Entah apa ini
Sales shaver itu masih terus berjalan. Kau tak sengaja melihatnya. Jika beberapa hari yang lalu kau melihatnya sedang menawarkan barang dagangannya ke seorang buruh bangunan di sebuah persimpangan jalan, maka siang ini kau melihatnya berjalan di dekat sebuah pasar, jauh dari persimpangan jalan saat pertama kali kau melihatnya. Ia berjalan lebih jauh lagi. Kau tahu itu karena ia datang dari arah yang sama. Jika saat pertama kali kau melihatnya berjalan dengan baju flannel motif kotak-kotak dua warna, celana skinny jeans hitam lusuh dan sepatu kets butut, maka siang ini kau melihatnya dengan setelan baju kemeja putih dan celana kain hitam serta sepatu kets butut yang sama. Jauh lebih rapi dari saat pertama kali kau melihatnya. Kau lalu mencoba mengingat. Dan, ya. Hari ini hari Selasa. Sales seperti dirinya sudah seharusnya memakai setelan semacam itu. Dan baju flannel kotak-kotak itu? Ya, seharusnya itu hari Rabu, Kamis, atau Jumat. Tapi seperti biasa, kau lupa hari apa saat pertama kali melihatnya. Dan, sebetulnya, untuk apa kau mencoba mengingat dan memperhatikan hal yang mungkin tidak ia pedulikan dan tak penting macam itu. Yang jauh lebih ia pentingkan adalah bagaimana caranya supaya shaver sialan itu bisa laku habis tanpa tersisa. Namun, hingga siang hari yang panas menyengat ini, belum ada satu pun yang laku. Dan, yang lebih membuatnya heran, kenapa pula ia mau menjual benda macam itu. Bukankah benda seperti itu banyak dijual di Alfamei, Indojuni atau swalayan-swalayan lain bahkan di warung-warung kecil. Bukankah juga, hari ini, membiarkan kumis dan jenggot tumbuh liar adalah salah satu parameter ke-macho-an bagi seorang laki-laki. Ia tak habis pikir. Tapi apakah pemerintah yang korup dan culas mau menyediakan pekerjaan yang layak untuknya saat ini juga. Tidak untuk pemuda yang hanya lulusan SMA dengan nilai pas-pasan seperti dirinya. Mungkin ada. Tapi, yang bisa ia lakukan saat ini hanya menjual shaver sialan itu. Ia harus lebih giat menawarkan barangnya ke lebih banyak orang. Ia harus buang jauh-jauh rasa malu. Mungkin sedikit berbohong dan berbual bahwa kumis dan jenggot tebal hanyalah untuk seorang homo? Ya, ia harus mencobanya. Demi segepok uang untuk membeli sekeresek beras dan beberapa potong kayu untuk bahan bakar memasak, kenapa tidak. Ibu sedang menunggunya di rumah.








