Aku bertemu Kinara saat pesta ulang tahun adikku. Aku tidak menduga kehadirannya yang datang bersama Kak Adit, kakak pertamaku yang bekerja di Jogja. Dan setahuku Kak Adit sudah memiliki pacar di sana. Kinara adalah rekan kerjaku, hubungan kami tidak begitu akrab di kantor, cenderung dingin. Setiap papasan, ia hanya melirikku tajam tanpa senyum sama sekali. Dan aku memilih berlalu sambil menunduk tanpa menyapanya. Apalagi setelah kuketahui jika ia sering menceritakanku di kantor. Meski tidak mendengar secara langsung, tapi orang-orang di kantor bahkan atasanku saja pernah meminta konfirmasi atas apa yang Kinara ceritakan tentangku. Terakhir, ia mengatakan jika aku berselingkuh dengan salah seorang karyawan dari divisi lain. Belum lagi, jika ia mengolok penampilanku, apa yang kukenakan sampai jepitan ramputku pun ia pergunjingkan. Mungkin karena ia merasa senior, sementara aku anak bawang yang baru saja diangkat sebagai ketua tim divisi.
“Kak, pacar barunya Kak Adit,” bisik adikku.
“Hai, Lis!” sapanya mendekatiku dengan raut muka sumringah, senyum lepas, tatapan hangat dan gestur lembut.
“Oh iyah. Hai juga, Kak,” jawabku kikuk karena tidak berhasil menghindar. Kalau saja Monica tidak menahanku mungkin aku sudah terbebas darinya.”
“Gimana hasil presentasi pengembangan? Menurutku kamu melakukannya dengan baik dan dengar-dengar manager divisi akan menerima proposal timmu untuk project kedepan.” kata Kinara, konsisten dengan muka sumringah ramah tamahnya. Terlihat jelas sekali membangun keakraban denganku di depan Monica dan Kak Adit.
“Wah, Good Job, Dek. Kamu terbaik seperti biasanya,” kata Kak Adit sambil mengelus rambutku.
“Kalau proposalmu diterima kamu akan sangat sibuk nantinya. Bisa lembur semalaman. Mesti jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan dan kurang minum.” katanya lagi menunjukkan perhatian. Aku ingin sekali memuntahkan semua isi perutku saat itu.
“Yuk, aku antar pulang. Nanti kemalaman,” kata Kak Adit ke Kinara.
“Oh, iya. Aku pamit yah, Mon. Sekali lagi selamat ulang tahun. Lis, sampai ketemu di kantor besok,” kata Kinara yang lagi dan lagi dengan muka sumringahnya tidak bisa lepas.
Kinara lalu pergi bersama Kak Adit dan saat itu kulihat di tempat ia berdiri tadi tertinggal sesuatu tergeletak di tanah. Bentuknya seperti muka, muka yang berbeda, muka dengan bibir dikulum, tanpa senyum, alis naik dan mata menukik kejam. Raut muka yang sehari-hari menemuiku di kantor. Rupanya Kinara pergi tanpa membawa mukanya yang satu lagi.