Memilih Jalan [4/5]
kriinggggg…. kringggg… kringggg
Bunyi bel sekolah berbunyi, murid-murid SD tampak berhampuran dari dalam pintu gerbang sekolah mereka. Adit dengan topi merah putih di tangan kirinya mengampiri Heri yang tidak turun dari motornya.
“Kak, kita singgah ke DIY ya, mau beli papan styrofoam untuk praktek senin depan”, jelas Adit sembari naik di belakang motornya.
“Nanti sore saja ya, kakak lupa bawa dompet” jawab Heri yang kemudian menjalankan motornya.
Baru berjalan beberapa ratus meter, Heri terlihat kaget dengan mobil yang secara tiba-tiba muncul dari dalam gang,
bruakkkkkk..
Heri tidak sempat ngerem, sehingga motor yang dikendarainya itu menabrak pintu depan mobil tersebut.
**
Heri saat ini berada di puskesmas setelah dibawa oleh beberapa orang tua murid SD yang melihat kejadian tabrakan itu. Disampingnya ada Adit yang masih menangis sambil memegang tangan kirinya yang lecet-lecet dan berdarah.
Dari kejauhan, Paman dan tantenya muncul setengah berlari, wajah panik dari keduanya tergambar jelas. Adit yang melihat kedua orangtuanya datang langsung segera berdiri dan hendak berlari, namun ditahan oleh Heri.
“dek, kamu tidak apa-apa? dimana yang luka?” tanya tantenya yang sudah dalam posisi berjongkok di depan Adit.
“kenapa bisa sampai nabrak mobil orang?!” tanya tantenya setengah berteriak kepada Heri.
“Ceroboh sekali, sama kaya bapakmu” lanjut tantenya kembali.
kalimat yang baru saja didengar heri mebuat kupingnya panas, dia tampak begitu marah karena ucapan tantenya barusan.
“sudah-sudah, kita pulang saja dulu. toh mereka baik-baik saja. motor juga hanya lecet” ucap pamannya yang mencoba menahan istrinya untuk tidak berteriak kembali.
mereka berempat lalu pergi dari tempat tersebut, heri menggunakan motornya kembali, sedangkan ketiganya menggunakan motor lainnya.
[bersambung]
#cc5day14 #careerclassqlc #bentangpustaka #fiksi








