Saya pertama kali bertemu dengan orang Jerman di Hongaria, empat tahun silam dalam bus. Saat itu saya dan seorang teman sedang bersiap menuju Wina dari Hongaria dengan Orange Bus. Bus itu murah, tapi jorok. Kami bisa mencium bau pesing yang entah berasal dari mana setelah kami naik ke bus itu. Di situ kita bisa memilih untuk membeli bangku–yang saya lupa berapa harganya, atau tidak membeli bangku dan duduk secara acak dan berharap bangku yang kita duduki belum ada yang mendudukinya.
Ketika sudah duduk santai, bapak di samping kami menyapa ramah. Beliau dari Kamboja (agak lupa juga darimana). Beliau rupanya pernah berlibur di Indonesia. Kami bercakap panjang lebar sambil menunggu penumpang lain naik. Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar keributan. Kami sontak menengok. Dua orang perempuan, satu dengan tulang pipi tegas dan perawakan tinggi langsing. Satu lagi beraura lembut, dengan kacamata dan wajah pucat khas Hongaria. Keduanya sedang berteriak satu sama lain.
“Orang Jerman dan Hongaria,” bisik bapak di sebelah kami, “Mereka bertengkar gara-gara bangku. Sepertinya satu orang sudah reservasi bangku itu.”
Saya tidak menangkap isi argumennya, karena masing-masing bicara dengan sangat cepat. Namun yang saya lihat, si orang Jerman ini begitu agresif dan suaranya melengking tinggi. Auranya berapi-api dan membuat suara si orang Hongaria ini semakin meredup lemah, sampai dia terdiam. Kemudian si orang Hongaria kalah dan memilih bangku lain. Kami terpana.
Itulah kesan pertama saya tentang orang Jerman: jago berantem
Setelahnya, tanpa pernah saya duga dan rencanakan sebelumnya, saya melanjutkan kuliah di Uni Luebeck, Jerman bagian timur. Nah, untuk yang belum tahu, Jerman ini adalah salah satu negara dengan luas area terbesar di regionalnya, dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang lebih kecil. Meski kalau dibandingin Indonesia, masih kalah jauhlah. Sama Pulau Sumatera saja kalah jauh.
Dengan luas areanya, Jerman membentang dari bagian utara yang berbatasan dengan Denmark dan negara Skandinavia lainnya ke Selatan, yang berbatasan dengan Perancis dan kawan-kawannya. Dari timur, Jerman berbatasan dengan Austria, Polandia, dan lain-lain. Di Barat, dengan Belanda dan lain-lain.
Nah, sifat orang Jerman rupanya berbeda-beda tergantung regional, meski garis besarnya kurang lebih sama. Di utara misalnya, di Luebeck tempat saya kuliah, orangnya terkenal cuek dan agak arogan. Ini kata teman saya yang orang Jerman dan berasal dari selatan ya. Menurut mantan tetangga satu flat saya, Miko, yang berasal dari Hamburg (yang di utara juga), sifat ini mungkin karena kebanyakan orang utara itu kurang dapat cahaya matahari. Tapi iya sih, setahun saya tinggal di Luebeck, saya bisa menghitung hari yang benar-benar cerah. Sisanya, bahkan di tengah musim panas sekalipun, sering sekali berawan, mendung, lalu hujan. Bisa dibilang cahaya matahari itu adalah sesuatu yang sangat dirindukan selama tingal di utara.
Sedangkan teman saya yang dari selatan sih bilang, kalau orang utara itu sombong dan memandang orang lain dengan angkuh (btw ini benar lho, orang utara suka mengatakan untuk orang bagian selatan, terutama daerah Bayern sebagai orang yang kasar dan kurang beradab). Yah, kalau menurut saya sebagai orang asing sih, semua orang Jerman itu penampakannya sombong. Xixixi… soalnya mereka bukan tipe orang yang mau direpotkan oleh sesuatu yang nonsense. Bagi mereka small talk itu juga ada porsinya, dan mereka sangat efisien sehingga kesannya tidak ramah dan gubrak gubruk. Jangan harap mereka bakal tersenyum dan menyapa stranger kecuali kalau kita ada relasi dengan mereka. Bagi orang Indonesia yang mungkin baru pertama kali tinggal dan menetap di sini pasti kaget ya.
Nah, itu kesan saya yang dari awal sampai di Jerman langsung tinggal di utara. Lalu, libur musim panas tahun ini saya main-main ke selatan. Tepatnya ke Passau, Karlsruhe, Nurmberg, dan Heidelberg. Sebenarnya ini bukan perjalanan pertama kali ke selatan. Namun di perjalanan kali ini, saya punya banyak kesempatan untuk menjelajah sendiri. Baru saya sadar, bahwa orang selatan memang lebih ramah! Mereka lebih mudah tersenyum daripada orang daerah utara. Ketika saya jalan-jalan di Heidelberg saja, beberapa orang Jerman yang tersenyum dan menyapa saya.
Btw, waktu sampai di sana, saya kaget karena cuaca benar-benar panas! Di utara, walaupun judulnya musim panas, saya gak pernah ngerasain panas yang seperti di selatan. Judulnya aja musim panas, tapi tiap hari hujan dan mendung terus, suhu tertinggi paling berkisar 20 derajat Celcius. Orang-orang tetap pakai jaket, walau lebih tipis dibandingkan musim dingin. Sedangkan di selatan, musim panas benar-benar seperti di fim-film barat. Orang pakai baju yang minim banget. Mau nunduk lihat yang mulus, mau pandangan mengarah depan lihat yang agak ehem-ehem… maunya apa sih?
Nah, ini mungkin membuktikan teori teman saya bahwa orang selatan itu lebih hangat karena banyak sinar matahari. Yah, ini mungkin juga. Jadi wajar orang daerah tropis seperti di Indonesia selalu hangat dan ramah, karena overdosis sinar matahari
Terus kan, bagaimana dengan karakternya yang suka berantem itu? Salah atau benar?
Orang Jerman itu memiliki sifat superior. Humble humble pinky pinky-an gak ada dalam kamus mereka. Mereka kalau yakin benar, siap berdebat panjang, dengan suara tinggi, pakai logika yang dalam banget. Gak akan mau kalah kecuali kalau memang terbukti salah. Dan buktinya memang harus logis banget. Selain itu, mereka juga pinter ngeles lho, jangan salah. Saya pernah menjadi saksi betapa pinternya mereka ngeles. Untuk kita yang dibesarkan dengan karakter inferior ala bangsa yang terjajah 350 tahun, wajar kalau gak bakal menang berdebat sama mereka. Dari segi psikologis aja kita udah kebanting duluan.
Btw, jangan pernah samakan orang Jerman dengan bule dari negara lain. Soalnya, mereka benar-benar memberikan identitas pribadi bagi diri mereka, sehingga kalau kita sandingkan orang Jerman dengan bule lain, tetap saja orang Jerman lebih unggul. Nah, penyebabnya balik lagi ke sejarah Jerman di masa silam, yang haram banget dibicarain di sini. Tahu kan apa?
Sebenarnya masih banyak sih gosip seputar orang Jerman yang mau saya bahas. Tapi berhubung udah kepanjangan, sampai jumpa di edisi “Orang Jerman” berikutnya! Ciao!