rasa. Aku menumpahkan segalanya yang sering meluap-luap di hati, memberimu banyak sekali kecup yang sama sekali tidak kamu sadari. Aku melihatmu tiba-tiba terdiam, seakan-akan tahu keberadaanku yang memang sedang merasaimu dalam-dalam. Kamu memunggut satu bunga anggrek yang terselip di antara kaki meja dan kursi kayu, memandanginya lama. Kemudian mengecupnya sekali, mengucap satu nama latin anggrek kalajengking yang kini tertidur di telapak tangan kananmu. Arachnis flos-aeris... aeris... kamu mengecupnya sekali lagi, dan kurasakan nafasmu kembali lekat di ubun-ubunku.
Aku masih ingin merasai kepulanganmu, merasai perjumpaan kita dalam dimensi berbeda dari saat ini, yang akan menyatukan kita kembali dalam satu dunia, sekali lagi.
Aku masih mau menanti hari untuk satu hati bernama Samudera. Kamu.
******
*BIOSC : Biology Orchid Study Club, Faculty of Biologi, Gadjah Mada University