Sayap matamu adalah cakrawala luas yang menghantarkan kedua lengan ini untuk memelukmu. Jarak ini, serpihan tulang belulang yang remuk, hidup kembali sebagai api yang memancarkan cahaya dari kedalaman matamu. Di sana, aku melihatmu tersenyum kepada dua pasang gerimis yang bersahutan berebut menyambut kembalimu.
Cinta adalah hujan yang membuat laut penuh dengan beribu tanya. Mengapa reda adalah lekas dari segala sembuh? Bayangan menguap, dan yang tersisa hanyalah sekat-sekat yang pengap. Tanpamu, udara membeku seperti waktu. Dan aku, adalah gerimis yang kembali menuju air matamu.














