Aku seenarnya menyimpan foto-foto relief Candi Sukuh dan Cetha, tapi ketika melihat foto-foto ini, aku malah berpikir ini saja yang kuunggah. Ya begitulah, anak-anak Sastra Inggris 2012 yang penuh canda, kadang sampe keblabasan. Sayang jika momen gila ini tak kuabadikan.
Mengapa ada foto formasi membentuk bintang seperti itu? Aku akan beralasan orang ini sudah gila. Itu saja. Aku sendiri cukup jijik untuk foto membentuk formasi seperti ini, tapi kalau tdak menjijikkan nanti tidak jadi cerita kan? hahhaa.
Aku masih gondrong, hemm, suka rambut gondrong. Andai rambutku tidak banyak rontok, aku pasti ingin gondrong selamanya. Ya, dan yang paling depan dengan tanduk imajinernya itu adalah Rendra. Di sebelah kirinya ada Mala yang sedang mengeluarkan jurus bangau. Catatan, Mala adalah pesohor di lingkungan kami. Bukan apa-apa, polahnya itu super nggilani. Bayangkanlah Fitri Tropika, nah begitulah dia.
Di belakangnya, memakai kerudung, ada Anis. Sebelah kanannya ada Jimbo, sebelahnya lagi ada Jojo. Dibelakangnya, makhluk paling menyeramkan di dunia, Simbah, adalah sebuah bukti prasejarah kehidupan manusia. Disampingnya, April, si cewek Jogja yang tidak bisa bahasa Jawa. Sebelahnya ada Irsan. Di belakangnya ada Ifan, dan kanannya ada Halimi.
Hari itu adalah petualangan yang menyenangkan. Seperti biasa, guyonan ngawur, jorok, dan semuanya, tanpa ada sensor mengalir seperti biasa. Mereka ini jagonya kalau bicara di kelas. Berisik maksudnya!
Jika harus mengritik, aku ingin membicarakan kepekaan sejarah teman-temanku. Mereka beraa di situs yang berada di dataran tinggi gunung Lawu, tapi tidak sedikitpun mencoba mengagumi bangunan ini. Kuperhatikan mereka lebih asik berfoto-foto ria. Bangunan candi yang berundak-undak menaruh pusatnya di puncak. Apa yang dilakukan temanku adalah langsung bergegas ke puncak, tanpa menikmati bangunan di setiap undakkannya. Tentu aku agak risih.
Ada satu hal menarik di sini. Halimi, lelaki yang ingin menjadi lelaki banget, mencoba sok keren dengan memanjat dinding candi yang berundak-undak kecil. Dalihnya adalah dia bisa melakukannya, itu saja. Dia tidak berpikir kalau itu bangunan tua yang kapan saja bisa runtuh andai saja dia salah pijak. Akhirnya, penjaga di sana memeringatkannya. Ya tentu saja itu tindakan konyol.
Aku memotret cukup banyak relief di sini. Candi Sukuh dan Ceto menarik perhatianku oleh sebab relifnya. Entah apa maksudnya, tapi bangunan di sini serba erotis. Alat kelamin di mana-mana. Bersatunya alat kelamin laki-laki dan perempuan disebut garuda. Sangat filosofis, tapi aku lupa apa maknanya. Duh.
Ya, paling tidak perjalanan ini menyenangkan. Pada makan siang, kami memesan ikan bakar yang aduhai di tengah-tengah kebun teh. Udara cukup dingin, tapi segar. Liburan murah, dekat, dan bermanfaat.
Sepulangnya, Simbah mengajak kami ke tempat lainnya di sekitar sini. Menempuh perjalanan sekitar 20 menit, Simbah menyerah. Dia lupa tempatnya dan meminta maaf. HAhahahaha. Itu menjadi lucu karena mungkin jurusan ini tidak membiasakan minta maaf. Apalagi untuk masalah seperti ini. We love you, Simbah.