Jadi Nerd yang Baik
Selama kuliah master, baru kali itu saya merasakan jadi nerd. Soalnya selama kuliah S1, bahkan selama koass, saya terbenam dalam kegiatan organisasi setumpuk. Mulai dari organisasi mesjid, kepenulisan, ilmiah, dll. Bahkan saya masih aktif ketika harus internship di Aceh Timur.
Lalu, ketika master saya mendapatkan bangku di Universität zu Lübeck, Jerman. Pas pertama googling, rupanya kota ini cantik, dengan arsitektur khas Skandinavia, bangunan tua, dan benteng yang menjadi salah satu UNESCO heritage. Dan kabar baiknya, dekat dengan laut! Saya langsung terbenam dalam khalayan akan pergi ke laut tiap hari.
Namun realita kembali bicara. Pas nyampe, saya baru ngeh kenapa kota ini tidak punya PPI. Komunitas Indonesia nya sangat kecil! Meski kotanya populer di kalangan wisatawan, tapi gak begitu memikat mahasiswa Indonesia karena mereka biasanya nyari kota yang banyak industri, jadi bisa sekalian kerja di sana. Nah, Lübeck tercinta yang digandrungi wisatawan gak punya banyak industri. Paling Drägger, yang memproduksi alat-alat kesehatan, lalu pabrik marzipan, sejenis manisan dari tepung almond campur gula.
Lengkaplah sudah, gak ada PPI, gak banyak orang Indonesia. Should I be a nerd? 🤓 Dan ya, benar-benar nerd. Mana saya gak bisa masuk ke pergaulan orang Jerman. Sad but sad. Bukan hanya kendala bahasa, memang kultur Jerman itu sulit dimasuki. Saya kebetulan juga tidak Allah pertemukan dengan bule yang muslimah. Sementara berteman dengan yang lain, selalu duduk bersama alkohol, batin saya memberontak.😌.
Sebagai nerd, aktivitas saya terbatas. Kuliah, belajar, masak. Berberes. Lalu kuliah lagi, ke perpus. Belanja. Kalau kepala udah mendidih karena bosan, naik bis mutar-mutar. Lalu turun di kota dan jalan-jalan sendirian.
That's not quite "happily ever after ending" to study abroad, right? Tapi memang enggak.
Kenyataannya, foto-foto indah selfie di luar negeri itu gak sebanding dengan perjuangan selama kuliah. Berjuang untuk hidup, sehat secara fisik dan mental, untuk tetap berbahagia dan bersyukur. Kadang ada momen yang mematahkan, seperti dikasari warga setempat, mendapat makian dalam bahasa yang absurd, sakit, gagal ujian, dan lainnya. Banyak.
Belum lagi saat ekspektasi gak seindah kenyataan. Pedih? Namun harus dihadapi.
Sebab ya itulah namanya hidup. Sampai garis finish, gak pernah ada happily ever after. Setiap berkah datang bersama cobaan. Sama seperti setiap cobaan datang bersama berkah. Mau mengeluh? Terus? Sampai kapan?
Ini pengingat saya. Sama seperti ketika memutuskan kembali, dan saya menghadapi hidup gak bisa kembali seperti sebelum pergi. Tapi saya memutuskan untuk bahagia, untuk menerima. Sebab kalau tidak bahagia, mau apa lagi? 🙈












