Dream, Hope, and Opportunity (Ekspedisi Kampung Ngapak bareng Biru Peduli)
Belajar dan bersyukur dari perjalanan hidup sesama serta mengadopsi pelajaran penting dan berharga. Pun berusaha untuk bisa berbagi rasa, cerita, cita, dan cinta untuk mewujudkan asa bersama.
Banyumas, 30-31 Januari 2013
Sebuah perjalanan panjang mengantarkan kami di sebuah lahan pembelajaran baru. Saya pribadi baru pertama kali menapakkan kaki di kampung ngapak yang orang kenal dengan sebutan kota Banyumas ini. “Keangkuhan” alam yang tersirat dari panorama sekitar turut mencitrakan kondisi masyarakatnya. Hijau, terjal, dan berliku selalu berimajiner dalam perjalanan yang kami tempuh selama dua hari tersebut. Entahlah, saya kira tiga panorama itu turut menggambarkan kondisi warga masyarakatnya sehingga esensi kehidupan dapat kita rengkuh dari keangkuhan alam yang ada.
Namun, biarlah itu menjadi jawaban di akhir tulisan nanti. Beralih pada tujuan proses kami ke Banyumas adalah untuk melihat perkembangan dua siswa binaan Biru Peduli dan berbagi rasa, cerita, cita, serta cinta bersama mereka. Sebut saja Sarmono dan Giat.
Saat ini Sarmono duduk di kelas VIII sedangkan Giat siap menempuh pendidikan lanjutan ke jenjang SLTA lantaran sudah duduk di kelas IX. Mereka berada pada satu SLTP yang sama. Kondisi latar belakang keluarga pun demikian. Sarmono lahir dan dibesarkan hanya oleh seorang ibu yang memiliki keterbatasan fisik. Pun Giat sejak lahir belum mengetahui siapa orang tuanya lantaran dia dibesarkan oleh dua orang lanjut usia yang memiliki keterbatasan juga. Namun, Giat lebih beruntung lantaran ada sosok yang tulus mengarahkan petualangan hidupnya. Alhasil, Giat diajari berbagai ketrampilan untuk sedikit menambah uang jajannya dengan membantu orangtua angkatnya bekerja di bengkel. Hal itulah yang membuat hidup Giat lebih sedikit terarah dan terpantau daripada Sarmono.
Satu payung pendidikan dan satu latar belakang bukan berarti mereka adalah dua pribadi yang sama melainkan sebaliknya. Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda, bahkan dapat dikatakan “sangat bertolakbelakang”.
#Tiba di Sekolah sekitar pukul 11:30#
Beberapa siswa memasuki sebuah angkutan khusus. Nampak memang seperti angkutan umum. Namun angkutan itu ternyata bus sekolah yang mengantar dan menjemput para siswa yang memiliki ongkos lebih. Hal itu menandakan bahwa jam sekolah berakhir. Para siswa mulai meninggalkan sekolah, termasuk Sarmono dan Giat.
Bu Guru BK yang selama ini memantau aktivitas Sarmono dan Giat di sekolah pun sudah meninggalkan sekolah. Akhirnya kami bercakap bersama dengan kepala sekolah, satu guru BK, dan seorang guru mata pelajaran. Mereka tahu perkembangan Sarmono dan Giat sehingga informasi tentang perkembangan dua siswa binaan tersebut dapat kami peroleh dari mereka.
Pertama, menyoal Sarmono. Mereka “sepakat” mengatakan bahwa Sarmono bermasalah. Beberapa hari Sarmono tidak masuk sekolah. Selidik punya selidik, Sarmono sudah tidak masuk tanpa keterangan selama tiga hari untuk bekerja sebagai buruh pemecah batu. Pernah seorang guru mendapatinya tengah merokok bersama kawannya di luar sekolah. Pun tempramennya yang belum bisa dikendalikan membuat Sarmono sering meluapkan amarahnya dengan perilaku yang kurang baik misalnya membanting pintu atau melempar sepatu.
Tiga orang guru mengamini bahwa Sarmono memang memiliki masalah yang kompleks. Satu diantara mereka mengatakan bahwa perilaku Sarmono tersebut memang sudah mengakar lantaran dirinya sejak kecil terbiasa mencari uang untuk menafkahi dirinya dan ibunya. Hal itu menyebabkan Sarmono malas untuk berpikir menyoal pelajaran. Pun Sarmono sendiri pernah megatakan demikian. Namun sangat disayangkan ketika ada kesempatan untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) kelak.
Mimpi itu tidak bisa secara instan diwujudkan oleh Sarmono tetapi harus melalui tahap-tahap yang tidak mudah. Penuh godaan, apalagi Sarmono sudah pernah merasakan nikmatnya memiliki penghasilan tanpa sekolah. So Guys, dukungan, bimbingan dan motivasi yang intensif sangat dibutuhkan oleh remaja 16 tahun tersebut untuk menyadarkan seberapa pentingnya pendidikan.
# Menuju Rumah Pak Lurah #
Saya pikir, Sarmono adalah anak spesial. Di mana bumi dipijak, di sana ada pemantaunya. Di sekolah Sarmono berada dalam pengawasan bu Yani selaku guru BK. Pun di rumah, pak Lurah bisa mendapati gerak-geriknya, baik dari laporan warga dan sebagainya. Pak Lurah juga masih ada ikatan saudara dengan Sarmono. Namun pengawasan yang dilakukan berasa belum maksimal lantaran mereka hanya memantau secara informatif saja. Padahal kalau kami lihat, Sarmono bukan hanya ingin diawasi melainkan butuh motivasi yang lebih.
Hal itu sangat memungkinkan lantaran sehari-hari Sarmono hanya bersama ibunya yang memiliki keterbatasan dalam beraktivitas. Secara otomatis komunikasi yang terjalin tidak efektif. Jika sebelum tidur seorang anak selalu diberikan dongeng kehidupan dan atau diberikan petuah setiap dia melanggar atau melakukan sesuatu, itu tidak terjadi pada Sarmono. Dia hanya berasa dimata-matai dan mungkin sesekali mendapatkan teguran tidak baik dari orang lain. Baguslah jika orang lain tersebut menyampaikannya dengan cara yang baik dan mendorong Sarmono untuk berperilaku lebih baik lagi. Kalau sebaliknya? Mungkin hanya akan membuat kupingnya panas atau malah semakin benci dengan orang di sekitarnya dan mencari suaka kehidupan lain yang bisa menerimanya, entah positif atau sebaliknya.
Di sepanjang jalan menuju rumah pak Lurah, jalanan terjal dan berliku serasa menggambarkan pikiran kami saat itu. Setelah bercakap banyak bersama guru tentang Sarmono dan banyak hal-hal negatif yang disampaikan,kami semakin penasaran dengan kondisi Sarmono yang sebenarnya. Tetapi kami masih optimis bahwa Sarmono masih bisa diperbaiki sikap dan perilakunya.
Sebuah petigaan di salah sudut kampung, kami melihat Sarmono tengah bermain denga kawan sebayanya. Mas Iqbal sontak teriak,”eh itu Sarmono... itu Sarmono!”. Seorang belia dengan pewarna rambut yang tidak merata dan celana biru (seragam). Akhirnya kami bercakap bersama Sarmono sambil mengajaknya pulang.
Masih dengan rasa penasaran dan gelisah dengan perilaku Sarmono, kami becakap kecil sambil menyusuri jalan menuju rumah pak Lurah. Mulai menanyakan kabar, aktivitas, alasan dia tidak masuk sekolah, sampai mengklarifikasi informasi yang kami dapat tentangnya dari para guru. Sarmono mengaku, dirinya tidak masuk sekolah lantaran sakit panas dan tidak ada teman yang bisa dtitipi surat ijin. Menyoal bekerja sebagai buruh di tempat pemecah batu, dirinya mengamini tetapi tidak untuk membolos. Pekerjaan itu dia lakukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari misalnya membeli beras.
Obrolan kami ternyata berlangsung lama karena rumah Pak Lurah nampak sepi sehingga kami singgah ke rumah Sarmono dahulu. Hanya beberapa langkah saja jarak antara rumah pak Lurah dengan Sarmono. Pun kami dapat menempuhnya dengan berjalan kaki. Sesampainya di sana, tiga ekor kambing menyambut kedatangan kami. Satu induk, dan dua anak kambing.
Beberapa LKS tertumpuk rapi disalah satu sudut meja. Saya dan mela duduk di samping Sarmono. Pun mas Iqbal ada di seberang meja, tepat di depan Sarmono. Dua lainnya (Mas Ikhsan dan Mas Andy) bergantian mengambil gambar dan sesekali bercakap dengan wanita paruh baya yang tinggal di sebelah rumah Sarmono. Wanita itu adalah bibi Sarmono.
Wanita tersebut menceritakan kehidupan Sarmoo sehari-hari. Dia bilang bahwa Sarmono kerap ulang malam, bahkan terkadang tidak pulang. Bahkan wanita itu sempat berucap dengan membanding-bandingkan perilaku ayah yang meninggalkan Sarmono sejak dirinya lahir. “buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya. Ayahnya saja tidak bener apalagi anaknya?”. Kurang lebih demikian dia berucap. Intinya, dia semakin memperburuk cerita tentang Sarmono.
Lain halnya di dalam rumah. Mas Iqbal dengan nada halus penuh motivasi sedang membujuk Sarmono supaya lebih semangat sekolah dan berperilaku positif. Tanpa nada mengintrogasi, obrolanpun terdengar penuh rasa sayang. Sesekali Sarmono mengusap peluh. Bukan menagis, melainkan ada kebingungan yang terselip dari raut wajahnya.
Sarmono memang mengamini bahwa dia sering tak pulang atau pulang malam. Namun saya yakin, itu dilakukannya lantaran tidak ada orang yang mendampingi atau bisa diajak untuk berbagi saat dia di rumah. Sedikit wajar ketika dia ingin mencari suaka komunitas atau teman yang mau mendengar keluh kesahnya. Namun, dia betemu dengan suaka keluarga yang salah. Pun ini perlu dibenahi secara intensif dan berkelanjutan supaya tidak terlalu larut.
Ada beberapa aspek yang saya tangkap dari obrolan antara Mas Iqbal dengan Sarmono.
Jadilah orang yang jujur. Sekali kamu berbohong, maka seterusnya kamu akan berpikir untuk melakukan kebohongan-kebohongan yang lebih parah. Pun ketika kamu sudah berbohong, orang tak akan mempercayaimu lagi sekalipun apa yang kamu ucapkan adalah benar.
Hidup itu pilihan. Apakah kamu akan membiarkan mimpimu hanya sebagai angin lalu saja atau kamu ingin meraihnya? Semua tidak bisa datang “mak bedunduk” atau instan. Ada proses yang terkadang kita harus berkorban. Sama seperti apa yang sedang dihadapi oleh Sarmono. Di satu sisi dia ingin mencari uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dan itu wajar ketika anak seusianya memiliki berbagai macam keinginan. Tetapi di sisi lain dia harus sekolah, belajar dan memerangi rasa malasnya ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung. Pun sekolah tidak menghasilkan uang untuk saat ini. namun sekolah merupakan proses. Apa jadinya jika kita tidak berpendidikan? Percuma kita cerdas kalau tidak berpendidikan lantaran kita tidak bisa memiliki strategi yang pas untuk mengatur kecerdasan tersebut. Jadi,lewat pendidikan lah kita bisa mengatur dirikita dengan lebih baik. Bukan hanya pengetahuan secara kognitif saja melainkan banyak nilai kehidupan yang akan kita peroleh di sekolah daripada kita hanya berkumpul dan sekedar bersenang-senang tanpa beban pikiran.
Itulah yang membuat kita berpikir “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Orang yang dari awal sudah rekasa dan prihatin maka hasilnya akan lebih memuaskan. Waktu itu Sarmon diberikan pilihan oleh mas Iqbal, “Mon,kamu mau jadi seperti ini (menunjuk kambing) atau benar-benar jadi guru yang memakai seragam? Kalau kamu ingin jadi guru, berati kamu harus rajin sekolah dan belajar. Kamu bisa bekerja tetapi jangan meninggalkan sekolah”. Di sana mas Iqbal juga mengatakan bahwa profesi dia sebagai penderes nira jangan sampai hilang tetapi hanya dikurangi porsinya. Mungkin usai sekolah dia bisa menderes dengan jumlah yang lebih sedikit. Namun ternyata Sarmono sudah tidak menderes lagi. menurut alasan yang diungkapkan oleh Sarmono, sudah tida ada lagi pohon kelapa yang akan dia deres.
Apa yang kita inginkan saat ini belum tentu menjadi kebutuhan. Terima saja dulu jika kita harus banyak berkorban saat ini. besok ketika mimpi kita sudah terwujud apapun yang kita ingin beli, apapun yang kita inginkan pasti bisa terlaksana. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Hal ini disampaikan oleh mas Iqbal secara tersirat ketika menggambarkan paa AAS yang ada di Yogyakarta. Mereka berangkat darilatarbelakang yang hampir sama dengan Sarmono. Dan mereka pun memiliki mimpi seperti Sarmoo. Namun mereka tidakpantang menyerah sehingga satu per satu mimpi mereka mulai terealisasi. Mereka sudah ada yang kuliah dan sebentar lagi akan menjadi guru. Itu membutuhkan ketekunan dan semangat yang lebih hal tersebut disampaikan agar Sarmono memiliki gambaran dan men-charge semangatnya yang mungkin sudah mulai menipis.
Beberapa dan mungkin sebagian besar warga sudah menganggap bahwa Sarmono sudah tidak bisa diatur. Perilakunya sudah terlalu negatif. Tetapi untuk membakar semangatnya, mas Iqbal mengatakan bahwa, “aku masih percaya denganmu, Mon. Aku percaya kalau Sarmono tidak seperti yang orang-orang katakan. Tolong jaga kepercayaanku ini. Aku ingin ketemu lagi denganmu 10 tahun lagi, melihatmu sudah menjadi guru”
Kami mengajak Sarmono ke rumah pak Lurah. Tujuan kami sebenarnya hanya ingin menyadarkan Sarmono bahwa segala macam perilaku negatifnya sudah diketahui banyak orang dan bakal merugikan dirinya kelak. Di sana pak Lurah memberikan petuah dan segala bentuk pengarahannya. Namun cara yang digunakan oleh pak Lurah sepertinya salah. Dengan nada tinggi dan sebentar-sebentar menggunakan bahasa yang kurang baik, menurut kami akan memberikan efek yang tidak baik pula. Ada kemungkinan Sarmono akan semakin nglokro atau semakin nekat untuk tetap mencari suaka komunitas yang bisa mendengarkan keluh kesahnya serta menerima kehadiran Sarmono apa adanya.
Sebenarnya inti dari obrolan bersama pak Lurah itu baik, tetapi caranya kurang pas. Terlihat perbedaan dari raut muka Sarmono ketika diberikan nasihat oleh pak Lurah dengan ketika ngobrol santai bersama mas Iqbal. Di rumah pak Lurah, Sarmono nampak lebih tegang dan mungkin agak sedikit takut juga dengan nada tinggi yang dilontarkan oleh Pak Lurah.
Sebelum menemui bu Yani, guru BK Sarmono dan Giat, kami singgah sebentar di rumah orang tua asuh Giat. Tepatnya di bengkel pak Padi. Saat di sekolah para guru mengatakan bahwa Giat tidak masuk karena sakit, sehari sebelumnya matanya merah. Pun Giat berucap dia terlalu stres memikirkan Ujian Nasional (UN) yang segera tiba.
Di rumah Giat kami tidak terlalu lama. Bersama mas Padi, orang tua asuh Giat, kami bercakap menyoal perkembangan Giat. Jika seharian kami berkutat dengan berita menggelisahkan tentang Sarmono, kali ini sangat berbeda. Sebentar-sebentar Giat tersenyum ketika obrolan dilontarkan padanya. Giat ingin melanjutkan ke SMK jurusan Audio dan Video. Menurutnya, dia ingin belajar keterampilan yang berbeda. Jika selama ini dia berkutat menyoal otomotif, kelak setelah lulus ia ingin memiliki keterampilan di bidang Audio visual.
Menjelang magrib kami melakukan perjalanan dari Somagede menuju Purworejo, rumah bu Yani. Selain ingin menitipkan Sarmono kepada beliau selaku guru BK, kamijuga ingin mengklarifikasi menyoal berita tentang Sarmono. Pun di rumah Bu Yani berita yang sama kami dengar kembali.
Namun kami melihat ada hal lain dari bu Yani. Sikap beliau memang sedikit bebeda dengan guru lainnya. Ada kedekatan tersendiri yang ia bangun dengan para siswanya, termasuk Sarmono dan Giat. Kedekatan tersebut mungkin bertujuan untuk sedikit menyamarkan hierarki antara murid dengan guru tanpa menyalahi etika yang ada. pun untuk menciptakan iklim nyaman ketika berinteraksi dengan mereka. itu terlihat dari cara beliau berbicara daripada guru lain di sekolah tersebut. Mungkin bisa dikatakan hampir mirip dengan Pak Rusdy. Namun pak Rusdy tetap TOP di atas J
Bu yani sempat cerita bahwa ada teman Sarmono bernama Budi. Dia satu kelas dan satu tingkat dengan Sarmono. Pun juga menjadi buruh pemecah batu. Namun budi masih rajin sekolah tanpa bolos. Enurut cerita dari bu Yani yang bersumber dari Budi, Sarmono kerap tidur di tempat pemecah batu tersebut. Lagi-lagi kalau menurut perasaan saya, itu karena Sarmono butuh teman untuk berbagi lantaran ketika saya tanya,”Mon, kamu kalau lagi bingung atau punya masalah ngobrolnya sama siapa?” dia jawab,”gag ada, gag punya temen di rumah”
Sebelum melanjutkan perjalanan, kami singgah sebentar ke sebuah masjid dekat rumah Bu Yani. Tiba-tiba ada ayam bakar yang muncul di sebelah setelah kita selesai sholat, pemirsaaahh!!!! à hikmah Sholat Magrib! J
#Perjalanan Menuju Hotel#
Di sepanjang jalan menuju penginapan, kami berdiskusi menyoal Sarmono. Berkaca dari permasalahan yang semakin kompleks dan mengingat mimpi-mimpi Sarmono yang sayang untuk dihapus begitu saja, kami ingin perilaku Sarmono bisa diperbaiki. Salah satu upaya untuk dapat merealisasikan hal itu adalah bimbingan dan motivasi yang intensif dan berkelanjutan untuk Sarmono. Kami melihat bahwa selama ini, orang-orang yang memberikan informasi tentang Sarmono hanya sekedar “laporan”, sedangkan feedback untuk Sarmono sendiri harus dilakukan sebelum permasalahan yang dihadapi lebih rumit. Jangan sampai pergaulannya bersama komunitas luar sampai kebablasan dan berdampak buruk bagi kehidupannya kelak. Bukan berarti melarang Sarmono untuk bergaul secara bebas melainkan untuk menyadarkan pentingnya pendidiakan dan berhati-hati dalam bersikap.
Di warung makan, mas Iqbal memberikan banyak wejangan yang semain membuat kami berpikir, bersyukur, dan membakar semangat untuk terus berproses.
Bergaul itu penting. Bergaul itu bisa dengan siapa saja. Istilah jawanya “ngeli ning aja keli”. Kurang kebih seperti itu gambaran dari obrolan bersama mas Iqbal. Beliau mengatakan bahwa kita memang harus memilih teman tanpa kita meremehkan satu pihak. Terkadang orang-orang yang ibaratnya merokok, minum, atau bertato patut untuk kita gauli juga asalkan kita tidak ikut terjerumus bersama mereka. pun kita mengambil nilai-nilai positif dari kehidupan yang mereka jalani.
Mas Iqbal bercerita tentang orang yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu. Orang tersebut memberikan wejangan bahwa jangan melihat orang hanya dari penampilan. Terkadang penampilan itu tidak sesuai dengan hatinya. Tidak selamanya kita belajar dari orang-orang “berdasi”. Namun orang-orang yang sama sekali tidak menawan untuk dipandang mata pun kadang memiliki nilai lebih.
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kita jangan melihat buruknya saja. Namun kelebihan yang dimiliki orang lain bisa menjadi wahana untuk kita belajar serta menyadarkan orang tersebut untuk memperbaiki perilakunya secara perlahan. Misalnya saja Sarmono. Sebenarnya perilaku Sarmono bisa dikendalikan atau diluruskan lagi walaupun membutuhkan waktu yang intensif dan berkelanjutan.
Alangkah indahnya kehidupan kita jika sifat ini bisa mengakar. Dengan demikian kita dapat menikmati dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Sebuah cerita yang dilontarkan oleh mas Iqbal saat itu adalah tentang seorang wali murid dari salah satu siswa SMA N 1 Jetis. Ibu tersebut tidak pernah menuntut suaminya harus pulang membawa berapa rupiah. Seberapa besar yang dia terima, diaanggap sebagai rejekinya dari Tuhan. Utangnya di mana-mana. Namun ia relakan itu untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Pun saat ini anak pertamanya sudah belajar di perguruan tinggi.
Apapun yang kita lakukan tidak ada yang rugi. sekalipun itu hal negatif pasti ada manfaatnya kelak lantaran dari peristiwa yang buruk itu kita dapat merefkeksikan diri kita, mengevaluasi sehingga ketika ingin melangkah pada proses selanjutnya kita sudah memiliki acuannya. Pun itu akan menambah jam terbang kita dalam menapaki petualangan di panggung sandiwara ini. jika kita tidak pernah melakukan kesalahan, kita tidak akan bisa belajar dalam merengkuh esensi hidup. begitu pula Sarmono. Perilakunya saat ini an memberikan pelajaran juga kepada dirinya kelak. Dan dia juga akan lebih hati-hati ketika akan melangkah lantaran proses itu adalah investasi yang paling berharga.
Lakukan apapun yang bermanfaat untuk orang lain karena jika perbuatan kita bermanfaat untuk orang lain, otomatis akan bermanfaat juga bagi dirikita pribadi.
Petualangan selama satu hari masih menyisakan pertanyaan besar tentang Sarmono. Usai mandi, kami berkumpul di loby hotel untuk membahas Sarmono. Obrolan ringan semi serius berlangsung sampai menjelang dini hari. Beberapa alternatif kami obrolkan untuk memberikan kesibukan kepada Sarmono supaya dia tidak terlalu banyak waktu untuk bergaul dengan komunitas yang salah, kemudian juga terbesit untuk mengutus salah satu tetangga dalam membantu mendampingi Sarmono serta memantau keadaannya.
Kami masih mengkhawatirkan keadaan Sarmono usai dinasihati oleh Pak Lurah. Malam itu kami merencanakan untuk menjemput Sarmono keesokan paginya lepas subuh, sebelum berangkat ke sekolah. Pun untuk memberikan pengertian bahwa sebenarnya maksud pakLurah baik. Dan untukmemerikan gambaran juga bahwa orang berpendidikan dan tidak itu terllihat bedanya. Pak Lurah yang notabene hanya lulusan SD dengan mas Iqbal yang sekolahnya lebih tinggi pati berbeda cara memberikan nasihatnya. Itu dilakukan bukan semata-mata ingin membanding-bandingkan melainkan supaya Sarmono tergerak hatinya untuk selalu semangat sekolah.
Namun cuaca tida mendukung. Hujan membasahi bumi Somagede dan kami pun mengurungkan niat untuk menjemput Sarmono lepas subuh. Akhirnya sekitar pukul 9:... kami menuju sekolah Sarmono dan membawanya keluar dari arena sekolah. Hal itu dilakukan untuk merealisasikan misi di atas. Di sepanjang jalan mas Iqbal memberikan nasihat dan wejangan yang hebat. Mas Iqbal juga sempat mengatakan,”Mon, kamu ingat nggak pas kita beli seragam bareng? Beli sepatu? Kaosnya masih ada, Mon? Besok mau tak pigura dan takkasih kamu bar kamu selaluinget dan semangat. Kamu inget perjuangan kamu supaya bisa diterima di SMP? Wah ada pak camat, pak bupati juga e...” Memori itu dimunculkan kemballi oleh mas Iqbal upaya Sarmono tidak gampang bilang malas miki dan selalu dibalut oleh semangat sekolah.
Sebuah catatan perjalanan selama di Banyumas. Kita satu keluarga. Kita sama-sama siswa binaan Biru Peduli. begitu pula dengan Sarmono dan Giat. Anggaplah mereka adalah adik kita yang juga menjadi tanggungjawab bersama untuk mewujudkan asa bersama pula. Dream, Hope, and Opportunity J