Satu bulan bersama Dira
Satu bulan bersama Dira, berarti sudah satu bulan juga saya menjadi ibu. Sungguh bulan pertama yang berat dan penuh drama. Mulai begadang, berjalan pelan-pelan karna takut jahitan terlepas dan suka tiba-tiba menangis. Menangis karna melihat Dira menangis saat mandi, saat tidak bisa tidur karena biang keringat, saat tali pusarnya pupus dan saat tidak kenyang menyusu (sepertinya).
Bulan pertama Dira banyak tidur, newborn memang begitu, dan harus dibangunkan untuk menyusu (nenen/nen). Tapi Dira seperti tak pernah kenyang karena setiap tidak nen, pasti menangis. Beberapa kerabat mengatakan seperti itu dan mulai menyarankan susu formula tapi saya yakin masih bisa memberi ASI, masih cukup. Bahkan, saya harus memompa payudara agar tidak sakit jika Dira tidak nen.
Di bulan pertama, berat badan Dira masih sama saat lahir. Tidak bertambah. Dira juga masih kuning walaupun tidak begitu parah. Di mata, sedikit area wajah tidak sampai ke perut dan kaki. Tidak perlu fototerapi. Newborn fungsi hatinya belum sempurna jadi bisa saja bayi kuning diawal. Dokter menyarankan untuk terus disusui saja dan rutin dijemur. Pokoknya, jika ada hal-hal aneh pada Dira, langsung ke dokter. Maklumlah anak pertama.
Sebelum tiba di RS, selalu ku siapkan catatan bagaimana Dira selama bulan ini agar tidak lupa saat bertemu dokter. Saat kontrol, selain Dira imunisasi pertama, saya juga diminta praktek menyusui Dira dan selama ini cara saya salah. Mungkin itu pengaruh Dira merasa tidak kenyang hingga berat badannya tidak bertambah.
Baik, itulah evaluasi bulan pertama. Perbaiki cara menyusui, berjemur dan harus lebih tenang mengahadapi Dira















