Aku buru-buru mengayuh sepedaku berharap pertandingan sepakbola klub favoritku belum dimulai. Awan dan Fikrul sudah menungguku di stadion dan tak henti-hentinya menghubungi ponselku. Sepersekian detik ketika aku sampai pertandingan pun baru dimulai. Kami larut dalam permainan olah kaki yang tampak memukau ditunjukkan. Teriakan penonton riuh gemuruh semakin membakar aksi para jagoan lapangan hijau. Dan, pertandingan berakhir dengan kemenangan telak 3-0 untuk klub kebanggaanku. Aku, Awan dan Fikrul pulang sambil bernyanyi, bertepuk tangan, juga menari-nari sebagai bentuk perayaan kemenangan tim, kemenangan kami. Berpelukan dan menyapa supporter lain yang papasan di jalan.
“Martinus mengumpan ke Balawan, berlari melewati dua pemain, mengecoh satu pemain lagi, mengumpan lagi ke Martinus, empuk sekali umpannya dan Martinus, Martinus, Ooo Martinus, Shoot! Golllllll Gol Gol Gol Gol Gol,” kata Awan bak menirukan komentator bola diikuti gelak tawa kami.
“Hola.. hola… yoo… Win Win Win. Kami datang memberi dukungan, bernyanyi, menari, dan Menang, Menang, Menang...Hobah!”
Kami bernyanyi percaya diri tiada henti sambil bergegas masuk ke gerbong kereta, disambut supporter lain dan saling menyahut merayakan kemenangan bersama. Solidaritas sesama supporter makin terasa setelah klub kesayangan baru saja menjadi juara. Kereta mulai berangkat dan aku baru teringat satu hal.
“Mak! Kenapa pula kau ikut naik kereta dengan kami?” timpal Fikrul yang ikut-ikutan menepuk jidatku.
“Rumah kau kan di belakang stadion,” kata Awan. Ia juga menepuk jidatku berkali-kali sambil tertawa terkekeh-kekeh. Sementara kereta terus melaju, aku hanya memandangi pohon-pohon dari jendela dan mengusap-usap jidatku yang sedikit perih.
Aku tidak sengaja mendengar obrolan ibuku dengan paman. Ia memang sering datang ke rumah kami kalau sudah sore, rumahnya tidak jauh. Ia berbicara tentang anaknya yang baru saja naik jabatan. Katanya, kini ia hanya menuai apa yang telah ia tanam. Menyekolahkan anak-anaknya dan ia bahagia dengan kehidupannya sekarang karena anak-anaknya telah bekerja dan menempati posisi jabatan yang tinggi. Lalu kulihat ibu hanya tersenyum dan berucap syukur. Aku benar-benar melihat mata ibu yang penuh harap. Mata yang memancarkan binar harapan yang besar. Mata yang menunjukkan ada doa-doa khusyuk sengaja dipanjatkan.
Dan, aku adalah harapan besar yang kulihat dalam palung mata ibu hari itu. Aku lah orangnya. Meski ibu tidak pernah memintaku untuk menjadi apa pun atau seperti siapa pun tetapi aku, aku lah yang ingin menjadi orang yang mampu membahagiakan ibu, aku yang bertekad bulat untuk berusaha keras mencapai setiap keinginan dan mimpi-mimpiku. Aku lah yang sangat ingin membuat ibu bangga. Aku ingin ibu juga membicarakan pencapaianku di hadapan paman, tetangga dan orang-orang yang ia temui. Semua karena ibu. “Aku melakukannya karenamu, Bu.”
“Sedikit lagi aku akan buat ibu bangga. Sebentar lagi, aku akan mewujudkan doa-doa sederhanamu. Ya, tidak lama lagi. Mohon panjang umur dan sehat terus ya Bu” kataku dalam hati lalu berlalu masuk ke kamar sambil memegangi amplop coklat yang tertolak dari tiga perusahaan hari itu.
Ayah sudah menunggu di mobil setelah sedari subuh sudah memanaskan mesin mobil tuanya. Istri dan anak-anaknya masih berjibaku dengan mempersiapkan semua kebutuhan. Anak laki-lakinya baru usai mandi, anak keduanya masih sarapan dan putri bungsunya masih tertidur pulas di depan tv meski sudah mengenakan pakaian siap berangkat. Sementara istrinya kesana kemari mengurusi tiga anak-anaknya sekaligus memastikan barang bawaan mereka. “Lama sekali! Jadi berangkat atau tidak?” teriak ayah yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.
Ibu segera memasukkan selimut ke dalam tas. Anak-anak buru-buru memakai pakaiannya dan segera menghabiskan makanannya. Ibu memilih tetap fokus menyiapkan semuanya dan anak-anak terdiam kaku ketika ayah sudah mulai marah. Mereka sudah tahu apa yang harus ia lakukan ketika ayah sudah tersulut emosinya.
“Ayo, cepat!” teriaknya lagi. Emosinya makin menjadi ketika melihat setumpuk makanan ringan belum juga dimasukkan ke dalam kotak. Sambil menendang lemari dekat ia berdiri yang berisi panci-panci alat masak ibu, ayah berteriak lagi “Lama sekali, sih!” Teriakannya kini lebih besar dari suara toa masjid dekat rumah. Anak-anak kaget, ibu terhenti. Lemari besar yang di atasnya juga disimpan beberapa toples makanan tiba-tiba terjatuh dan menimpa ayah. Ia tersungkur tidak bisa menghindar, kaki ayah tidak bisa lepas dari lemari yang terbuat dari kayu itu, kedua tangannya mencoba mengangkat beratnya beban lemari tetapi apa daya tenaganya tidak sekuat itu. Ibu dan anak-anak segera membantunya, lalu membereskan isi lemari yang berserakan. Hari itu kami sekeluarga pun tidak jadi berangkat. Dan tidak ada juga yang berani membahas kejadian hari itu. Yang jelas, semenjak itu, setiap ayah mulai tersulut emosinya lagi, ia memilih diam dan memperhatikan sekitar karena sungguh banyak sekali lemari di rumah mereka.
Aku bertemu Kinara saat pesta ulang tahun adikku. Aku tidak menduga kehadirannya yang datang bersama Kak Adit, kakak pertamaku yang bekerja di Jogja. Dan setahuku Kak Adit sudah memiliki pacar di sana. Kinara adalah rekan kerjaku, hubungan kami tidak begitu akrab di kantor, cenderung dingin. Setiap papasan, ia hanya melirikku tajam tanpa senyum sama sekali. Dan aku memilih berlalu sambil menunduk tanpa menyapanya. Apalagi setelah kuketahui jika ia sering menceritakanku di kantor. Meski tidak mendengar secara langsung, tapi orang-orang di kantor bahkan atasanku saja pernah meminta konfirmasi atas apa yang Kinara ceritakan tentangku. Terakhir, ia mengatakan jika aku berselingkuh dengan salah seorang karyawan dari divisi lain. Belum lagi, jika ia mengolok penampilanku, apa yang kukenakan sampai jepitan ramputku pun ia pergunjingkan. Mungkin karena ia merasa senior, sementara aku anak bawang yang baru saja diangkat sebagai ketua tim divisi.
“Kak, pacar barunya Kak Adit,” bisik adikku.
“Hai, Lis!” sapanya mendekatiku dengan raut muka sumringah, senyum lepas, tatapan hangat dan gestur lembut.
“Oh iyah. Hai juga, Kak,” jawabku kikuk karena tidak berhasil menghindar. Kalau saja Monica tidak menahanku mungkin aku sudah terbebas darinya.”
“Gimana hasil presentasi pengembangan? Menurutku kamu melakukannya dengan baik dan dengar-dengar manager divisi akan menerima proposal timmu untuk project kedepan.” kata Kinara, konsisten dengan muka sumringah ramah tamahnya. Terlihat jelas sekali membangun keakraban denganku di depan Monica dan Kak Adit.
“Wah, Good Job, Dek. Kamu terbaik seperti biasanya,” kata Kak Adit sambil mengelus rambutku.
“Kalau proposalmu diterima kamu akan sangat sibuk nantinya. Bisa lembur semalaman. Mesti jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan dan kurang minum.” katanya lagi menunjukkan perhatian. Aku ingin sekali memuntahkan semua isi perutku saat itu.
“Yuk, aku antar pulang. Nanti kemalaman,” kata Kak Adit ke Kinara.
“Oh, iya. Aku pamit yah, Mon. Sekali lagi selamat ulang tahun. Lis, sampai ketemu di kantor besok,” kata Kinara yang lagi dan lagi dengan muka sumringahnya tidak bisa lepas.
Kinara lalu pergi bersama Kak Adit dan saat itu kulihat di tempat ia berdiri tadi tertinggal sesuatu tergeletak di tanah. Bentuknya seperti muka, muka yang berbeda, muka dengan bibir dikulum, tanpa senyum, alis naik dan mata menukik kejam. Raut muka yang sehari-hari menemuiku di kantor. Rupanya Kinara pergi tanpa membawa mukanya yang satu lagi.