Catatan Koass: Tentang Rasa
Bukan, bukan rasa antara manusia. Tapi rasa alias pengecap, hehe.
-
"Bu coba angkat alis.. ya.. sekarang pejamkan mata.. oke.. kembungkan pipi.. sip.. sekarang meringis, Bu."
Ibu M usia 28 tahun, mengikuti perintahku sebisanya. Wajah kanannya.. lumpuh. Mata tidak bisa terpejam, mulut juga datar saja.
Tapi yang benar-benar terngiang sampai saat ini adalah keluhan Ibu itu,
"Dok, setengah lidah saya ngga bisa ngerasain rasa."
Spontan, inget kolom biodata saat tuker-tukeran waktu SD: minuman favorit, makanan favorit. Haha. Betapa kita telah termanjakan sampai kadang harus diambil dulu baru sadar, nikmat titipan-Nya untuk merasakan (taste, not feel).
Dan sadarkah, seenak apapun makanan di dunia.. yaa, segitu-segitu saja. Hasil akhirnya pun ya sama, setelah proses sepanjang jalur pencernaan. Lantas mengapa banyak dari manusia yang hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup?
"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." (Buya Hamka)
Artinya, kalau sekadar makan dan tidur hewan pun demikian. Uniknya, Allah sedemikian paham tentang ciptaan-Nya bernama manusia, yang memang dikarunai nafsu untuk makan, sampai-sampai diturunkan tingkat abstraksi terkait itu lewat ayat-ayat yang bercerita suguhan di Surga kelak.
Misal di surat Ar Rahman, dimana diceritakan
"Di dalam kedua surga itu terapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (55:52)
Yaitu dijelaskan di tafsir Ibnu Katsir sebagai semua jenis buah-buahan yang mereka ketahui dan yang lebih baik dari yang telah mereka ketahui, yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas di hati dan pikiran seorang manusia.
"Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan di dalam surga itu, mereka mengatakan, 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu' Mereka diberi buah-buahan yang serupa." (2:25)
Dijelaskan di tafsir Ibnu Katsir yaitu, bentuknya memiliki persamaan, namun rasanya berlainan. Seperti pohon pisang yang bersusun-susun sebagaimana di surah Al Waqiah, menurut Ibnu Abbas ra. persis pohon yang terdapat di dunia, akan tetapi pohon thalh (pisang) tersebut mempunyai buah-buahan yang lebih manis daripada madu.
Ya Allah, ternyata senikmat apa pun makanan di dunia, saraf mempersarafi sensoris lidah pun sudah terdesain memiliki keterbatasan. Ibaratnya hanya sampling aja, supaya mencicip sedikit nikmatnya makanan sehingga semakin merindu akan Surga.
Maka, selamat mensyukuri organ titipan bernama lidah. Dan selamat berjuang di jalan yang sepi namun pasti ujungnya, agar sama-sama dapat merasakan.
Wallahua'lam bis shawab.
- h.a.
yang hari ini masih kagok juga meriksa pasien hehe.. tebak stase apa?














