"Kamu gak save nomorku ya?"
"Kamu hide aku dari dari status WhatsApp ya?"
"kamu gak aktifkan centang birunya ya?"
seringkali saya mendapatkan pertanyaan serupa dengan orang yang berbeda. Pertanyaan yang hadir mungkin ingin memvalidasi, tabayyun, atau memastikan bahwa saya benar save nomor nya atau tidak.
Saya selalu menanggapinya dengan jawaban yang apa adanya. Pertama, sejak menggunakan whatsapp dan mengetahui ada fitur last seen dan read receipt sejak itu pula saya menggunakan fitur tersebut hingga saat ini. Kedua, jika memang belum di save tinggal sampaikan, "iya saya belum save", kalau iya "save kok" dilanjutkan dengan pertanyaan balik "ada apa, kenapa bertanya seperti itu?"
Jawaban jawaban yang hadir hampir sama, "beneran? Serius? Kok aku gak pernah lihat statusmu? atau kamu hide aku ya? tapi nama kamu gak pernah muncul kalau lihat status aku?" seolah meratakan jika status/story jarang lewat di berandanya maka jangan-jangan memang nomornya belum di save.
Isyarat yang terjadi melahirkan asumsi begitu sosial media hari ini menjadi sesuatu yang vital untuk mengetahui perkembangan seseorang dari update sang pengguna.
Semakin mudahnya kita berbagi momen lambat-laun mengurangi bahkan menghilangkan privasi diri yang semestinya adalah konsumsi pribadi. Saya pun masih kadang membuat story di sosial media jika itu dianggap penting yang diawali penuh diskusi berjam-jam dengan diri posting gak ya. Kadang berakhir iya kadang di delete atau bahkan tidak jadi di posting. Tak lebih sebagai bentuk kewaspadaan dan pertanggungjawaban kelak atas setiap tingkah laku.
Dulu pernah ada teman yang bilang 'Kok gak pernah posting kalo lagi sama kita sih?’ Lalu saya mikir, iya ya. Tapi saya memang gak merasa nyaman berbagi lagi ada di mana dan sama siapa. bahkan pernah kepikiran untuk deaktif akun karena merasa sepertinya ekspektasi orang-orang umumnya menganggap setiap postingan itu buat apresiasi dalam sebuah pertemanan. Sementara saya gak merasakan itu. Tapi balik lagi ya setiap orang punya cara dalam mewujudkan bentuk kasih dan sayangnya, ada yang melalui sosial media, ada yang lebih senang mengungkapkan langsung, dan ada yang mendoakan nya diam-diam.
Pada dasarnya setiap manusia menyukai kebebasan. Namun tidak semua bisa menghargai kebebasan orang lain. Ketika kamu tak melihat story teman di linimasa mu bukan berarti ia tidak save kontak kamu, mungkin saja ia memang bukan orang yang senang membagikan kehidupannya. Barangkali ketenangan dan kebahagiaan itu memang tidak ingin ia gantungkan ke orang lain. Ketika ia memilih menonaktifkan last seen dan read receiptnya barangkali itu adalah caranya untuk menciptakan rasa aman dengan dirinya dalam berkomunikasi.
Well, setiap orang bebas memilih dengan fitur-fitur yang ada. Kita hanya perlu saling menghargai atas setiap pilihan dan mengedepankan prasangka baik antar sesama. Bagi yang senang berbagi apapun tidak disalahkan sebab setiap individu memiliki standar dan cara bahagia yang berbeda, bisajadi apa yang di share adalah sesuatu yang sangat bermanfaat bagi followersnya, begitupun sebaliknya. Semuanya kembali kepada diri sendiri bagaimana setiap individu mampu mengontrol diri di era yang memang semakin terbuka untuk hal apapun. Karena itu, daripada meributkan hal di atas, mending fokus ke adab dalam komunikasi. Gimana?