Gza dan malam kenangan.
"Aku suka kamu,"
Sesaat, hatiku berhenti. Mendapatkan sebuah kesempatan untuk mendengar suaranya saja sudah membuat senyumku tak berhenti, apalagi mendengar suara beratnya menggemakan kalimat yang akan menjadi kalimat keramatku?
"Apasih, kamu bisa aja," Elakku. Entah apa ini firasat, sepersekian detik ini aku hanya bisa mengekspresikan semuanya lewat senyum yang tak akan pernah bisa ia lihat langsung.
Hanya berselang detik, ia terkekeh. Hatiku mengeras, untung saja kami hanya berinteraksi lewat ponsel genggam. Jika tidak, mungkin ia akan melihat air mata yang tak diundang ini keluar.
"Bercanda ya ampun!" Kekehannya terdengar jelas. Ya, ia seperti benar-benar menikmati bercandaannya itu sekarang.
"Haha, udah bisa ketebak sih! Aku juga tau kamu becanda," Ujarku, turut tertawa dalam kepedihan tak terhingga.
"Eh, jangan bilang kamu baper?" Suaranya di sebrang berubah panik
"Engga, santai aja... Aku bukan cewe baperan kok," Elakku lagi.
Tak lama, aku menutup ponsel, menandakan bahwa percakapan malam ini usai sudah.
Perkataan Gza barusan, memberiku keyakinan. Jangan pernah berharap sedikitpun kepada orang manusia, bahkan kepada sahabatmu sendiri.
Ah, terimakasih Gza, setidaknya bercandaanmu malam tadi, akan selalu ku ingat hingga nanti.














