Samotność to nie brak innych ludzi. To brak zrozumienia i akceptacji. Miliony ludzi z całego świata doświadczają jej w tłumie. W gruncie rzeczy staje się wtedy jeszcze bardziej dotkliwa.
Bronnie Ware “Czego najbardziej żałują umierający”
seen from United Kingdom
seen from Lithuania

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Maldives

seen from United States

seen from China
seen from Serbia

seen from United States

seen from China
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Kenya
seen from Thailand
seen from China
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from Thailand
Samotność to nie brak innych ludzi. To brak zrozumienia i akceptacji. Miliony ludzi z całego świata doświadczają jej w tłumie. W gruncie rzeczy staje się wtedy jeszcze bardziej dotkliwa.
Bronnie Ware “Czego najbardziej żałują umierający”
Let's Grab a Cup of Bitter Coffee?
Malam pekat itu menjadi kelabu tatkala mendung menyelimuti. Ah, bukan karena langitnya semakin gelap, melainkan gemuruh yang semakin lama semakin keras. Duduk dalam ruang gelap nan hangat membuat setiap orang tenang, selama sepersekian detik tentunya. Aroma kopi tengah malam menyeruak kedalam hidung setiap orang yang masih terjaga. Ya, semua masih tentang kopi. Keterpesonaanku tentangnya membuatku tak habis membahas soal ini. Memang benar kafeinnya tidak pas dalam diriku, tapi pas dalam dirinya yang lagi-lagi, sambil menyesap batang rokoknya satu-persatu. Ia berkata bahwa ia tidak sedang ingin berteman dengan sebatang rokok namun, kopinya berkata lain, rokok dan kopi itu kan sahabat baik. Sudut mataku tak habis membayangkan bagaimana dirinya saat sedang menikmati kopi dengan, asap mengepul layaknya cerobong asap di siang hari. Secangkir kopi panas di tengah malam bisa membuat orang terjaga sepanjang malam termasuk, dirinya. Entah apa yang membuatku jatuh cinta namun, nyatanya kopi membuat setiap hidung jatuh cinta dengan aromanya. Aku tidak tahu bagaimana, kalau ada sebagian orang yang tidak suka mencium aroma kopi padahal, aromanya semempesona itu. Hampir setiap malam aku merindukannya, merindukan kopinya, dan juga merindukannya. Oh ayolah, jangan paksa aku untuk mengatakan siapa dia, karena menurutku dirinya itu seperti kopi pahit yang kental tapi, sedikit manis dengan sentuhan senyum khas di bibirnya. Memang tidak sekeren orang-orang pada umumnya tetapi, tatapan hangatnya membuatku tak ingin melepaskannya begitu saja seperti, kopi. Biar aku jelaskan kenapa, aku menyebutnya kopi pahit. Begini, setiap malam jariku selalu ingin menyapanya dalam sapuan udara dingin diluaran sana. Tetapi, jariku malah memilih menyapanya dengan sentuhan hangat bak kopi yang baru saja di buat. Namun, tanggapannya membuat jariku geram dan seakan ingin meninggalkan percakapan tersebut. Sudah dapat? Pasti kalian bertanya-tanya apa hubungannya dengan kopi pahit. Ah baiklah tidak usah basa-basi lagi, aku akan jelaskan bagaimana orang ini sangat mirip dengan kopi pahit. Kopi memang pahit jika, ketika membuatnya kalian tidak mengaduknya dengan gula sedikit pun. Sama sepertinya yang cueknya bukan kepalang. Kopi pahit menggambarkan dia yang begitu tidak pedulian dengan orang sekitarnya, biar ku perjelas, wanita. Memang kopi pahit akan peduli dengan penikmatnya lalu menjadi manis? Tidak. Suatu keajaiban jika kopi yang tadinya pahit bisa manis dengan sendirinya. Hal itulah yang dimilikinya, kopi pahit yang tidak akan pernah bisa menjadi manis dengan sendirinya kecuali, ada yang merasa bahwa pahit itu tidak enak maka dari itu kopi pahitnya ditambahkan sedikit gula agar menjadi sedikit manis. Kopi pahit itulah yang pas untuknya. Namun, ketahuilah dibalik semua kepahitannya, secangkir kopi pahit sangat hangat, malah lebih hangat dari hanya sekedar berdiam diri di dalam ruangan nan gelap. Kehangatan itu bisa kalian dapatkan ketika kalian berada di dekatnya, di dekat kopi pahit malam ini, begitulah. So, let’s grab a cup of bitter coffee, huh? ;)