Saudariku, calon suami yang baik adalah dia yang takut pada rabb-Nya. Juga yang hormat kepada ibundanya.
Dia yang ber-birru walidain tentu akan menjaga perasaan ibundanya, takkan menghardik apalagi mengeluarkan air matanya karena kata dan lakunya.
Saudariku, bagaimana engkau bisa kagum kepada seorang pemuda yang mengadukan kekurangan ibunya kepadamu?
Duhai, tidakkah tersentuh hatimu?
Bayangkan jika kelak anakmu berbuat demikian atasmu. Tidakkah hatimu akan terluka?
Ia yang engkau inginkan menjadi imam-mu, tak sepatutnya menceritakan kekurangan ibundanya hanya untuk meraih kasihmu.
Kasih? Ya, kasih yang ia damba atasmu, yang takkan mungkin akan sepadan dengan kasih yang ia teguk dari dada ibundanya. Engkau takkan mungkin mampu memberikan sayang seperti ibundanya terjaga di malam-malam panjangnya, sebab di dalam kasih ibundanya, ada ridho untuknya.
Dan ketika dia yang kau harap menjadi imam-mu, abai atas semua sakit yang mendera ibundanya ketika hendak melahirkannya, masihkah engkau menaruh harap padanya?
Pikirkanlah. Dan jangan ikut meniup bara atas dosa seorang anak kepada ibundanya, hanya karena alasan cinta. Cinta yang belum Allah halalkan atasmu, juga dia.
Lalu mengapa menutup mata hati?













