Perubahan dari era agraris menjadi era industri, sedikit banyak mempengaruhi mentalitas dan pola asuh orangtua Indonesia. Orangtua kita (generasi baby boomer -lahir sblm 1964- dan generasi X -lahir 1965 hingga 1976-) hidup di era agraris menuju era industri.
Saat itu, Indonesia sedang ada pada masa recovery pasca kemerdekaan. Yang kedua generasi ini pahami, orang sukses adalah orang-orang yang berprofesi sebagai PNS, dokter, tentara, ahli hukum, pedagang, guru, dan polisi. Akses pendidikan sangat diperlukan agar seseorang dapat berprofesi tersebut di atas.
Maka, yang mereka pahami, agar menjadi anak yang siap menghadapi tantangan zaman, kepentingan akademik kita didukung penuh agar kelak kita siap mengisi pos-pos industri.
Tidak ada yang salah. Saat itu memang begitulah bentuk kasih sayang terbaik yang orangtua kita tahu.
Saat kita dipersiapkan dan mempersiapkan diri menjadi seorang profesional, ternyata kita tak berbekal menjadi orangtua. Mereka tidak tau bahwa tantangan pengasuhan ke depan akan sekompleks saat ini karena percepatan teknologi informasi.
Realitanya, pengasuhan anak hari ini mengalami peningkatan kebutuhan dan tantangan yang menyebabkan perlunya perubahan paradigma dalam mengasuh anak.
Perkembangan zaman membuat generasi orangtua kita, diri kita sendiri, dan anak-anak masa kini memiliki perbedaan karakteristik pola pikir, gaya hidup, dan cara pandang. anak kita kelak adalah generasi Z' (yang bahkan sejak masih dalam kandungan sudah kenal kecanggihan teknologi).
Jangankan anak kita yg generasi Z', adik2 kita yang generasi Z saja kita sudah susah mengejar pola pikirnya.
Namun, bukankah orangtua kita pun tidak sekolah untuk menjadi orangtua? Bukankah menjadi orangtua adalah sesuatu yang instingtif?
Di jaman orangtua kita dulu, keterampilan mengasuh anak dianggap sebagai hal natural yang dimiliki setiap orang. Memang, wanita generasi baby boomer dan generasi X cukup disiapkan untuk jadi Ibu dan pengasuh yang baik. Anak perempuan dilatih bantuin ibu dirumah, bantuin masak, bantuin ibu ngurus rumah, belanja ke pasar, bantu jaga adek. jadi setelah ia menjadi ibu, naluri keibuan udah terasah dengan baik.
Ingat, orangtua kita adalah generasi X yang memahami bahwa : jika ingin anak-anaknya sukses menghadapi tantangan zaman, kepentingan akademinya harus didukung penuh.
Akibatnya, generasi hari ini sibuk ditempa dari sisi akademis, namun tidak disiapkan menjadi suami/istri dan ayah/ibu. Tak hanya laki-laki, hari ini banyak wanita yang berorientasi pada pendidikan dan karir.
Generasi setelah kita tumbuh dengan percepatan biologis dan akademis yang luar biasa tetapi juga mengalami keterlambatan psikologis dan juga bahkan keterlambatan ruhiyah yang luar biasa.
Pernahkah kita merasa ada kesenjangan pola pikir yang menyebabkan terganggunya komunikasi antara kita dengan orangtua?
Relevan kah jika kita menggunakan cara mengasuh orangtua kita dulu untuk anak kita nanti? apalagi kita akan mengasuh generasi Z dan Z' yang seluruhnya memiliki pola pikir, gaya hidup, dan cara pandang yg jauh berbeda dari dua generasi sebelumnya.
Masih bisa kah pengasuhan kita anggap sebagai hal natural yang bisa didapatkan secara alamiah tanpa perlu pembelajaran khusus?
Lalu, kapan kita mulai belajar mengasuh anak?
Sebelumnya sudah pernah dilakukan survey kecil"an dengan cara wawancara kualitatif dengan 35 responden ibu" yg udah nikah, dari sini didapatkan hasil bahwa 80% dari mereka mengaku baru mempelajari hal terkait pengasuhan anak setelah bayi lahir, dan sisanya belajar sejak awal kehamilan.
Hasil survey ini mengindikasikan bahwa orangtua mempersiapkan cara mengasuh anak 'berbarengan' dengan tumbuh kembang anaknya, yang berarti mereka mengasuh anaknya dengan metode learn by doing, dan hal ini cenderung menjadikan pola asuhnya sebagai pola asuh trial and error.
Jika pengasuhannya tepat maka pertumbuhan anaknya optimal dan baik, namun jika pengasuhannya tidak tepat menimbulkan banyak resiko terhadap tumbuh kembang anaknya, padahal mengasuh anak tidak bisa diulang kembali.
Memang bisa dipahami, tidak dimilikinya ilmu dan kesiapan mengasuh anak, 'memaksa' kita mulai mencoba belajar dari sekitar. Yang terdekat adalah dari orangtua. Kita belajar dari bagaimana dulu kita dibesarkan oleh orangtua kita. Cara lainnya adalah dengan trial alias coba-coba. (Kata minyak kayu putih caplang, buat anak kok coba-coba?)
Padahal, psikolog dan konselor pernikahan terkemuka Amerika, Mark B. Kastleman, mengatakan bahwa kurangnya kesiapan mengasuh anak dapat menyebabkan kepribadian anak terancam BLAST (Bored, Lonely, Afraid-Angry, Stress, Tired).
Anak-anak ini lah yang menjadi korban dari permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat seperti tak tangguh menghadapi beban berat kurikulum, pengaruh negatif dan tekanan teman sebaya, bullying, kekerasan fisik dan seksual, pengaruh negatif media digital (pornografi, konten tanpa filter, ideologi menyimpang, dsb).
Sebenarnya, ketika kita diberi amanah seorang anak, bersama itu pula Allah memberi kita ‘modal’ agar kita menjadi hamba yang amanah. Tidak mungkin Allah memberi ‘tantangan’ yang tidak dapat ditanggung oleh hambanya.
Ketika amanah diberikan, modal tersebut diberikan Allah dalam dua bentuk : modal internal dan eksternal.
Modal internal adalah "naluri" yang diatur secara biologis dalam bentuk hormon dan struktur otak yang berbeda antara laki-laki dan wanita.
Sedangkan modal eksternal berupa Petunjuk Perawatan Anak.
Seperti ketika membeli barang elektronik, kita mendapatkan manual book yang isinya panduan bagaimana cara menggunakan dan merawat barang elektronik itu.
Ketika dikaruniai seorang anak, orangtua kita juga diberi buku manual (Al-Quran) bagaimana cara yang baik membesarkan anaknya.
Namun, seperti juga kita TIDAK PERNAH membaca manual book gadget kita, ada orangtua yang tidak menyadari bahwa ada manual book pendidikan anak.
Di era Teknologi Informasi seperti ini, banyak sekali ilmu yang bisa dirujuk. Ilmu pengasuhan berlimpah-limpah. Praktisi pengasuhan sangat banyak.
Di tengah kebimbangan akibat ‘banjir informasi’ ini, kita sebagai manusia dewasa selalu punya pilihan : ikut pendapat oranglain (termasuk para praktisi) tanpa kroscek, mengulang sejarah pengasuhan yang kita terima dari orangtua kita sepenuhnya, atau mengubah pikiran dari apa yang dipelajari baik dari pengalaman maupun dari orang lain, lalu disesuaikan dengan juknis (petunjuk teknis) kehidupan yang benar.
Seperti halnya gadget, yang paling tahu gadget A adalah perusahaan yang menciptakan gadget A. Siapa yang menciptakan diri kita dan anak kita? Kita dan anak kita adalah produk ciptaan Tuhan, jadi, juknis kehidupan yang paling benar tak terbantahkan mengenai kehidupan kita dan anak kita kelak adalah yang tertulis di kitab suci.
Allah membuatkan buku manual (Al-Quran) agar ciptaanNya ini diperlakukan selayaknya.
Lalu tanpa pernah 'membaca' buku manual dan tanpa persiapan, dengan apa orangtua membesarkan anak yang dititipkan padanya? sadarkah kita bahwa masing" diri kita yang akan jadi orangtua adalah babysitternya Allah? :)
hanya kepada Allah hamba memohon, hanya kepada Allah hamba berharap, semoga menjadi amal jariyah