Kehilangan, meski sudah berkali-kali dialami, tetap saja pahit. Tidak pernah benar-benar terbiasa. Apalagi ketika yang pergi adalah sahabat yang tumbuh bersama di sebagian besar fase hidup.
Malam itu, selepas tarawih, layar ponsel dipenuhi kabar yang rasanya tidak ingin dibaca. Nama yang begitu akrab—yang dulu begitu sering disebut dalam doa dan percakapan—tiba-tiba hadir dalam konteks yang berbeda. Tuti/Widya. Sahabat sejak seragam putih-biru, teman satu kelas, satu barisan dakwah sejak SMA hingga kampus, satu lingkaran pekanan tarbiyah yang hampir tak pernah terlewat. Wajahnya yang selalu identik dengan ketenangan.
Air mata datang begitu saja. Bukan hanya karena kepergiannya, tetapi karena kenangan yang berloncatan tanpa izin. Masa-masa remaja yang penuh semangat, diskusi panjang, mimpi-mimpi yang dibicarakan dengan polos dan yakin. Ia tidak banyak bicara di keramaian, tetapi setiap kali menyampaikan sesuatu, selalu mengena. Diamnya berisi. Kehadirannya mungkin tidak selalu paling terlihat, tapi selalu paling terasa.
Salah satu potongan kenangan yang paling tinggal adalah beberapa hari sebelum hari pernikahan saya. Ia datang, membantu tanpa banyak diminta. Menemani menyiapkan hal-hal kecil yang saat itu terasa biasa saja, namun kini terasa begitu besar. Ada satu foto bertiga yang kini menjadi sangat berarti—tanpa pernah tahu itu akan menjadi yang terakhir. Foto itu bukan sekadar gambar; ia menjadi pengingat bahwa kebersamaan sering kali baru terasa mahal setelah ia selesai.
Setiap Idul Fitri selalu ada waktu untuk bertemu. Tidak rutin berkomunikasi setiap hari, tetapi sekali duduk bersama, waktu seperti kehilangan jarum jamnya. Obrolan mengalir dari hal remeh sampai mimpi yang paling jauh. Ia selalu percaya pada mimpi-mimpi itu, kadang bahkan lebih yakin daripada diri ini sendiri. Dukungan yang tidak ribut, tapi tulus dan konsisten.
Pagi tadi, menggulir percakapan lama, menemukan satu ajakan bertemu yang belum sempat dipenuhi. Kalimatnya sederhana, tapi terasa sangat tulus. Kini jarak itu tak lagi bisa ditempuh. Ada penyesalan kecil yang datang diam-diam—tentang waktu yang terasa masih panjang, tentang rencana yang selalu merasa bisa ditunda.
Yang paling mengiris adalah momen tiba di rumah sakit. Langkah dipercepat dengan harapan bisa melihatnya untuk terakhir kali. Namun di saat yang sama, mobil jenazah perlahan bergerak pergi. Selisih waktunya begitu tipis, tapi terasa seperti jurang. Niat itu belum terwujud. Rasanya seperti kehilangan satu kesempatan yang tak akan pernah kembali.
Ia pergi setelah berjuang melawan sakitnya. Pergi di bulan yang mulia, diiringi doa yang tak terhitung jumlahnya. Hati kecil percaya, itu bukan kepergian yang sia-sia. Semoga menjadi tanda akhir yang baik, husnul khatimah yang diridhai. Semoga setiap sakit yang ditahannya menjadi penggugur dosa, dan setiap sabarnya menjadi cahaya di kuburnya.
Tidak ada kehilangan yang mudah. Selain keluarganya yang tentu paling berduka, kami yang tumbuh bersamanya juga merasa ada bagian hidup yang ikut hilang. Lingkaran itu kini tak lagi utuh. Ada satu suara yang tak lagi terdengar, satu senyum yang tak lagi menyapa di pertemuan berikutnya.
Kehilangan seperti ini membuat sadar bahwa hidup benar-benar sementara. Bahwa pertemuan, seakrab apa pun, tetaplah titipan. Bahwa waktu bersama orang-orang yang disayangi tidak pernah boleh dianggap pasti.
Begitulah hidup mengajarkan bahwa kebersamaan adalah amanah, dan perpisahan adalah kepastian. Yang tersisa hanyalah doa yang terus dikirimkan, dan tekad untuk melanjutkan kebaikan yang pernah ia contohkan—menjadi lebih sabar, lebih lembut, lebih sungguh dalam beribadah, seperti dirinya yang selalu tenang dan istiqamah.
Semoga Allah melapangkan kuburnya, menerima seluruh amalnya, mengangkat derajatnya, dan mempertemukan kembali di tempat yang tidak lagi mengenal kata kehilangan.
Untuk sahabat yang begitu sholihah dan lembut,
terima kasih sudah pernah ada di perjalanan ini.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari masa tumbuh, masa belajar, dan masa bermimpi.
Sampai bertemu lagi, di waktu yang tidak lagi dibatasi dunia—di Jannah-Nya. Aamiin.