Gak ada yang ngasih tahu kalo keluar zona nyaman itu bakalan bener-bener nggak nyaman.
Dulu waktu pertama mau kuliah lagi, wejangan dosbing cuma satu: belajar statistik, belajar R. Itu software penting yang belum ada yang bisa. Itu dua tahun yang lalu. Aku yakin sekarang di jurusan udah banyak yang bisa, kayanya pernah ada workshopnya.
Hanya saja, dulu kerasa banget betapa tempatku berasal kurang interdisipiliner dengan tiap kelompok keilmuan mengotak-ngotakkan keilmuannya masing-masing. Entah karena ga ada yang bisa atau gak ada yang mau. Kuharap yang pertama. Yang jelas dosbingku cukup visioner untuk ngasih pesen ini secara tersirat di setiap bimbingannya kalo bahas sekolah keluar: belajar sesuatu yang di kampus asalmu gak ada yang bisa. Dan itu yang kulakukan.
Entah mengapa, aku melupakan fakta bahwa otakku gak kuat Matematika. Dengan Kalkulus maksimal banget AB, padahal itu aja udah Kalkulus B, yang ITB pasti ngerti kalo ini sebenernya ngasih tahu kalo aku gak ada talenta di Matematika. Entah mengapa, aku tetap terdorong ambil mata kuliah berbau Matematika semester ini.
Mengapa? Kala itu, pikirku, kalo "cuma" belajar konsep aku sudah tahu aku bisa otodidak. Atau seenggaknya, yang bisa ngajarin banyak. Pengalaman dari SMA sampai sarjana mengajariku hal itu. Tapi kalau belajar skill software atau perhitungan matematis aku nggak bisa sendirian. Aku harus punya guru. Cem belajar tasawuf (#plak). Dan kebetulan, yang bisa ngajarin aku kaitan antara Matematika dan Biologi di Indonesia nggak banyak. Jurusan Rekayasa Hayati masih baru dan fokusnya tidak sesuai dengan yang kumau sementara Rekayasa Kehutanan dibuka setelah aku masuk tahun ketiga kuliahku. Jurusan yang mungkin punya yang kumau, tapi fokusnya tidak sesuai yang kumau. Aku pun mendedikasikan Sommer Semester yang rata-rata dipake orang untuk ambil mata kuliah ringan biar masih bisa liburan musim panas ini untuk belajar banyak ilmu matematis terkait Biologi, sebagian besar terkait Statistik.
Mata kuliah yang terdengar mengerikan ini nggak diambil oleh mereka yang belajar Biologi melainkan sedikit: Mathematical Modelling in Evolution and Ecology dan Multivariate Statistics in Evolution and Ecology. Dua-duanya 6 ECTS (mungkin di Indonesia setara dengan 4-5 SKS) dan dirancang sebagai kuliah yang dilaksanakan tiga minggu penuh setiap hari, diakhiri dengan ujian dan proyek kecil. Setiap hari ada kuliah teori dari jam 9.00-10.30 yang dilanjutkan dengan latihan dari jam 11-17 (ruangannya dibooking jam segitu tapi pelaksanaannya lumayan fleksibel). Seakan itu belum cukup, aku ngambil proyek semester bikin population dynamics modelling yang ampe sekarang persamaannya dapet aja belom. Semuanya ini menggunakan software yang aku NGGAK PERNAH nyentuh sebelumnya. Kurang keluar apa aku dari zona nyaman? (Btw yang mau materi modelling boleh japri soalnya dosennya naruhnya di dropbox alih-alih website)
Terus apa aku bisa? Aku bertahan, tapi aku stres banget.
"Mungkin kalau kita terlalu jauh dari zona nyaman, malah hasilnya kontraproduktif."
Satu kalimat yang kubawa pulang dari sebuah percakapan di dalam bis ketika aku dan temenku Jerman saling curhat tentang susahnya multivariate statistics. Aku cerita tentang betapa gak familiernya aku sama Matematika dan nekat ambil ini karena jargon “keluarlah dari zona nyaman”. Iya, itu bagus, tapi ada batasnya.
Hanya saja kuakui hasil dari semester ini adalah ada bagian otakku yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Kemampuan berpikir dalam persamaan matematika, memahami notasinya, mengapa suatu metode dilakukan... untuk orang yang selalu bertanya “mengapa” dibanding “bagaimana”, semester ini banyak membuka otakku. Aku nggak kemudian jadi jago, tapi tiba-tiba Matematika tidak terlihat semengerikan itu.
Kuakui aku mengalami satu bulan kontraproduktif ketika menjalani hal ini, terutama ketika memulai proyek semester. Menariknya, peer pressure di sini tidak terlalu tinggi. Entah mengapa, aku merasa semua orang mendukungku. Aku stres bukan karena faktor dari luar, tapi dari dalam: aku kecewa sama diriku sendiri.
Dulu pas masih kuliah di ITB kuakui aku takut nglakuin hal semacam ini. Aku nggak pernah nekat ngambil mata kuliah yang 90% ilmunya harus belajar ulang, terutama yang banyak matematikanya (Sosiologi Komunikasi lumayan unik tapi nggak susah amat) karena takut otakku nggak kuat.
Apa yang membuatku bertahan adalah kenyataan bahwa semua mata kuliah berbau Matematika ini yang ngajarin adalah orang dari FAKULTAS BIOLOGI. Secara administrasi, mata kuliah ini semua berasal dari Faculty of Biology. Orang yang ngajarin permodelan matematika buat Biologi itu, walau hasil outsourcing dari mahasiswa PhD Fakultas Matematika, adalah alumni Biologi dari kampusku.
Aku ingin membawa konsep ilmu tanpa batas ini pulang. Di sini semuanya interdisipliner ampe Biologi jadi FAKULTAS alih-alih jurusan dan ada PROFESOR yang khusus nanganin bidang terkait permodelan matematis fenomena Biologi dan analisis statistiknya. Karena mereka fokus ke teori dan konsep, tidak banyak keilmuan aplikatif selain yang berbau medis. Lepas dari apa yang dimampu kampus ini, profesor di sini punya mental membebaskan kamu untuk belajar apa saja dan mereka akan membantu selama mereka bisa. Persis seperti supervisorku yang mau membimbingku belajar kelelawar padahal dia bidangnya herpetofauna. Mungkin kalo udah profesor dan sering berkutat di dunia akademik internasional, mentalnya begitu? Entahlah, Yang jelas aku bersyukur sama atmosfer belajar di sini.
Pertanyaan sebodoh dan sesimpel apa pun, termasuk ngulangin notasi apa artinya apa, akan selalu mereka jawab. Kamu nggak akan dianggap bodoh hanya karena banyak bertanya. Kamu memang mau belajar kan?
Iya, aku nggak bisa, makanya aku belajar kan?
Gak ada yang tahu derita lengkapku lebih banyak dari ibuku sendiri and certain persons. Hahahaha. Dan ketika beliau menjawab demikian, aku ingat kembali tujuanku belajar: Buat apa kamu belajar kalau kamu sudah bisa? Aku menyadari bahwa segala frustasiku berasal dari diriku sendiri. Aku stres, aku tertatih, tapi aku tetap melakukannya. Seenggaknya aku belajar. Aku dapet sesuatu. Bukan belajar yang lupa setelah ujian itu beres.
Keluar dari zona nyaman memang nggak nyaman. Dan ketika kamu keluar terlalu jauh kamu akan stres dan kontraproduktif. Tapi seenggaknya kamu kemudian mempelajari batasmu dan bisa mengantisipasi. Buatku, tidak ada talenta. Aku lebih suka menyebutnya kemampuan belajar sesuatu lebih cepat dari yang lain. Untuk hal ini, aku akhirnya menemukan kalau aku bisa mengerti Matematika dan menggunakannya untuk Biologi.
Aku hanya perlu durasi belajar yang berbeda dari orang lain.
“Well, after escaping from a lion cage, I am going to a tiger cage,” kataku ke teman-teman multivariate statistic setelah selesai ujian basic statistic yang adalah kuliah wajib semester ini karena waktu ujiannya persis sehari sebelum ujian multivariate statistics. Mereka pun tertawa. Besoknya karena ujian multivariate terjadi persis sebelum ujian phylogenetics yang juga kuambil (sudah kubilang semester ini gila), aku pun mengatakan “Okay, after escaping from this tiger cage, I am going to another tiger cage.”
“What? What is the other tiger cage?”
“So you are taking statistic exam yesterday and today two exams? YOU are the tiger!”
Tanggapan teman Prancisku yang satu ini bener-bener bikin hariku luar biasa. Aku belajar bahwa frustasiku sesungguhnya karena diriku sendiri. Setidaknya, walau nilaiku tidak akan bagus-bagus amat, aku belajar lebih banyak tentang diriku sendiri.