Terimakasih Telur
Saya pernah membuat seseorang jengkel lantaran menuduhnya berbohong. Kejadiannya sudah lama sekali. Kalau saya tak salah ingat, 1,5 tahun yang lalu. Waktu itu saya menuduhnya berbohong karena ia mengaku ketiduran di tengah obrolan yang melibatkan kami berdua. Masalahnya, selang antara pesannya yang terakhir dan waktu ia tertidur sangat dekat. Itu tak perlu sampai menuntaskan lagu Buddy Holly miliknya Weezer. Dan itu menurut saya sangatlah aneh. Parahnya, saya menunggu balasannya hingga pagi hari. Kurang kerjaan memang. Tentu saya punya alasannya. Pada waktu itu, sebuah pesan darinya begitu berharga buat saya. Menghabiskan beberapa menit obrolan dengannya membuat hari-hari saya lebih mudah. Saya jadi sering bersyukur waktu itu karena masih diberi kesempatan untuk bernapas.
Singkat cerita, balasannya memang datang di pagi hari. Saya langsung menyerbunya dengan pertanyaan, menyangkal jawabannya, bercerita bahwa saya rela tidak tidur hingga pagi hanya untuk menunggu balasannya. Ia belum menampakkan kejengkelannya sampai saya pamit pergi untuk tidur.
Siang menjelang sore saya kembali. Saya membuka obrolan. Berniat untuk membicarakannya kembali baik-baik. Saya masih merasa aneh. Ia tetap pada jawabannya. Bukannya membiarkan masalah remeh itu berlalu, saya terkesan menuduhnya berbohong. Kejengkelannya mulai nampak. Terlihat dari pesan-pesannya yang pendek, meninggalkan kesan bahwa ia mulai ogah-ogahan menanggapi sikap saya yang kekanak-kanakan. Saya menangkap isyarat itu, lalu perlahan menurunkan tensi berharap semua kembali seperti malam sebelumnya. Tapi semua sudah terlanjur. Sebuah pesan darinya membuat saya tersedak. “Kamu bebas menilai saya sesukamu, menuduh saya ini itu. Karena saya tidak peduli.” kurang lebih begitu bunyi pesannya. Tajam. Membuat bibir saya kelu. Otak yang ada di dalam kepala saya seperti hangus jadi abu. Saya tak dapat memikirkan apa-apa. Suara-suara yang ada di sekeliling saya seperti menghilang. Saya seperti berada dalam sebuah ruang putih yang kosong.
Saya lalu mencoba mengambil napas pelan-pelan. Mengalikan angka satu sampai sembilan dengan angka duabelas. Otak saya perlahan mulai berfungsi. Saya kembali menatap layar ponsel. Membaca pesan terakhirnya. Menyeleksi respon secara hati-hati. Hingga akhirnya sepakat untuk pamit saja. Saya butuh waktu untuk menenangkan diri. Saya sadar bahwa saya salah. Bahwa hal semacam itu memang tidak layak diributkan. Selesai.
Malam hari bada magrib saya kembali, berniat untuk mendinginkan suasana. Saya tidak mau kehilangan obrolan yang menyenangkan ini hanya gara-gara masalah sepele yang saya buat-buat. Tapi ia masih enggan dalam membalas. Saya dibuatnya memutar otak lebih keras lagi. Saya memikirkan hal-hal apa saja yang bisa mengalihkan masalah ini sejenak.
Singkat cerita, pilihan jatuh pada eksperimen memasukkan telur utuh ke dalam botol air mineral. Saya lupa bagaimana detailnya. Ingatan saya terbatas. Andai riwayat obrolan kami waktu itu tidak terhapus mungkin saya bisa menuliskan detailnya di sini. Intinya, lewat eksperimen telur tadi suasana jadi lebih cair. Saya sedikit lega.
Belum selesai kelegaan saya, ia lagi-lagi membuat saya tersenyum kecil lantaran dalam sebuah pesan ia berkata ingin pamit sebentar membuat kopi agar tak ketiduran lagi. Pesan itu sampai sekarang masih saya ingat jelas. Saya tahu ia tak terlalu suka kopi dan lebih suka teh. Saya tidak peduli jika itu memang sebuah sindiran atau apa. Yang terpenting saat itu saya benar-benar gembira. Tentu ini semua adalah andil dari telur tersebut. Terimakasih telur.
Kini semuanya sudah berakhir. Saya tidak menyesalinya. Banyak hal yang bisa saya pelajari darinya. Bahwa empati adalah sebuah rasa yang perlu dimiliki manusia. Bahwa seseorang harus konsisten terhadap omongannya. Bahwa sebuah hubungan tidak cukup dibangun hanya lewat obrolan menyenangkan di aplikasi messenger. Dan masih banyak lagi.
Mengingat waktu-waktu itu, saya jadi ingin memutarnya kembali. Menontonnya berulang-ulang sepanjang hari.












