“Lebih baik saya yang sakit, daripada anak saya, Dok. Saya nggak tega.”
Ujar seorang ibu di bangsal anak.
Selalu seperti itu. Ibu..

seen from India

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Russia
seen from China
seen from Italy

seen from Indonesia
seen from Belgium

seen from Trinidad & Tobago
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
“Lebih baik saya yang sakit, daripada anak saya, Dok. Saya nggak tega.”
Ujar seorang ibu di bangsal anak.
Selalu seperti itu. Ibu..
Terimakasih
Koass nomaden. Jujur, sebentar sebentar pindah RS tidak terasa begitu mudah. Oke, aku disini termasuk yang beruntung karena pindah RS hanya stase yang memang tidak ada di RS utama, 4 stase terakhir forensik, jiwa, puskesmas dan IGD, banyak teman koass RS lain yang lebih dari stase tersebut pindah pindah RSnya, bahkan ada yang dalam satu stase saja nomaden, setengah di RS sana, setengah di RS sana. Hebat !
Adaptasi.
bukankah itu yang membuatnya terasa tidak begitu mudah.
Forensik, Desember 2017, stase pertama keluar dari zona nyaman RS Haji Surabaya, kos Klampis Aji dan segala tempat yang mulai terasa familiar setelah disini 16 bulan. Pindah Forensik ke Porong, dengan segala hal yang baru tentang Porong yang terasa lebih berpolusi dan panas bahkan melebihi Surabaya, air warna kuning sampe manifes muncul banyak jerawat selama di porong (skip) dan stase forensiknya yang penuh cerita, stase dimana kita harus jaga, tidur, kuliah, main uno, nonton drama yang sebenarnya itu adalah kamar jenazah, betah ngak betah ya mau apa, menjadi kuat saja, sampe akhirnya kibarkan bendera putih, ndak betah, akhirnya PP Tumpang-Porong selama seminggu terakhir dari total 4 minggu. Kalah adaptasinya iya, tapi tetap berterimakasih karena tubuh ini sudah kuat dan tetap task oriented, berangkat subuh, tidur sampe mimpi buruk takut ketelatan, umik siap siaga mbangunin buat lancar PP naik bus biar ga telat. terharu sih kalo inget. Kalo Allah tiba tiba ngebiarin telat bangun, bus mogok tengah jalan, ada macet dengan sebab apapun gatau lagi harus gimananya, belum lagi kalo sakit, kecapekan, alhamdulillah Allah kasih lancar dan kuat sampe 4 minggu selesai stase forensiknya. Berlanjut ...
tanpa libur balik lagi ke Surabaya, bukan buat balik ke RS Haji sih, tapi pindah ke RS Jiwa Menur, tapi seneng sih adaptasinya udah lama berhasil di Surabaya. RS ini salah satu RS pusatnya kejiwaan di Jawa Timur, ya pantes ternyata luas banget RS nya, waktu orientasi pertama kali gak yakin bisa cari ruangan rawat inap pasien dan ruangan kuliah sendiri, gimana ya kalo nyasar. Berangkat juga harus 05.30 pagi biar SOAP pasien bisa selesai, pasiennya gangguan kejiwaan pula, butuh skill lebih, pengalaman baru juga buat berhadapan sama pasien disana. Jujur seminggu awal, rasanyaaaa ... beraat, capek, tiap pagi bangun tidur dalam hati mbatin “harus ya berangkat” pengen nangis :’(. Tapi sekali lagi coba terus berjalan saja. Alhamdulillah, minggu kedua sudah mulai terbiasa.
Belum lagi dalam 4 minggu ini harus selesai home visite, jurnal, responsi dengan dokter pembimbing yang kita tidak kenal bahkan lihat wajahnya sebelumnya, kalo dipikir kayaknya kok nggak sanggup. Tapi kembali lagi, masih akan mencoba terus berjalan kok. Semoga Allah kuatkan, semoga tidak salah niat, semoga gak hanya dapet capek, semoga dapet bekal ilmu manfaat buat jdai dokter insyaAllah bentar lagi.
Terus berjalan, bersyukur sama Allah yang kasih kekuatan dan segalanya, berterimakasih sama diri sendiri yang sudah tidak menyerah dan menjadi sekuat ini tanpa terasa menjadi kuat
aku kalo abis makan lemak itu suka ngebayangin, nanti bakal nempel di pembuluh darah aku, jd plaque, jd atherosklerosis, nanti serangan jantung atau stroke :(
@alleizanays
Kuliah Online Gak Bikin Pinter?
Padahal soal menuntut ilmu dalam Islam, adab belajar merupakan hal penting. Adab inilah penentu keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, keberkahan ilmu hilang. Bahkan para ulama mengatakan, "Pelajari adab sebelum mempelajari ilmu." Bagaimana implementasi adab Islam di dalam proses belajar/kuliah online?
(Ustadz Budi Handrianto pada artikel yang menggelitik: Adab Kuliah Online)
-- disclaimer: ini curhatanku terkait forum ilmu, yang mana yang kumaksud forum ilmu agama mau pun kedokteran --
Di artikel “Adab Kuliah Online” Ustadz Budi Handrianto menjelaskan berbagai kasus yang ditemui (tilawah bahkan ngupil selama kajian) kemudian diakhiri beberapa saran praktis dari beliau, in response to current situation.
Jadi ingat di awal pandemi, aku juga pernah diceritakan seorang adik tingkat di FK kalau mereka kuliah online berkendala antara lain: bosen, kadang pakai piyama, ditinggal-tinggal pergi. Bahkan ada, yang tiba-tiba harus menyalakan kamera di saat nggak pakai kerudung sehingga spontan, langsung pakai selimut sebagai hijab. Hehe.
Kemudian akhirnya merasakan sendiri tantangan tersebut di dua pekan belakang ini, masuk koass stase THT yang semua kegiatan ilmiahnya via daring. Pembelaanku: topik-topiknya terlalu advanced, ini kan kegiatan residen. Jadi yaa, aku kadang sambil buka-buka website lain dan tidak serius mencatat. Kadang, tertidur dan bangun mepet jadwal. Hmm. Dasar aku. Akhirnya Allah ingatkan lewat tulisan Ustadz Budi Handrianto, yang buku Islamisasi Sains-nya juga telah banyak mencerahkan.
Anyways! Aku pikir, sudah dalam standar adab yang cukup yaitu ketika kajian minimaaaal sekali menutup aurat dan duduk yang rapi. Ditambah: menghadap kiblat, menjaga wudhu, mencatat dengan baik (walau kadang yang ini belum semua terpenuhi either ngemil, ngantukan #hiks #needdoa)
Tapi ternyata ketika aku ngepost link artikel itu di status WA, ada balasan dari seorang mas:
“Itu makanya mas tetep konservatif selama corona ini, ga terlalu prefer kuliah-kuliah online. In fact, mas malah ga ikut satu pun, sekali pun termasuk pengurus 😅”
Saya jawab “MasyaAllah.. terus jadi ikut apa mas? Kalau kajian?”
“Ga pernah, I only read a book. Selama corona ini”
Cukuplah aku malu haha. Memang itu pilihan sih (dan tidak semua bisa melaksanakannya, seperti apabila ada perkuliahan wajib), tapi beliau ternyata sedemikian menjaganya. Aku, bisa dibilang juga termasuk konservatif sebelum situasi demikian. Dalam artian, I’d rather travel miles to masjid untuk kajian sekali pun ada streaming online-nya.
Kenapa? Cukuplah sebuah kisah ulama yang safar berkilo-kilo, berhari-hari, hanya untuk menkonfirmasi suatu hadits yang tidak dipahami. Cukuplah hadits terkait keberkahan pada suatu forum ilmu membuat merasa rugi kehilangannya. Taman-taman Surga.
Terlebih pernah membaca:
Adapun dalam falsafah pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, ada aspek penting yang dinilai lebih menentukan dari pada metode dan materi, yakni jiwa guru. Tanpa guru yang menjiwai, motode dan materi sebagus apapun, tetap tidak akan efektif. Seorang pendidik yang memiliki jiwa pendidik yang ikhlas, akan memberikan efek yang besar kepada murid-muridnya. Dari jiwa pendidik yang ikhlas inilah, guru akan menjadi teladan bagi muridnya, dan transfer pengetahuan dan adab bisa tertransmisikan dengan baik. (link)
(hiks itu kali ya mengapa bertatap muka dengan guru itu, akan punya feel berbeda)
Tapi ketika Allah berkehendak lain, dan rumah menjadi rumah dzikir, rumah ibadah, sekaligus rumah ilmu maka ‘mau tidak mau’ ikut kajian secara online. Malah, bersyukur sekali, karena: bisa merutinkan setiap malam, bisa menimba ilmu dari masyaikh di negeri seberang, bisa mengajak teman dan anggota keluarga. Allahuakbar, bahkan fenomena ini menjadi jalan beberapa teman-teman di lingkaranku menemukan kembali Islam. Apalagi, kemarin bertepatan momentum Ramadhan.
Anyways, dear Habibah, selelah apa pun mata, sepegel apa pun duduk, koneksi internet yang kadang bikin mengelus dada, materi belum dipahami.. selamat menjaga adab terbaik! Semangat ya Habs, besok mulai kegiatan ilmiah THT nya lagi, haha. Jangan sambil scroll-scroll instagram lagi ya:(
Jangan sampai muncul kalimat itu lagi ya Hab: Takut ngga pinter karena koass online. Inget Hab, ilmu itu milik Allah maka jangan sekali pun meremehkan hal bernama adab. (Hehe sebuah self-talk)
Jika saya memperhatikan para pelajar (santri), di zaman kami sekarang ini, mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tetapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya. Yakni, berupa pengamalan dari ilmu tersebut dan mengajarkannya. (Hal itu terjadi), karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Siapa saja yang salah jalan, niscaya tersesat, serta tidak mencapai tujuan.
Imam Az-Zarnuji pada Muqaddimah kitab Ta’limul Muta’alim
-h.a.
di tanggal merah, setelah menyedihkan diri sendiri
Cita-cita yang besar akan menuntut fisik yang lelah
Nasihat Ustadz Deden Anjar
Lagipula Hab, memang dunia itu tempatnya lelah kan?
Ngga Enakan Ngajak Pasien Shalat?
Ketika kemarin jaga HCU, aku jadi tersadar masih kurang sekali ilmu. Bukan hanya ilmu kedokteran, tapi ilmu yang tak kalah penting. Ilmu fiqih untuk pasien mulai dari thaharah sampai shalat. Mulai dari wudhu atau tayamumnya mereka, kapan keringanan itu diakuisisi, hingga tata cara shalat kalau tak bisa berdiri dsb. Belum tuntas bab itu, ada pula tantangan komunikasi. Yaitu, ilmu mengingatkan mereka untuk shalat.
Alhamdulillah.. Allah Al-'Alim terasa betul nama Allah ini ketika Dia menitipkan ilmu-ilmu lewat teman dan kakak tingkat. Memang belum ideal, dan jadi ladang amal shalihku untuk berjuang mempelajarinya.
Siapa sangka, aku sekelompok dengan sahabat seperjuangan di jalan dakwah. Di sekian banyak probabilitas komposisi 'keluarga permanen 1.5 tahun' ini, Allah Al Muhaimin menjagaku dengannya. Padahal dulu aku tidak terlalu dekat, namun belakangan justru perbedaan karakter kami menjadikan ukhuwah lebih indah.
Beberapa hari ini aku belajar banyak darinya, terutama tentang urgensi shalat. Tetiba ia membuka diskusi di grup kami,
"Kapan ya pasien itu gugur kewajibannya untuk shalat?"
Pantikan itu membuat aku pribadi 'men-sedihkan' diri sendiri atas kurangnya ilmu. Alhamdulillah, dibantu oleh kakak-kakak dokter muda lainnya untuk menjelaskan dan memberi sumber-sumber untuk detil fiqihnya.
Anyway, akhirnya kami berdua dengan kagok mencoba pendekatan pada pasien. Target pertama, seorang lelaki 19 tahun post-craniotomy dengan penyerta hipogonadisme primer, diabetes insipidus, dislipidemia dan hiperglikemia. Sadar penuh, bahkan menghebohkan satu HCU dengan candaannya hingga shalawatan. Karena sudah banyak ngobrol sebelumnya jadi dengan santai ia mengikuti panduan temanku untuk berwudhu dengan spray. Seger airnya, Dok.
Kemudian ia shalat sambil berbaring.
Nah pasien berikutnya, seorang ibu post-operasi costae. Dilemanya adalah, beliau bukan pasien di bawah tanggung jawab kami (anestesi). Sehingga, kami bingung pendekatan yang bisa dilakukan. Terlebih kami tidak ditugasi melakukan pemeriksaan rutin tanda-tanda vital (TTV).
Akhirnya, setelah memastikan beliau beragama Islam kami datang dan mengenalkan diri. Ngobrol singkat, kami menyerempet ke topik
"Bu nanti kalau butuh bantuan shalat, bilang saja ya ke kami. InsyaAllah nanti dibantu."
Ternyata respon beliau bagaimana? Beliau senaang sekali. Air wajahnya berubah,
"Dari kemarin saya menutupi bagian kepala dengan tisu, dan tubuh dengan selimut yang ada. Di ICU terdengar adzan, setelah dipindah ke HCU hanya bisa mengira-ngira waktu shalatnya."
MasyaAllah beliau terkendala mukena tersebab peraturan tapi kami baru tahu saat itu. Astaghfirullah.
"Kok gak dari kemarin, Dok? Saya senang sekali."
Sekelumit kisah itu sebagai pengingat diri, jangan sekalipun 'nggaenakan' mengingatkan shalat para pasien. Sebuah tips dari Mas kami,
Kalau biasanya untuk memulai pembicaraan itu di edukasi akhir... Tanya aja: Bapak/ibu muslim?
Kalau iya... tanya: sudah sholat belum... agar diberikan ketenangan dan kesembuhan... nanti biasanya nanya gimana wudhu nya ya dok dsb... bilang kalau bisa kena air dan jalan ya wudhu, kalau engga bisa jalan hanya bisa kena air bisa keluarga siapkan spray air semprotan.. dst
kalau dia bukan muslim ya bilang yang umum untuk berdoa
keluarga dan pasien itu seneng banget kalau di akhir kita habis follow up gitu, kita bilang: bapak/ ibu yuk kita berdoa... mohon maaf sebelumnya bapak/ ibu muslim?
kalau muslim kalian doakan dengan sebut asma Allah... pernah juga setelah follow up pagi gitu di satu bangsal yg ramai edukasi doa dan shalat nya direkap... koas bilang 'di tengah kamar, bapak/ibu... mari yuk kita berdoa agar pasien semua di siniberikan kesembuhan... terus kalian mimpin doanya
ketika follow up nge-TTV pasien itu mungkin banget ngajak ngobrol pasien dan keluarga
kalau anes... kan di ruang OK tu... sebelum pasien dibawa ke ruang OK, koas biasanya yg TTV/ nemani di ruang pra OK
pun ketika pasien keadaan terminal,apalagi saat DNR.... ga mesti di saat detik-detik sakaratul maut kalian baru meingatkan untuk talqin kalimah thoyyibah.. ingatkan keluarganya yg nemenin
sesuaikan dengan keadaan pasien.. setauku HCU tuh kayak bangsal biasa cuma pemantauannya 24 jam
habis kalian edukasi dan beri doa biasanya keluarga dan pasien lebih terbuka karena senang... nah di situ ngingetin shalat
pernah aku waktu stase saraf, follow up pasien dengan dr. CT ketika edukasi... pendekatannya sama doakan pasien dulu... ajak dia berdoa terus ingetin sudah sholat belum, ternyata pasien itu nangis karena ga pernah seumur hidupnya sholat... dan terima kasih sudah diingatkan
-
Selamat menjadi agen muslim yang sebenarnya!
Catatan Koass: Tentang Rasa
Bukan, bukan rasa antara manusia. Tapi rasa alias pengecap, hehe.
-
"Bu coba angkat alis.. ya.. sekarang pejamkan mata.. oke.. kembungkan pipi.. sip.. sekarang meringis, Bu."
Ibu M usia 28 tahun, mengikuti perintahku sebisanya. Wajah kanannya.. lumpuh. Mata tidak bisa terpejam, mulut juga datar saja.
Tapi yang benar-benar terngiang sampai saat ini adalah keluhan Ibu itu,
"Dok, setengah lidah saya ngga bisa ngerasain rasa."
Spontan, inget kolom biodata saat tuker-tukeran waktu SD: minuman favorit, makanan favorit. Haha. Betapa kita telah termanjakan sampai kadang harus diambil dulu baru sadar, nikmat titipan-Nya untuk merasakan (taste, not feel).
Dan sadarkah, seenak apapun makanan di dunia.. yaa, segitu-segitu saja. Hasil akhirnya pun ya sama, setelah proses sepanjang jalur pencernaan. Lantas mengapa banyak dari manusia yang hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup?
"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." (Buya Hamka)
Artinya, kalau sekadar makan dan tidur hewan pun demikian. Uniknya, Allah sedemikian paham tentang ciptaan-Nya bernama manusia, yang memang dikarunai nafsu untuk makan, sampai-sampai diturunkan tingkat abstraksi terkait itu lewat ayat-ayat yang bercerita suguhan di Surga kelak.
Misal di surat Ar Rahman, dimana diceritakan
"Di dalam kedua surga itu terapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan." (55:52)
Yaitu dijelaskan di tafsir Ibnu Katsir sebagai semua jenis buah-buahan yang mereka ketahui dan yang lebih baik dari yang telah mereka ketahui, yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas di hati dan pikiran seorang manusia.
"Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan di dalam surga itu, mereka mengatakan, 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu' Mereka diberi buah-buahan yang serupa." (2:25)
Dijelaskan di tafsir Ibnu Katsir yaitu, bentuknya memiliki persamaan, namun rasanya berlainan. Seperti pohon pisang yang bersusun-susun sebagaimana di surah Al Waqiah, menurut Ibnu Abbas ra. persis pohon yang terdapat di dunia, akan tetapi pohon thalh (pisang) tersebut mempunyai buah-buahan yang lebih manis daripada madu.
Ya Allah, ternyata senikmat apa pun makanan di dunia, saraf mempersarafi sensoris lidah pun sudah terdesain memiliki keterbatasan. Ibaratnya hanya sampling aja, supaya mencicip sedikit nikmatnya makanan sehingga semakin merindu akan Surga.
Maka, selamat mensyukuri organ titipan bernama lidah. Dan selamat berjuang di jalan yang sepi namun pasti ujungnya, agar sama-sama dapat merasakan.
Wallahua'lam bis shawab.
- h.a.
yang hari ini masih kagok juga meriksa pasien hehe.. tebak stase apa?
"Obatnya tidak ada yang lain selain... bersyukur ya Bu, Ibu masih bisa jalan lho."
Terlepas dari penyakit kronis seumur hidup yang dideritanya, sang Ibu tersenyum lalu tergopoh keluar dengan wajah optimis.