[Cerita] Cokelat: Kokoa Indonesia paling juara! (1)
Pernah dengar pernyataan: “Cokelat terbaik dunia ada di Belgia”, “Cokelat paling enak cuma ada di Swiss”? Benarkah demikian?
Lalu ada yang bertanya, “Emang pohon cokelat bisa ditanam di negara empat musim?”. For your info, lokasi terbaik untuk menanam cokelat --disebut juga cocoa-- di negara tropis, loh. Salah satunya INDONESIA.
Menurut Wikipedia dan situs pertanian --yeng ternyata jumlahnya segambreng--, cocoa bean atau biji cokelat (Theobroma cacao) merupakan biji penghasil cacao powder (bubuk kakao/cokelat), cocoa butter, chocolate bar, sampai permen cokelat pada umumnya.
Oiya, cocoa (kokoa) dan cacao itu berbeda. Kalau cocoa (bean) itu biji cokelat yang masih mentah. Sedangkan cacao (powder) adalah cocoa yang sudah dipanggang dengan suhu tinggi dan diolah menjadi bubuk. Singkatnya, cocoa itu mentah, kalau cacao itu matang. Tapi ada yang menyamakan antara cocoa dan cacao. Oks, it’s crystal clear enough.
Masih menurut Wikipedia, faktor tanah dan iklim menjadi penentu tumbuhnya pohon kokoa. Jadi biar pohon kokoa sehat, kuat, dan menghasilkan biji-biji berkualitas VIP harus ditanam di: tanah yang banyak mengandung humus, punya unsur hara tinggi, dan pH tanah 6-7,5. Untuk iklim, pohon harus: berada di hutan hujan tropis karena butuh kelembaban dan suhu, maksudnya pohon butuh sinar matahari tapi nggak bisa banyak-banyak. Nah hutan hujan tropis kan nggak banyak sinar matahari tuh, jadi mereka cocok hidup di sana. Mereka juga cocok ditanam pada suhu 18-32 derajat celcius, punya curah hujan 1,100-3,000 mm per tahun, ada yang menyebutkan juga ketinggian lahan untuk kokoa 1-600 mdpl, mentok 1,200 mdpl lah. Heh, Koa, lo rempong ye?
Dari sini sudah jelas, kalau pohon kokoa cocok ditanam atau dibudidayakan di daerah tropis. Seperti negara di Afrika Barat dan Asia Tenggara. Tiga negara penghasil kokoa terbesar dan terbaik di dunia adalah PANTAI GADING, GHANA, dan INDONESIA. Lagi-lagi negara kita tercinta masuk dalam daftar penghasil biji-bijian kan.
Waktu saya menghadiri launching buku Khazanah Arsip Perkebunan Teh Priangan, Agustus tahun lalu, ada seorang pengusaha cafe cokelat yang membeberkan polemik (dududu sok-sokan berpolemik) dan politik cokelat di dalam negeri. Ia adalah Tissa Aunilla. Ketika ia jalan-jalan ke Swiss (atau Belanda atau Belgia, saya lupa deh), ia mampir ke kedai yang menjual cokelat terbaik di dunia. Selain menjual cokelat, kedai juga memajang biji kokoa (kalau nggak salah ya) dari berbagai negara tropis penghasil kokoa. Salah satunya dari Tabanan, Bali. Iya, BALI.
Memang diakui, kata moderator, orang Eropa paling jago soal dokumentasi atau kearsipan dan mengolah bahan mentah. Biji kokoa dari Indonesia dibawa dan diolah ke Eropa, sehingga menghasilkan produk cokelat nan lezat. Entah chocolate bar, permen, bubuk cokelat, esens, atau dicampur ke kue dan susu. Mungkin maksud kalimat > “Cokelat terbaik dunia ada di Swiss, Belgia, Paris, atau Belanda” mengacu pada chocolatier a.k.a ahli pembuat dan/atau pengolah cokelat.
Bicara soal hasil bumi Nusantara, segelintir pengusaha sukses memproduksi biji kokoa menjadi chocolate bar yang berkualitas. Juara! Maksud berkualitas -- setidaknya ini menurut saya-- rasanya cokelat pekat (slightly strong-middle-strong atau strong-stronger-strongest), ada sentuhan fruity (rasa asam seperti berry), dan nggak kebanyakan gula. Ada chocolate bar Indonesia yang kayak gitu? ADA banget. Bukan, bukan, Monggo Chocolate. Ada yang lebih dari itu.
Pod Chocolate a.k.a. Pod Bali dan Pipiltin Cocoa.
Pod Chocolate berasal dari Bali. Mereka menggunakan kokoa Bali sebagai bahan bakunya. Sedangkan Pipiltin Cocoa dari Jakarta. Mereka memanfaatkan kokoa Aceh, Jawa Timur, Tabanan (Bali), dan Flores (Nusa Tenggara Timur).
Sudah mencoba cokelat dari dua jenama di atas? Belum? Duh, sayang sekali! Chocolate bar mereka tiada duanya! Juara. Oks, saya akan bahas keduanya dalam cerita cokelat bagian kedua.