Kumpulan Cerita Dongeng Terpopuler - IstanaCerita.com
Cerita Dongeng – Dongeng adalah salah satu bentuk dari sastra lama yang di dalamnya menceritakan tentang sebuah kejadikan luar biasa yang dipehuni khayalan atau fiksi. Masyarakat menganggap dongeng sebagai hal yang tidak benar-benar terjadi. Ia menjadi salah satu bentuk cerita khas tradisional yang disampaikan oleh nenek moyang secara turun temurun.
Cerita Dongeng Si Kancil, Tikus dan Harimau
Pada suatu masa, di tengah hutan terdapat seekor tikus yang tengah asyik bermain. Ia bernyanyi dan berkeliling sangat riang. Sehingga ia tidak menyadari bahwa sudah sangat jauh dengan rumah. Sesudah sangat jauh dari rumah, sang tikus pun baru sadar. Ia pun langsung memilih untuk pulang ke rumahnya namun ia malah tersesat di hutan. Ketika ia sedang dalam keadaan bingung mencari jalan pulang, ia justru terjebak di sarang harimau. Ia menyaksikan ada harimau jantan yang tengah tidur lelap dan si tikus pun merasa ketahkutan. Karena saking paniknya melihat harimau, ia berlari dan tanpa sengaja menginjak kaki harimau. Akhirnya harimau terbangun dah marah karena terganggu istirahatnya. Tikus tersebut akhirnya ditangkap dengan kukunya yang tajam. Ia pun berusaha melepaskan diri dan memohon kepada harimau untuk melepaskannya. Namun sang harimau tetap saja tidak mau melepaskan tikus tersebut dan berkata bahwa ia merasa sangat marah apabila ada yang mengganggunya. Tidak begitu jauh dari tempat tersebut, terdapat seekor kancil yang tengah minum di tepi sungai. Ia terkejut melihat kejadian itu. Dan basa basi kepada harimau. Namun harimau justru malah ingin memakan kancil. Namun, dengan cepat ia berkata, “Kenapa aku harus takut kepadamu sementara aku adalah raja hutan di sini. Jika kau tidak percaya, tanyalah langsung kepada penasihatku. Penasihatku adalah orang yang saat ini ada di dalam cengkramanmu. Ia adalah penasihat yang amat disegani di hutan ini. Maka aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi apa-apa dengan penasihatku” Harimau pun terpengaruh oleh ucapan si kancil. Harimau kemudian bertanya kepada tikus kebenaran yang dikatakan oleh kancil. Dan tikuspun sadar bahwa kancil berbohong untuk menolongnya. Ia pun berkata, “Ia benar, kancil adalah saja hutan ini. Dan aku menjadi penasihat dia. Kancil sangat ditakuti dan disegani di hutan ini oleh seluruh binatang. Apabila tidak percaya, silahkan bertanya langsung kepada seluruh hewan dihutan ini” Harimau akhirnya takut dengan ucapan tikus namun tetap saja tidak menunjukkan rasa takutnya. Akhirnya, kancil pun kebingungan bagaimana cara untuk membuktikan kekuatannya kepada harimau. Akhirnya ia berusaha tenang dengan kepandaiannya sekalipun sesungguhnya ia merasa takut. Ia pun berkata bahwa ia baru saja mengalahkan harimau sebesar harimau tersebut. Dan itu membuat harimau merasa sangat takut. Ia pun meminta kancil untuk membuktikan perkatannya bahwa kepala harimau yang dia habisi masih ada di pinggiran rungai. Akhirnya, kancil membawa harimau ke sumur yang gelap dan dalam. Namun ia tidak nampak karena ada pantulan dari sinar matahari. Ia pun diminta untuk melihat kepala harimau di dalam sumur. Alhasil, ia pun mengintip dan ternyata kepala harimau itu benar-benar ada. Padahal sebenarnya di dalam sumur tersebut tidak ada apa-apa. Hanya saja harimau melihat cerminan kapalanya sendiri. Melihat hal itu, harimau langsung lari ketakutan dari berlari. Dan tikuspun bebas dari cengkraman harimau lantaran pertolongan dari kancil yang sangat cerdik itu.
Cerita Dongeng Asal Mula Ikan Duyung
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri dan ketiga anak mereka yang umurnya masih kecil. Pada suatu pagi, mereka memakan nasi dan ikan. Masing-masing mendapatkan bagian. Rupanya, ikan yang ada tidak habis dimakan dan suami pun memberikan pesan kepada istri, “Istriku, ikan yang tersisa ini siapkan untuk makanan nanti sore”. Ia pun mengiyakan pesan suaminya tersebut. Namun, pada saat makan siang, si bungsu tiba-tiba menangis dan meminta ikan yang disimpan untuk hidangan sore nanti. Sementara suaminya masih di kebun. Ia pun memberikan pengertian kepada sang anak bahwa ikan tersebut untuk makanan ayah nanti sore. Namun, si bungsu justru menangis dengan sangat keras. Akhirnya, sisa ikan tersebut ia berikan kepada si bungsu dan tangisnya pun menjadi berhenti. Namun, sesudah bekerja di kebun selama seharian, sang suami pulang dengan keadaan lapar dan lelah. Ia membayangkan akan makan sore menggunakan ikan. Dengan sangat cepat, sang istri menghidangkan makanan untuk ayah. Akan tetapi, ayah tidak mendapati sisa ikan yang tadi pagi. Ia pun berubah raut mukanya menjadi masam. “Ia bertanya, “Istriku, mana ikan yang tadi pagi masih sisa?”. Sang istri menjawab “Maafkan aku suamiku, saat makan siang tadi, anak kita si bungsu menangis dan merengek minta makan ikan”. Bukannya memahami watak anaknya, suami justru marah besar. Sejak itu, sang istri dipaksa untuk mencari ikan di lautan. Tanpa belas kasihan sang suami berkata, “Engkau jangan pernah pulang ke rumah sebelum memperoleh ikan yang banyak sebagai ganti dari ikan yang sudah dimakan tadi”. Akhirnya, sang istri pun pergi dengan sangat sedih dan merasa sakit hati dengan sang suami. Ia sangat berat meninggalkan ketiga anaknya, terlebih si bungsu yang masih menyusu. Lama ibunya tak kunjung pulang, ketiga anaknya sangat rindu kepadanya. Akhirnya mereka mencari ibunya ke laut. Namun mustahil bisa menemukan ibunya karena tidak ada satu orang pun di sana. Namun, tiba-tiba ibunya datang dan menyusui anak bungsunya. Ia pun memerintahkan kepada ketiga anaknya untuk pulang dan ia berjanji akan segera kembali. Namun, karena sang ibu tak kunjung kembali, mereka mencari ibunya ke laut. Akhirnya bertemu dengan sosok perempuans setengah sisik yang kemudian menyusui si bungsu. Namun, tiba-tiba nampak ada perubahan pada ibu mereka. Ada sisi di setengah tubuhnya. Mereka pun berkata, “Kau bukan ibuku”. Sekalipun ia sudah menjelaskan, tetap saja mereka tidak mengakui sebagai ibu. Dan ketika mereka memanggil manggil nama ibunya, yang muncul adalah perempuan sama yang setengah badannya bersisik. Akhirnya merekapun meninggalkan laut tersebut karena merasa tak kunjung menemukan ibunya.
Cerita Dongeng Si Belang, Si Botak dan Si Buta
Terdapat tiga sosok dari Bani Israil, yakni si belang, si botak dan si buta. Suatu hari, Allah hendak menguji mereka bertiga. Dia pun mengutus Malaikat kepada si belang. Akhirnya sang Malaikat bertanya “Apa yang amat engkau inginkan dalam hidup?” “Penyakitku disembuhkan dan aku akhirnya memiliki kulit indah supaya tidak ada lagi orang yang jijik saat melihatku” Jawab si belang. Akhirnya Malaikat tersebut mengusap si belang dan cacatnya tersebut langsung hilang, bercahaya dan bersih. Kemudian, Malaikat tersebut kembali bertanya, “Jenis binatang apa yang paling bisa menyenangkan hatimu?” Si belang pun menjawab “Unta”. Kemudian Malaikatpun memberikan seekor unta hamil dan berdo’a “Semoga Allah memebrkati atas apa yang kau punya”. Sesudah itu, Malaikat pun mendatangi si botak dan menyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang paling engkau inginkan?”. Si botak pun menjawab, “Rambut yang indah”. Kemudian, sang Malaikat mengusap kepala si botak dan secara tiba-tiba kepalanya tumbuh rambut yang amat indah. Kemudian Malaikat kembali bertanya, “Binatang apa yang amat menarik hatimu?”. Ia menjawab “Sapi”. Akhirnya, Malaikat tersebut memberikan seekor sambil hamil dan berkata “Semoga Allah memberkahi harta yang engkau miliki”. Dan terakhir, sang Malaikat mendatangi si buta dan bertanya,”Apa yang paling engkau inginkan?”. Si buta pun menjawab, “Aku ingin bisa melihat kembali supaya bisa menyaksikan orang-orang”. Sang Malaikat akhirnya mengusap matanya dan secara langsung ia bisa melihat kembali. Malaikat melanjutkan, “Binatang apa yang bisa membuatmu senang?”. Si buta pun menjawab, “Kambing”. Malaikatpun memberikan kambing hamil dan mengucap salam perpisahan kepada si buta. Seiring berjalannya waktu, binatang yang mereka miliki berkembang dan beranak pinak dengan sangat cepat juga sehat. Anaknya pun juga sangat banyak. Kemudian, Malaikat kembali mendatangi mereka untuk menguji di dalam bentuk berbeda sesuai dengan perintah Allah. Malaikat mendatangi si belang dan berkata, “Aku adalah orang yang malang. Aku kehabisan bekal perjalannya. Dan tidak ada satupun orang yang menolongku selain engkau dan Allah. Maka tolong aku”. Si belang pun menjawab, “Urusanku amat banyak dan aku tidak bisa memberimu apa-apa”. Malaikatpun menimpal “Nampaknya aku mengenalmu. Engkau adalah orang yang dulunya memiliki penyakit belang sehingga orang menjadi jijik kepadamu. Engkau dulunya adalah orang miskin yang ditolong oleh Allah” “Bukan, aku bukan orang miskin, aku mewarisi harta yang dimiliki oleh nenek moyangku” tegas si Belang. Malaikatpun menjawab, “Apabila engkau berkata dusta, maka Allah tentu akan membuatmu kembali lagi sebagaimana dahulu”. Lalu Malaikatpun mendatangi si botak dan memohon bantuan sebagaimana yang ia lakukan kepada si belang. Namun, si botak memberi jawaban yang serupa dan Malaikat juga memberikan pernyataan yang sama. Sesudah itu, Malaikat mendatangi orang terakhir, yaitu si buta. Ia menyampaikan pertolongan seupa. Dan buta menjawab dengan sangat tulus, “Sesungguhnya aku dulu adalah seorang yang buta. Kemudian Allah mengembalikan penglihatanku lagi. Maka ambilah apa yang engkau sukai dan tinggalkan apa yang engkau tidak suka. Karena semua ini hanyalah titipan dari Allah” Akhirnya, sang Malaikatpun tersenyum dan berkata “Aku adalah Malaikat yang hendak mengujim. Allah sangat senang kepadamu dan sangat murka kepada kedua temanmu”
Cerita Dongeng Kancil Lomba Lari dengan Siput
Cerita di bawah ini menceritakan tentang seekor kancil sombong yang mengajak siput untuk berlomba lari lantaran siput memiliki kebiasaan berjalan lambat. Berikut cerita lengkapnya. Pada suatu masa di dalam sebuah hutan, terdapat seekor kancil yang tengah berlarian. Kemudian, ia tidak senjaga bertemu dengan seekor siput yang ada di pinggir sungai. Kancil yang sangat sombong tersebut pun meledek tikus lantaran siput hanya mampu berjalan lambat sementara kancil bisa berlari-lari sesuka hatinya. Dengan sangat angkuh, akhirnya si kancil pun berkata kepada siput, “Hai siput, apakah kamu berani beradu balapan lari denganku?” Ucap kancil dengan nada sombong dan dia tahu bahwa sang siput sudah pasti akan menolak lantaran tidak pernah mungkin menang mengalahkan sang kancil. Namun, yang terjadi adalah di luar dugaan, ternyata siput tersebut menerima tantangan si kancil. Akhirnya, keduanya membuat kesepakatan dan menentukan hari tanding mereka yang akan balapan lari. Akhirnya, semua sepakat dan si kancil pun tidak sabar menunggu hari H dimana perlombaan tersebut digelar. Selama menunggu hari perlombaan, akhirnya siput mengatur suatu strategi. Siput mengajak teman sesame siput yang lain untuk berkumpul dan menceritakan perihal tantangan dari si kancil yang mengajak lomba lari dengan angkuh dan sombong. Akhirnya, mereka pun mendiskusikan sesuatu agar berhasil menang di dalam pertandingan tersebut. Strateginya adalah, di sepanjang tepi sungai, para siput harus berbaris dengan rapi dan ketika sang kancil memanggil, maka yang ada di tepi tersebut harus menjawab si kancil. Begitu seterusnya sampai di garis finish. Akhirnya, saat yang dinanti-nanti pun tiba. Hampir seluruh penghuni hutan datang untuk menyaksikan pertandingan balap lari antara si kancil dengan siput. Keduanya pun sudah siap berdiri sama di garis start dan perlombaan siap dimulai. Pemimpin adu lari bertanya kepada keduanya “apakah kalian sudah siap?” . Keduanya pun menjawab “Siap”. Maka pemimpin adu lari tersebutpun mengatakan “Mulai!”. Keduanya spontan berlari. Dan si kancil langsung berlari dengan memakai kekuatan penuhnya. Dan sesudah beberapa jarak berlari, kancil pun merasa kelelahan. Nafasnya pun mulai tak karuan dan terengah-engah. Ia pun berhenti sejenak di jalan sembari memanggil sang siput. “Put siput” Ujar kancil. “ya aku di sini” jawab siput sembari berjalan dengan lamban di hadapan sang kancil. Si kancil pun merasa kaget lantaran siput tersebut sudah ada tepat dihadapannya. Ia pun tidak jadi istirahat dan langsung bergegas berlari sekuat tenaga. Ia pun merasa sangat lelah dan mulai kehausan. Nafasnya seperti hampir habis dan terengah-engah. Saat itu, ia kembali memanggil sang siput. Saat itu, kancil mengira bahwa siput masih ada di belakang dia. Padahal ternyata siput tersebur sudah ada di depannya. Siput puh menjawab sebagaimana strategi yang diatur sebelumnya. Melihat hal tersebut, akhirnya kancil pun kembali berlari. Hingga akhirnya ia merasa sangat lelah dan tidak kuat lagi. Alhasil, ia pun menyerah kepada siput. Semua penghuni hutan merasa terkejut kancil bisa mengalah kepada siput. "Pesan yang disampaikan dari cerita diatas adalah jangan memandang remeh orang lain" Read the full article











