Yaaahhh ... ada yang lebih cepat menikmatinya. Ya udah, sekalian aja membiarkannya tetap di pohonnya. Siapa tau yang mencicipi ini mau kembali lagi menyelesaikan sarapannya 😁 https://www.instagram.com/p/BavGNCgBJuj/?igshid=12jy72istbu93

pixel skylines

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Mike Driver

Love Begins
tumblr dot com
Claire Keane

Andulka
Cosimo Galluzzi
Xuebing Du
Stranger Things
wallacepolsom

Janaina Medeiros

tannertan36
macklin celebrini has autism

ellievsbear
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
TVSTRANGERTHINGS
Show & Tell
d e v o n
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Chile
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Poland
seen from Vietnam
seen from Vietnam

seen from Italy
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
@tuturasaku
Yaaahhh ... ada yang lebih cepat menikmatinya. Ya udah, sekalian aja membiarkannya tetap di pohonnya. Siapa tau yang mencicipi ini mau kembali lagi menyelesaikan sarapannya 😁 https://www.instagram.com/p/BavGNCgBJuj/?igshid=12jy72istbu93
Lihatlah, betapa Allah Maha Baik, bukan?
Belum hapus luka atas perginya dia, Allah telah menggantinya dengan sosok yang lebih sempurna untukmu.
Maka masihkah meragukan pilihan Allah?
Istilah ini pertama kali kudengar pada saat mengikuti pelatihan bekam dan sosialisasi Thibbun Nabawi yang diadakan di daerah tempat tinggalk
Istilah ini pertama kali kudengar pada saat mengikuti pelatihan bekam dan sosialisasi Thibbun Nabawi yang diadakan di daerah tempat tinggalku. Jujur, partama mendengar istilah tersebut, aku sempat mengerutkan kening dan berfikir bahwa sang dokter yang membawakan materi tersebut terkesan memaksa dan mengada-ada. Apa hubungannya sih, antara immun dan iman? Fikirku.
Takut Corona?
Kita boleh takut, cemas dan was-was dengan apa yang terjadi sekarang. Namun jangan sampai hal tersebut membuat kita lari darinya.
Artinya kita jangan menghindar dari mengetahuinya, karena bagaimanapun kita butuh tahu berita tentangnya.
Untuk apa?
Agar kita tahu bagaimana bersikap dan menghadapinya.
Tapi semua berita membuatku takut!
Siapa sih yang tidak takut menghadapi musuh yang belum kita kenal? Makanya, untuk tahu bagaimana cara menghadapi musuh tersebut, kita harus mengetahuinya dengan jelas. Kadang, tak ada jalan lain untuk menghilangkan rasa takut, selain harus menghadapinya.
Bagaimana mengjadapi rasa takut?
Kuatkan dulu keimanan kita. Yakinkan bahwa segala yang terjadi pasti atas izin dan kehendak Allah. Takkan jatuh sehelai daunpun kecuali semua sudat ditakdirkan.
Katakan pada diri sendiri bahwa pada saatnya, kematian pasti akan menimpa diri dan orang-orang yang kita kasihi. Bisakah kita lari darinya?
Tanyakan pada hati, apa yang membuat kita begitu takut? Takut corona, takut mati? Terus, kalau corona berlalu, apakah kita aman dari kematian?
Mau lari dan bersembunyi ke mana?
Allah tak mengeluarkan kita dari rahim ibu-ibu kita, kecuali telah ditentukan 4 hal:
Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” [Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu].
Tapi semua berita membuatku setres!
Kembali lagi, kuatkan iman. "Hanya dengan mengingat Allah, hati jadi tenang".
Perbanyak doa dan zikir. Mohon agar Allah melindungi kita dan orang-orang tercinta dari segala bala dan bencana.
Abu Abbas Abdullah bin Abbas ra. berkata, suatu hari aku berada di belakang Rasulullah saw. [membonceng], Beliau bersabda, “Nak, aku hendak mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, Dia senantiasa bersamamu.
Jika kamu memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya. jika meminta pertolongan, mintalah tolong kepada-Nya.
Ketahuilah seandainya semua umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah ditetapkan Allah untukmu.
Dan seandainya semua umat manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak mampu kecuali keburukan yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu.
Pena sudah diangkat dan tinta sudah kering.” (HR Tirmidzi. Dia berkata, hadits ini hasan shahih)
Riwayat lain menyebutkan, “Jagalah Allah, pasti kamu selalu bersama-Nya. Kenalilah Allah saat kamu lapang, pasti Dia mengenalimu saat kamu susah.
Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu.
Ketahuilah, kemenangan seiring dengan kesabaran, kalan keluar seiring dengan cobaan, dan kemudahan seiring dengan kesulitan.”
Selain menjaga iman, immun juga perlu ditingkatkan sebagai ikhtiar menjaga diri.
Konsumsi makanan-makanan sunnah seperti madu, sari kurma, habbatussaudah dan sebagainya.
"Sesungguhnya di dalam Habbatussauda (jintan hitam) terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit, kecuali kematian” (HR Bukhori & Muslim)
Dan ketika rasa takut menghampiri, segera bertawwudz, mohon berlindung dari was-was syaithan.
Ingat, setan selalu meniupkan rasa was-was ke dalam dada. Jangan sampai was-was menguasai kita hingga lupa ke-Esaan dan ke-Maha Kuasaan Allah dalam menjaga makhluknya. Baginya apa yang ada di langit dan di bumi.
Jikapun Allah menakdirkan kita meninggal dikarenakan wabah, semoga kita termasuk dalam hadits ini:
Yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena ath-tha’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari, no. 2829 dan Muslim, no. 1914)
Wallahu a'lam.
*********
Dalam gelisah, kucari damai dalam lafadz zikir dan pasrahku kepada Rabb Penlindung dan Pemelihara Semesta Alamp
Ketika Jodoh Belum Menghampiri
Jangan pernah putus asa. Tetaplah berbaik sangka dan terus panjatkan pinta pada-Nya. Kepada Dia Yang Maha Memberi, Maha Mengatur dan Maha Mendengar segala pinta.
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (QS Az Dzariyat : 49).
Jika saat ini, dia yang kau nanti belum juga menghampiri, percayalah, suatu saat kan tiba masa dimana kebahagiaan akan menaungi.
Jikapun penantianmu berakhir di penghujung masa di dunia, yakinlah, kelak engkau akan Dia pertemukan dengan belahan jiwamu. Di sana.
“Di jannah tidak ada yang hidup membujang.” (HR. Muslim no. 2834)
Gagal sekali, dua kali, berkali-kali, bukanlah akhir asamu. Jangan berputus asa, apalagi melempar salah pada sesama makhluk. Karena sesungguhnya tiada kuasa sedikitpun makhluk dalam mengatur nasibmu. Semua ada dalam genggam-Nya. Maka mohonlah pada Dia Yang Maha Memberi.
Jika pinta telah dilangitkan, usaha telah maksimal, sabar telah kau lalui, namun dia yang kau nanti belum juga mendekat, maka muhasabalah.
Bisa jadi Allah sedang membersihkan khilaf salahmu yang mungkin selama ini tanpa sadar telah kau perbuat. Carilah salah pada dirimu. Lafazkan ampun berkali-kali melalui lisanmu, karena mungkin saja ada hati yang terkoyak disebabkan olehnya.
Mintalah dengan derai penyesalan dari lubuk hatimu, karena bisa jadi ada mata yang pernah berderai olehmu.
Lalu bertaqwalah. Serahkan semua ke dalam pengaturan-Nya 💝
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku seorang diri, Engkaulah ahli waris yang paling baik”. (Al Anbiya : 89)
di November 30, 2019
"Allah merahmati kaum yang menjadikan dunia sebagai barang titipan. Lalu mereka menjalankan amanah dan mengembalikannya kepada orang yang menitipkannya. Kemudian mereka pergi tanpa beban.'
(Hasan Basri)
Saudariku, calon suami yang baik adalah dia yang takut pada rabb-Nya. Juga yang hormat kepada ibundanya.
Dia yang ber-birru walidain tentu akan menjaga perasaan ibundanya, takkan menghardik apalagi mengeluarkan air matanya karena kata dan lakunya.
Saudariku, bagaimana engkau bisa kagum kepada seorang pemuda yang mengadukan kekurangan ibunya kepadamu?
Duhai, tidakkah tersentuh hatimu?
Bayangkan jika kelak anakmu berbuat demikian atasmu. Tidakkah hatimu akan terluka?
Ia yang engkau inginkan menjadi imam-mu, tak sepatutnya menceritakan kekurangan ibundanya hanya untuk meraih kasihmu.
Kasih? Ya, kasih yang ia damba atasmu, yang takkan mungkin akan sepadan dengan kasih yang ia teguk dari dada ibundanya. Engkau takkan mungkin mampu memberikan sayang seperti ibundanya terjaga di malam-malam panjangnya, sebab di dalam kasih ibundanya, ada ridho untuknya.
Dan ketika dia yang kau harap menjadi imam-mu, abai atas semua sakit yang mendera ibundanya ketika hendak melahirkannya, masihkah engkau menaruh harap padanya?
Pikirkanlah. Dan jangan ikut meniup bara atas dosa seorang anak kepada ibundanya, hanya karena alasan cinta. Cinta yang belum Allah halalkan atasmu, juga dia.
Lalu mengapa menutup mata hati?
Ehh, kecil-kecil udah berbuah. Suatu siang ketika haus melanda… #belimbing #menangkapkisah
Rinainya Tak Lagi Gerimis
Benar saja, rinai yang awalnya gerimis akhirnya berubah jadi hujan yang nyaris membadai.
Sejam, dua jam, belum juga henti. Aliran air yang menganak tak ayal menerjang segala apa yang menghalaninya. Tak lagi mengalir pada jalurnya.
Daun pintu yang menutup bukan halangan untuk menitipkan lumpur yang menyertainya. Banjir, bukan saja air. Juga lumpur yang meninggalkan jejak berupa tanah kering dan bau kain yang lembab. Tilam tak lagi dapat menopang tubuh. Tinggal menunggu waktu untuk diganti. Hanya tertinggal onggokan yang berbau menyengat.
Mau bagaimana lagi. Menangis, menggerutu, menyalahkan banjir... akankah berguna?
Ada sedih yang menyusup. Samar dibalik kata pasrah dan senyum tipis.
Pasrah atas segala ketentuan yang digariskan Sang Maha Penentu. Ikhlas, setidaknya mencoba. Ini ujian.
Menangkap makna sebagai bentuk kasih sayang-Nya. Pasti, ada berjuta kebaikan di baliknya. Entah apa kiranya. Aku hanya bisa meraba.
Hanya berusaha yakin, bahwa di balik setiap takdir-Nya, selalu ada hikmah yang kelak akan tersibak. Hanya perlu berlatih sabar dan ikhlas. Tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa
Pada saatnya, waktu akan membuktikan posisi kita di mata manusia.
Kadang teman seiring seperjuangan akan berselisih jalan. Meski tak saling membenci, namun sapa tak lagi mudah terucap.
Begitulah manusia. Menilai dari tampilan duniawi. Jika merasa sejajar, maka mudah mengajak melangkah. Jika posisi terasa beda, basa basi dalam berkata cukuplah sebagai sekedar tanda simpati. Hambar. Terasa sampai ke relung hati.
Duhai, begitu mudahnya hati berbalik. Hanya karena harta duniawi dan kemasyhuran yang tak abadi.
Lupa, bahwa ada masa dimana segala harta dan pangkat akan ditinggalkan, atau meninggalkan.
Lupa, bahwa tahta dunia takkan menolong di sempitnya lahat.
Lupa bahwa teman berhura satu-persatu kelak akan berbalik menjadi lawan di kemudian hari.
"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Hanya teman atas dasar takwa yang akan setia. Selamanya.
Bisa saja dia teman yang sekarang tak kau anggap. Ya, dia yang tetap setia mengirim doa di setiap laramu. Yang engkau tak ingin seiring dengannya saat ini. Yang kadang menitikkan butiran di sudut-sudut matanya, karena abaimu. Dia yang merasa tersisih darimu. Dia yang mungkin tersenyum di depanmu, namun menyimpan duka atas sikapmu.
Maka berhentilah sejenak. Cobalah awas akan sekelilingmu. Jangan sampai namamu tersebut seiring dia yang tak hirau akan akhiratmu.
"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman"
Semoga ia yang menjadi sahabatmu kini adalah dia yang akan mengajakmu melangkah kepada kebahagiaan abadi, yang juga kelak akan mencarimu di surga.
“Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.” (HR. Muslim 6376)
Jika yang membersamaimu kini adalah dia yang hanya mengenalkanmu pada mewah gemerlapnya dunia, maka segeralah berpaling. Carilah teman yang dapat memberimu nikmat iman dan dapat kau jadikan lentera agar terang langkahmu sampai ke ujung masa.
Sebagaimana Umar bin Khattab berkata: “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.”
# menangkap_rasa #
Jelang terbenamnya mentari, selalu punya banyak keindahan yang kadang tak mampu diucapkan. Mengaguminya, mentadabburinya, merenungkan betapa besar nikmat Allah yang tercurah kepada makhluk-Nya.
Adakah hati kita merasakan?
Ketika Hati Mencari
Gelisah, semua kosong. Terasa hampa. Katamu. Apa yang menggangngu rasamu?
Merasa kurang di tengah kecukuoan. Seoi di tengah hirup pikuk dunia. Bibirmu senyum, namun ada rinai di dalam batinmu. Mengapa? Tanyamu.
Maafkan aku atas diamku. Aku tak sanggup memberi jawaban pasti. Hanya mengira.
Ada sekeping ruang dalam jiwamu yang mungkin selama ini engkau lalai padanya. Dia yang seharusnya engkau penuhi dengan cinta.
Ada masa yang seharusnya engkau berdua saja. Bercengkerama, mencurahkan seluruh kesah, juga bahagiamu. Sayang, engkau abai.
Bahagia yang kau ucap dan kecap selama ini nyatanya fatamorgana yang membuatmu lelah dan tersungkur. Lalu engkau putus asa. Merasa dunia yang ingin kau raup kian menghimpit. Keindahan dan gemerlapnya makin menyilaukan pandangmu. Membuatmu nyaris nanar dan tak dapat kagi membedakan antara khayal dan nyata. Engkau terkulai dalam kubangan dunia yang menyiksa.
Bangkitlah. Takkan kau gapai bahagia hanya dengan berkesah. Isi ruang hampamu dengan menggapai cinta-Nya. Dia yang selama ini kau kenal hanya sebatas sebutan. Bercengkramalah dengan rintihmu di heningnya malam. Basahi lisanmu dengan menyebut-Nya. Mohonlah hanya pada-Nya, karena makhluk takkan pernah berkuasa menunjukimu pada lurusnya jalan. Mohonlah ampun pada khilaf dan abaimu selamma ini. Semoga cerah bahagia akan segera dapat kau kecap. Aamiin
Buat diriku, juga engkau yang merasa serupa.
Biru
Biru itu laut
Biru itu langit
Biru itu batas cakrawala
Biru adalah rasa yang bergemuruh pada diamnya ombak
Biru adalah asa yang menggantang pada tingginya gemawan
Biru adalah batas yang padanya tersimpan segala suka dan duka di batas cakrawala
Biru adalah kabar dari Sang Maha Kuasa atas segala rahmat yang tercurah pada alam semesta
Juga pada lembut kepak sepasang sayap rama-rama
Tutur Kenari
Jarak dan waktu nyatanya menciptakan benteng yang kokoh tak terlampaui. Membentuk sekat tebal yang mengharusakn kita saling melambai dalam diam. Tak ada luka, tak ada sakit. Hanya ada sederet tanya tanpa jawab.
Tapi tak perlu melempar tanya atas segala yang tertelan masa, karena garis takkan tertoreh selain atas kehendak Sang Maha Mengatur. Hanya saja, jejak masa lalu selalu meninggalkan tanda akan langkah yang pernah terpijak. Meski mulai samar terkikis waktu, namun masih terbaca.
Betapa usia belia penuh rasa dan warna, juga sesekali luka. Tak begitu menyakitkan, namun membekaskan lebam. Bukan padaku. Tapi pada rasa yang kini tertutur.
Rasa. Betapa ia sanggup mengelana, lalu terpaut pada tempat yang tak semestinya. Betapa ia mampu membuat sebuat jalinan erat terburai hanya karena rupa. Kesetiaan, begitu mudah tergoyahkan.
Padamu kenangan tentang birunya laut dan riak yang mengalun. Tentang sebungkus kenari bergula yang mengurai kisah di sepanjang trotoar. Ingin ku ucap tahniah atas segala rekaman masa yang terukir. Yang membuatku kini berdiri kokoh pada pijak-ku. Sekokoh pohon kenari yang buahnya pernah mengurai kisah.
Tentang cita, rasa dan asa. Juga tentang restu yang tak terjangkau.
Dia Sang Maha Pengatur. Puji atas-Mu atas segalanya. Takkan jatuh sehelai daunpun tanpa izin-Mu.
Tuturkan Saja!
Ya, tuturka saja semua
Agar tak lagi tersimpan duka
Agar kau raih kembali bahagia
Agar sakit tak lagi mendera
Jangan pernah sesali duka
Karena dia adalah rasa
Yang pasti ada pada setiap dada
Hanya perlu kuat untuk menahan
Siapkah?
Tidak, tak akan pernah
Hanya jika Dia Yang Maha Kuat
Menjulurkan genggam-Nya untuk kau raih
Lalu mengapa masih belum tegak!
Belumkah cukup resah kau lirihkan
Sampai kapan?
Atau kau tak lagi punya asa?
Ayo bersegeralah
Sebelum yang lain jauh berlari
Dan engkau akan tinggal berteman sesal
Maka bangkitlah, sebelum semua terlambat