Kegelisahanku, Kegelisahan Berpikir
Kadang yang perlu kita jernihkan bukan semangatnya, tapi cara kita mengategorikan dan membingkai persoalan.
Maksudku, kita bisa punya semangat membela tauhid. Itu baik.
Tapi kalau kita membingkai persoalan dengan kategori yang tidak tepat, misalnya menyamakan kritik terhadap “cara membawa agama” dengan serangan terhadap tauhid, maka diskusinya jadi kabur.
Jadi yang perlu kita jernihkan itu bukan “Apakah tauhid itu penting?” (karena itu jelas penting bagi kita yang beriman)
Tapi “Apakah persoalan yang sedang diperdebatkan memang tentang tauhid?”
Mengategorikan persoalan itu artinya kita menentukan ini ranah apa?
Teologis?
Etika pribadi?
Ekspresi sosial?
Politik identitas?
Sikap intelektual?
Mengategorikan dan membingkai persoalan artinya kita memilih sudut pandang apa untuk melihatnya.
Kalau kategorinya keliru, framing-nya ikut keliru.
Akibatnya, orang merasa sedang membela yang sakral, padahal yang dikritik mungkin hanya cara penyampaiannya.
Setidaknya, itu simpulan yang muncul di kepalaku setelah membaca tulisan seseorang yang olehku tertangkap sebagai kegelisahannya saat mungkin (mungkin saja) dia menerima kritik “Kenapa sih dikit-dikit bawa agama?” dari orang disekitarnya.
Terlontarnya kalimat semacam itu, bisa saja lahir dari beragam pengalaman seperti:
Melihat cara penyampaian yang menghakimi, penggunaan agama untuk menyerang orang lain, atau cara beragama yang terasa tidak empatik.
Kalau kita bedah pakai kerangka “mengategorikan persoalan” tadi, maka kita harus tanya dulu, keluhan “dikit-dikit bawa agama” itu sebenarnya berada di ranah apa?
Teologis?
Apakah orang sedang menggugat keberadaan Tuhan, keesaan-Nya, atau konsep tauhid?
Biasanya tidak.
Jarang sekali kalimat seperti itu muncul dalam debat teologi murni.
Etika pribadi?
Bisa jadi.
Orang mungkin merasa tidak nyaman dengan cara seseorang menasihati, menghakimi, atau membawa dalil di ruang yang sensitif.
Ekspresi sosial?
Ini yang paling sering.
Yang dikritik adalah bagaimana agama diekspresikan di ruang publik, seperti cara berbicara, cara mengomentari hidup orang lain, cara membawa simbol atau aturan ke percakapan umum.
Politik identitas?
Kadang iya.
Agama dipakai sebagai penanda kelompok, lalu setiap kritik dianggap serangan terhadap identitas.
Sikap intelektual?
Bisa juga.
Orang merasa diskusi ditutup terlalu cepat dengan legitimasi agama tanpa ruang dialog.
Artinya, yang dikritik mungkin adalah cara membawa agama, bukan inti keimanannya.
Tapi ketika responsnya langsung digeser ke “Ini soal tauhid. Ini soal siapa yang kamu sembah.”
Maka levelnya berubah drastis.
Dari kritik terhadap cara komunikasi atau praktik sosial, menjadi seolah-olah ada serangan terhadap sesuatu yang sakral dan absolut.
Kritik komunikasi dianggap serangan iman.
Kritik praktik sosial dianggap penolakan tauhid.
Diskusi etika berubah jadi perang sakral.
Akibatnya, kita sebagai penerima kritik bisa merasa, “Aku sedang membela yang paling suci.”
Padahal mungkin yang sedang dipersoalkan hanya “Cara kita menyampaikannya.”
Analoginya seperti saat seseorang sedang berkata, “Cara kamu berbicara terlalu keras.” Lalu kita jawab, “Jadi kamu anti kebenaran?” Kategorinya justru terasa melompat karena yang dikritik adalah cara, bukan kebenaran itu sendiri.
Dan ketika sesuatu sudah dinaikkan ke level sakral (tauhid), diskusi jadi sulit.
Karena siapa yang berani mengkritik tanpa terlihat seperti menentang sesuatu yang suci?
Pada akhirnya manusia memang akan kembali pada apa yang ia yakini sebagai sandaran terakhirnya.
Namun membandingkan open minded dengan tauhid adalah sesuatu yang terasa keliru sejak awal.
Tauhid adalah soal orientasi hati dan sumber kebenaran tertinggi. Open minded adalah soal sikap intelektual dalam menerima, mendengar, dan menimbang.
Keduanya tidak berada di medan yang sama. Dan karena tidak berada di medan yang sama, untuk apa mereka dibenturkan? Tidak logis menjadikan mereka seperti bermusuhan. Iya, kan?
Atau justru karena mereka tidak berada di medan yang sama sehingga mereka tak perlu saling dihubungkan?
Menurutku, berbeda medan bukan berarti tidak perlu saling berhubungan.
Justru sering kali, dua hal yang berbeda medan itu saling melengkapi karena menyentuh sisi manusia yang berbeda.
Manusia bukan hanya makhluk yang percaya (faith-oriented), tapi juga makhluk yang berpikir (reason-oriented).
Al-Qur’an bahkan berkali-kali mengulang seruan seperti:
(Tidakkah kalian menggunakan akal?) أفلا تعقلون
(Tidakkah kalian berpikir?) أفلا يتفكرون
(Tidakkah kalian merenungkan?) أفلا يتدبرون
Menurutku itu bukan sekadar hiasan retoris. Itu teguran.
Artinya, iman dalam Islam memang tidak dimaksudkan untuk mematikan akal. Justru akal dipanggil, diajak, ditantang. Tauhid tidak pernah diposisikan sebagai lawan berpikir, tapi sebagai orientasi berpikir.
Tauhid memberi arah. Open minded memberi cara berjalan.
Tauhid menentukan ke mana. Open minded menentukan bagaimana kita mendengar dan menimbang di perjalanan itu.
Kita bisa, kok, bertauhid sekaligus rendah hati dan terbuka dalam berdialog.
Yang sebaiknya jangan—menjadikan open minded sebagai standar moral tertinggi, atau menganggap iman itu otomatis sempit.