Ingin sudah.
Hari ini atau mungkin dari kemarin sepupu ku sudah menyebarkan undangan pernikahannya yang akan datang satu minggu dari sekarang. Aku agak terguncang kalau boleh jujur, apalagi aku dan sepupuku itu seusia. Padahal biasanya yang lama menikah itu laki-laki, kan? ini malah aku yang dibalap sama sepupuku yang mana artinya aku yang perempuan ini kalah. Selagi aku masih menggunakan oksigen Indonesia, pikiran-pikiran laknat seperti itu susah untuk hilang, susah sekali. Sekalipun tampak luar aku seperti "have fun", tapi jauh dari lubuk hati yang dalam aku terguncang hebat. Di umur yang sama, yang tak lagi muda. Aku masih belum jadi apa-apa.' Aku tidak punya suami, anak, mobil, ataupun rumah. Tak ada satupun hal yang menurut mereka "sukses" aku miliki. Sedih, apalagi yang memberikan undangan itu Ibu aku sendiri. Niat dia jelas, bukan niat yang jahat. Dia hanya sekedar ingin memberi kabar ke aku yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan sanak sepupu di kampung halaman. Pikiran aku sekarang cuma pengen pergi dari kehidupan yang begini, dari hidup seorang diriku yang sekarang. Kehidupan yang sama sekali ga enak, dari kecil sampai sudah hampir memasuki kepala tiga ini. Bahkan Rasanya tak ada satupun kenangan yang jika ku ingat, isinya hanya yang indah-indah saja. Maksudku, adapun beberapa kenangan yang menyenangkan tapi tidak membekas sebagai kenangan indah. Kenangan yang membuatku senang, namun tidak dengan bahagia. Entah kenapa dalam kehidupanku, setiap terjadi yang baik dan menyenangkan, akan ada kesedihan dan pilu yang akan datang. Apakah ini sugesti? ku rasa tidak. Tak ada yang menginginkan kesedihan dan pilu datang setelah hal baik dan menyenangkan terjadi. Aku ingin sudah, sudah dengan perjalanan yang bosan ini. Sudah dengan perjalanan yang tak ada gunanya ini. Pak, Jemput aku ya.
















