Menu Sarapan dalam Bertahan Hidup: Episode Satu
Aku tak berniat kabur, tapi setelah kulewati hari-hari sepi setelah berhenti dari pekerjaan yang kujalani setengah hati, aku merasa baiknya memang begitu.
Kutelusur lagi hidupku yang carut-marut. Apakah semua dimulai dari bagaimana bapak memaksaku menapaki jalan yang sebenarnya tak kusuka. Atau karena orang yang kukira bisa kusandarkan bebanku padanya, ternyata masih membawa sekoper masa lampau yang membuatku terluka? Atau aku saja yang begitu tidak kompeten?
Ya. Barangkali itu.
Pagi itu perutku bergemuruh. Warung nasi hanya berbeda beberapa gang dari kosanku. Aku ingin berhemat, tapi terlalu lelah mencuci beras, menanak nasi, bahkan memikirkan teman makannya. Kudatangi warung nasi itu. Ada yang tak biasa dari hari-hari sebelumnya. Tertulis, ‘Hari ini jual bubur’. Ganjil, tapi tetap kudatangi. Kududuk di hadapan etalase yang memisahkanku dengan Ibu Warung Nasi.
“Kenapa jadi jual bubur, Bu?” tanyaku.
“Ini, loh, suamiku masak nasi terus kebanyakan airnya. Daripada dibuang, ya, dijual saja.” Jelasnya dengan nada antusias. Hebat sekali dia, antusias tiap kali berhapan dengan pelanggan dan mengubah hal yang bukan keinginannya menjadi hal yang lebih berharga. Kuharap aku menjadi dia.
Semangkok bubur itu tersaji di hadapanku. Nasi yang sudah menjadi bubur, harfiah, bukan hanya peribahasa. Berbagai topping tergeletak begitu saja di permukaan bubur. Kutambahkan beberapa keping kerupuk di atasnya. Kubanjiri dengan kecap karena bagiku rasanya akan lebih luhur. Tak kuaduk, tentu saja. Kubiarkan beberapa saat meski perutku sudah cukup keroncongan. Tak mau kubakar lidahku dengan bubur panas.
Waktu sesaat itu berubah menjadi waktu penuh tanya. Apa aku adalah bubur ini? Tak lagi aku bisa memutar waktu, sudah terlanjur, dan hanya perlu dibumbui? Mungkin, ditambah beberapa hiasan agar lebih menggugah selera? Apakah hidupku bisa lebih mudah jika aku menjadi bubur ini?
“Makasih, Bu, buburnya gak dibuang.” Ujarku kepada Ibu Warung Nasi.
Kulahap suap demi suap hingga tandas sambil kuusap air asin di pipiku yang mengalir saat kuucapkan terima kasih.
Ibu Warung Nasi–barangkali karena melihatku menangis–menaruh sekotak tisu di hadapanku sambil memberikan surat selebaran dengan tulisan merah metalik yang cukup menarik perhatianku.
Bersambung.....















